Sosok

Mengenal Sosok KH Raden As’ad Syamsul Arifin, Pelaku Bedirinya Nahdlatul Ulama (NU)

Padasuka.id.- KH Raden As’ad Syamsul Arifin, adalah penyaksi dan pelaku sejarah bedirinya Nahdlatul Ulama (NU), terutama yang berkaitan dengan “restu’ Syaikhona KHolil Bangkalan terhadap KH Muhammad Hasyim Asy’ari. Selain sebagai tokoh NU, Kiai As’ad adalah pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukerejo, Asembagus, Situbobdo, Jawa Timur, dan seorang pejuang kemerdekaan RI.

 Membahas kisah hidup Kiai As’ad, untuk kita teladani, tentu sangat banyak; namun dalam tulisan ini, akan diurai salah satunya saja, yakni tentang keteguhan beliau dalam menjaga amanat gurunya. Kisah yang dimaksud adalah penuturan beliau langsung dalam sebuah ceramah berbahasa Madura, mengenai tugas yang diamantkan oleh gurunya, Syaikhona Kholil, saat mengantarkan tongkat dan tasbih terhadap KHM Hasyim Asy’ari.

Ketika Kiai As’ad mondok di pesantren Syaikhona Kholil, di daerah Demangan, Bangkalan, Madura, pada suatu hari di tahun 1924 M, Syaikhona  memanggil dirinya, untuk kemudian ditugasi mengantarkan tongkat pada Kiai Hasyim Asy’ari, di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Beberapa bulan berikutnya, pada akhir tahun 1924, Kiai As’ad dipanggil lagi oleh Syaikona. Kali ini, beliau ditugaskan kembali menemui Kiai Hasyim untuk mengantarkan tasbih.

Begitu tawadhu’nya, tasbih tersebut tidak beliau pegang, melainkan meminta Syaikhona untuk mengalungkan pada lehernya. Ketika tasbih itu akan diserahkan, beliau berkisah: “Saya lepas kopiah. Lalu saya julurkan leher… ‘Kok lehermu yang dijulurkan…?’ (Tanya Syaikhona, Rd.) ‘Mohon diletakkan di leher saja, Kiai. Takut jatuh…’ ‘Ya, sudah,’ (jawab Syaikhona, Red.) Lalu dikalungkan. Jadi, saya berkalung tasbih. Masih muda sudah berkalung tasbih. Kemudian, saya berangkat lagi (ke Tebuireng, Red).”

Yang luar biasa dalam hal ini—untuk kepribadian Kiai As’ad—adalah sikap tawadhu’ dan memegang teguh pada amanat. Karena begitu hati-hatinya dalam mengemban amanat guru, meskipun Kiai As’ad, oleh Syaikhona dibekali uang untuk ongkos dan makan-minum selama di perjalanan, beliau malah berpuasa. Hal itu beliau lakukan, baik ketika mengantar tongkat atau pun ketika mengantar tasbih. Bukan hanya berpuasa dari makan dan minum, tetapi beliau juga puasa bicara. Maka itu, ketika perjalanannya sampai di Suranaya, tepatnya di Ampel, orang-orang Arab Ampel mengomentarinya. Karena, dalam perjalanan yang pertama beliau membawa tongkat, terus yang kedua berkalung tasbih, sementara usia beliau masih sangat muda.

Seraya menirukan komentar orang-orang waktu di Ampel, Kiai As’ad menceritakan: “Ooh, hadzaa dzakar awwal… (ini lelaki yang dulu itu). Yang sebelumnya membawa tongkat… Sekarang malah berkalung tasbih. Waduuh… Ini benar-benar orang gila.” Tapi ada juga yang bilang (saya ini) wali… (Mungkin mereka) mau bertanya pada saya, tapi saya tidak bisa jawab. Sebelum saya bertemu Kiai (Hasyim Asy’ari), saya tidak akan bicara dengan siapa pun…”

Dalam memaparkan kisahnya, Kiai As’ad menegaskan: “Membawa amanat Kiai itu (tidak mudah). Saya takut nyeleweng… Apalagi (membawa) amanat Rasulullah, lah kok dibawa nyeleweng… Membawa amanat guru saja, saya tidak berani sembarangan. Saya berpuasa, mulai dari pondok (Bangkalan, Red.) sampai ke kediaman Kiai (Hasyim Asy’ari) di Tebuireng itu, saya tidak makan; tidak minum; tidak merokok. Maka itu (uang yang dikasih Kiai) sama sekali tidak dipakai…”

Singkat cerita, ketika sudah sampai di Tebuireng, Kiai As’ad menuturkan dialognya. “Kiai (Hasyim) lalu menanyakan pada saya, ‘Ada apa, Nak?’ ‘Ini… Saya disuruh mengantarkan tasbih…’ (Kiai Hasyim menjawab, Red.): ‘Masya Allah… Masya Allah… Kiai… Masya Allah…! Saya disayang betul oleh guru saya! Mana tasbihnya?’ (Kiai As’ad menjawab, Red.): ‘Ini, Kiai… Iya ini, saya kalungkan…’ (Kiai Hasyim berkata, Red.): ‘Ambilkan…!’ (Kiai As’ad menjawab, Red.): ‘Tidak, Kiai… Kiai saja yang mengambilnya! Saya, mulai dipasangkan ke leher, sampai saat ini tidak menyentuhnnya sama sekali. Saya takut tidak sopan sama guru. Karena amanatnya ke Kiai, lah kok malah saya mau megang milik Kiai…’ Kemudian (tasbih itu) oleh beliau diambil, lalu diletakkan.”

Setelah tasbih itu diambil, Kiai Hasim bertanya mengenai pesan Syaikhona. Kiai As’ad menjawab, bahwa sebelum tasbih itu diserahkan (dikalungkan), oleh Syaikhona unjungnya dipegang lalu diputar tiga kali; setiap masing-masing putaran dibacakan kalimat Ya Jabbar. Kemudian diputar lagi tiga kali, dan setiap masing-masing putaran untuk yang kedua, Syaikhona melafalkan kalimat Ya  Qohhar.

Atas penjelasan itu, terang Kiai As’ad, dengan suara berat Kiai Hasyim berkata: “Siapa yang berani sama NU, hancur! Karena Jam’iyatul Ulama,’ (mereka yang berani) hancur…!”

Berkaitan dengan pernyataan Kiai Hasyim setelah mendengar penjelasan Kiai As’ad tentang kalimat Ya Yabbar dan Ya Qahhar, sebagaimana diungkap di atas, beberapa kiai menafsirkan, bahwa kita tidak boleh sembarangan terhadap NU. Satu misal, KHR Abdurrazzaq Shidqan,  menuturkan, “NU itu adalah jam’iyah yang didirikan oleh para ulama dengan proses spiritual semacam istikharah dan tirakat. Maka, NU adalah organisasi yang keramat. Dengan begitu, NU itu ada barokahnya sekaligus juga ada tulahnya; macem-amcem bisa kuwalat.”

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top