Kolom

Ketika Fakta Bicara, Nasabnya Kemana?

Oleh Muhammad AR
Wapemred Padasuka.id

Terbongkarnya kasus narkoba atas diri Dhawiya Zaida, beserta tunangan dan kedua kakaknya (16/2/2018), pada pukul 00.30 WIB, di rumahnya, Jl. Usaha, Cawang, Jakarta Timur, selain menambah panjang daftar pecandu narkoba, juga memunculkan sorotan lain. Yakni, tentang kemargaannya sebagai keluarga habaib. Beredar artikel di media sosial, bahwa Dhawiya adalah seorang “Syarifah,” istilah bagi kaum wanita keluarga habaib atau Alawiyyin. Dikatakan, almarhum suami Elvy Sukaesih adalah seorang habib, yakni: Al-Habib Zaidun Zeidh bin Abu Bakar Jindan. Mengenai hal ini, Ummi Elvy, sapaan akrab sang Ratu Dangdut, dalam acara Kiss Sore, Indosiar, saat haul ke-14 sang suami (dipublikasikan di YouTube, 5 Mei 2016), juga menyebut nama suaminya: Habib Zeidh bin Abu Bakar Jindan.

Dhawiya (Syarifah), Putri Dari Ratu Dangdut Terjerat Narkoba

Lantas, apa kaitan kasus Dhawiya dengan status Syarifahnya, atau status Habib bagi kedua saudara dan tunangannya, sehingga menjadi sorotan? Antara lain berkaitan dengan klaim dari sebagian kalangan habaib sendiri, bahwa mereka adalah Ahlul Bait Nabi SAW –ada juga yang hanya sebatas mengaku sebagai dzurriyah (keturunan) Nabi Muhammad SAW. Mengenai klaim ini, bermunculan di berbagai media, yang ditambah pula dengan klaim kemuliaan golongan habaib melebihi golongan yang lain. Sebagai contoh, penulis ketengahkan sebagian dari klaim tersebut, yang beredar di media sosial, seperti berikut ini:

“Al-Habib Abdullah bin Abdul Qodir Bilfaqih, Malang, dalam sebuah majlis ta’lim beliau berkata: “Satu Habib yang alim, itu bandingannya sama dengan 1000 Kiai yang alim. Siapa saja Kiai yang meninggal dunia dalam keadaan membenci Habib Dzurriyah Nabi, maka dia tidak akan masuk surga. (haram surga baginya).”

Dalam sebuah artikel yang dikatakan sebagai pernyataan dari seorang kiai di Pasuruan, dipaparkan: “Bila ada habib yang kelakuan dan perbuatannya aneh tidak berakhlak dan bejad, tetap hormati dan muliakan, jangan sampai anda membenci atau menghinanya, karena semua habib yang demikian tadi ketika mau meninggalnya akan diberi hidayah dan bertaubat kepada Alloh Swt, ibarat kita sebagai orang awam sama para habaib seperti keset lantai, maka jangan sampai membenci dan jangan su’udzon, karena di dalam jasadnya mengalir darah Nabi Muhammad SAW”

Kecuali dua klaim di atas, mengenai kemuliaan habaib, juga ada yang digubah dalam untaian syair berbahasa Arab, seperti berikut ini:

فَــلِعَـالِمٍ شَرَفُ الْعُــلُوْمِ إِذَا عَــمِلْ
لـِحَبِــيْبِنَا شَــرَفٌ وَإِنْ لَمْ يَـــعْــلَمِ

Orang alim punya kemuliaan ilmu, jika mengamalkan ilmunya
Seorang habib juga punya kemuliaan meski dia tidak alim

شَــرَفُ انْـتِسَابٍ لِلرَّسُـــوْلِ الْأَكْبَرِ
فَــاقْرَأْ فَــتَاوَى لِلْإِمَــامِ الْهَــيْتَمِي

Yaitu kemuliaan bernasab sambung kepada Sang Rasul
Bacalah kitab Fatawa Ibnu Hajar al-Haitamiy

وَجَــرَى خِـلَافٌ بَيْنَهُمْ مَنْ أَفْــضَلُ؟
فَاسْـمَعْ أَخِي إِنْ كُنْتَ تَـعْقِلُ أَوْ نَــمِ

Ada perbedaan antara ulama, siapa yang lebih utama (habib atau orang alim)?
Dengarkanlah wahai saudaraku, jika kau mau berfikir, atau (jika tak mau ya) tidur saja

إِنَّ الْحَـبِيْبَ وَإِنْ يُـــجَــنُّ حَــبِيْبُ
وَالْعَــالِمُ الْمَــجْنُوْنُ لَيْسَ بِـــعَــالِمِ

Sesungguhnya habib tetap habib meski dia gila
Tapi seorang orang alim jika gila, tak lagi disebut alim (karena ilmunya hilang).

Fahri Albar, Golongan Habib Yang Terkena Narkoba

Nah, mencermati papaparan di atas, yang intinya kemuliaan mereka bertumpu pada nasab atau keturunan, jika dikaitkan
dengan kenyataan yang terjadi, seperti dilakukan oleh Syarifah Dhawiya Zaida; Habib Muhammad, tunangannya; serta kedua kakaknya, Habib Syehan dan Habib Ali Zainal Abidin; maka dapat dipertanyakan tentang klaim kemuliaan tersebut. Masihkah akan dinilai sebagai sosok mulia bagi mereka yang terbukti telah melanggar hukum, hanya karena dianggap sebagai dzurriyah Nabi? Sedangkan Nabi sendiri, berkata tegas kepada puterinya, Sayyidah Fathimah, agar jangan sampai melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

Masih seputar kasus narkoba, beberapa hari sebelumnya (Rabu 14/2), Fachri Albar, juga ditangkap aparat dengan barang bukti sabu dan lainnya. Jika merujuk pada marganya, Albar, maka ia adalah seorang habib. Sebagaimana tertera dalam laporan Van den Berg (1886 M), marga Albar adalan bagian dari kaum sayyid (habib) Hadramaut yang bermigrasi ke Nusantatara pada abad ke-19 M. Bukan hanya Fachri, sang ayah, Ahmad Albar, pada 2007 lalu juga tersandung kasus narkoba.

Diskotik Tanamor, Diskotik Pertama di Indonesia bahkan  Asia, Pendirinya Habib Ahmad Fahmi Al-Hadi

Bukan hanya narkoba, diskotik Tanamor, sebagai diskotik pertama di Indonesia, bahkan di Asia, pendiri dan pemiliknya adalah seorang habib. Dialah Habib Ahmad Fahmi Al-Hadi. Diskotik yang dulu berdiri di daerah Tanah Abang, Jakarta Pusat tersebut, dibangun pada 1970. Setelah Tanamor, belakangan berdiri De Laila Cafe, sebuah diskotik dengan corak dan cita rasa Arabia.

Habib Rizieq Shihab dan Firza Hussain (Syarifah) Terjerat Chat Porno.

Jika hal-hal seperti diungkap di atas ini dipapar semua maka akan sangat banyak jumlahnya. Mungkin kita masih ingat dugaan kasus pencabulan oleh Habib Hasan bin Ja’far Assegaf terhadap belasan anak-anak lelaki yang menjadi jamaahnya. Atau, dugaan kasus chat sex, Habib Muhammad Rizieq Syihab dengan Firza Husein (juga seorang Syarifah) yang sampai sekarang masih menghangat. Kiranya, ini saja sudah cukup sebagai contoh.

Habis Hasan Diterpa Issu Pencabulan Terhadap Jamaah Laki-laki Lakinya

Uraian dalam artikel ini tidak ada maksud untuk merendahkan atau mencemooh beberapa nama habaib dan syarifah yang disebut. Melainkan, sebagai contoh saja, bahwa klaim kemuliaan karena keturunan (nasab), faktanya banyak yang tidak sealur dengan kepribadian atau kehidupan di antara mereka. Sementara di sisi lain, klaim tersebut cukup berhasil menggiring masyarakat pada titik pengkultusan terhadap siapa pun yang disebut habib, hingga akhirnya melahirkan sifat dan sistem feodal. Padahal, Nabi Muhammad SAW sendiri menyatakan: “Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi sesamanya.” Allah SWT juga menegaskan: “Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah di antara kalian yang paling bertakwa.” Intinya, kemulian seseorang bukan dinilai dari keturunan siapa, dari marga apa, atau dari suku bangsa mana.

4 Comments

4 Comments

  1. santri kanjeng sunan

    22 Februari 2018 at 9:16 am

    sesungguhnya yang paling mulia diantara kalian adalah yang paling taqwa diantara kamu

  2. BanDit

    22 Februari 2018 at 9:37 am

    Semoga akan tampak kebenaran yang nyata, bahwa dalam hal nasab bukanlah jaminan.

    • julian

      28 Maret 2018 at 11:04 pm

      kereen jatohkan terus habaib fitnah dan sebarkan usir mereka dari indonesia NKRI bukan tempat mereka.

  3. julian

    28 Maret 2018 at 11:05 pm

    kereen jatohkan terus habaib fitnah dan sebarkan usir mereka dari indonesia NKRI bukan tempat mereka.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top