Munajat

Bukan Fiksi; Mereka Amalkan Kitab Suci

 

Dua pekan ini media massa dan media sosial banyak dihiasi oleh persoalan yang berkaitan dan dikaitkan dengan kitab suci. Mulai dari pernyataan bahwa kitab suci adalah fiksi, sampai terlontarnya istilah “Partai Allah” dan “Partai Setan” yang dirujukkan pada keterangan dalam Kitab Suci Al-Qur’an. Namun, gonjang-ganjing persoalan politik praktis dengan menyeret-nyeret kesucian kitab suci, agaknya tidak begitu berpengaruh terhadap sejumlah pengamal ajaran Kitab Suci Al-Qur’an.

Jum’at malam, 20/4/2014, di bilangan Jl H. Shibi, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, puluhan jamaah duduk bersimpuh dalam upaya menjalankan amanat kitab sucinya. Tanpa ada bentangan spanduk bertema acara, di teras depan sebuah rumah bait-bait Asma’ul Husna dialunkan. Tak lama kemudian, jamaah yang didominasi oleh kaum remaja ini memulai acara intinya. Ilham, sebagai pemandu acara, memulai acara intinya dengan mengirimkan hadiah surat Al-Fatihah. Berikutnya, dilangsungkan pembacaan wirid dan do’a yang terangkum dalam Kitab Munajat.

Tampaknya, mereka tidak memperdulikan besutan isu yang dikait-kaitkan dengan Kitab Suci Al-Qur’an yang tengah ramai diperbincangkan. Terbukti, mereka tetap menjalankan rutinitasnya sebagai pengamal amalan yang bersumber dari kitab suci agama Islam tersebut. Melalui firman-Nya dalam Al-Qur’an, Allah SWT memerintahkan kaum muslimin membaca Al-Qur’an, berddzikir, berdo’a, serta berbuat kebaikan, mereka telah menjalankan. Tidak terkecuali, jargon untuk kembali kepada Al-Qur’an dan As-Sunnah, pun mereka tengah jalankan. Pendek kata, beberapa bagian dari perintah Al-Qur’an secara bersamaan telah mereka jalankan. Nah, di sinilah salah satu keistimewaan mengamalkan Kitab Munajat, yang dalam pribahasa diibaratkan, “Sekali dayung dua pulau terlampaui.”

Hal menarik lainnya dari acara rutinan Majelis Munajat Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) di majelis ini adalah mayoritas usia jamaahnya. Di mana, sebagian besar dari mereka adalah kaum remaja putra dan putri. Bahkan, ada pula yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Apa menarikya? Dalam usia yang rentan dengan pergaulan dan kebiasaan menyimpang, mereka tetap menjaga rutinitasnya mengamalkan ajaran Al-Qur’an. Dan, mereka berada di alam perkotaan yang metropolis, bukan di dalam pesantren yang memang merupakan penpaan pendidikan agama.

Salah seorang anggota PADASUKA, Muhammad AR, yang kebetulan hadir dalam acara tersebut dan diminta untuk memberi sambutan, menyampaikan rasa bangganya.

“Saya merasa bangga dengan rutinitas ini, terutama terhadap adik-adik sekalian. Kebanggaan yang bukan berarti membangga-banggakan dalam konotasi yang berlebihan. Saya merasa bangga, karena Allah SWT pun bangga terhadap orang-orang yang berdzikir kepada-Nya di sebuah majelis serupa ini.” Ungkapnya sambil mengutip Hadits Nabi SAW yang artinya: “Tidaklah duduk suatu kaum di suatu majelis dengan berdzikir kepada-Nya, kecuali mereka dikelilingi oleh para malaikat dan diliputi rahmat, dan Allah menyebut mereka termasuk orang-orang yang berada di dekat-Nya.”

Berlatar belakang Hadits di atas, sudah sangat jelas, ada tiga poin yang telah diraih seseorang ketika melantunkan dzikir di suatu majelis. Dan poin yang ketiga, adalah pengakuan Allah SWT, bahwa mereka menjadi bagian dari kelompok yang dinyatakan berada di dekat-Nya.

“Banyak orang yang merasa bahagia dan bangga ketika ia diakui sebagai orang dekatnya orang besar, atau istilah lainnya sebagai ‘ring satunya’ tokoh tertentu. Nah, apa kita tidak merasa bahagia, jika kita diakui oleh Dzat Yang Maha Besar, sebagai bagian dari orang-orang dekat-Nya?” Ungkap Muhammad AR. Yang kemudian, di bagian akhir kata sambutannya menegaskan, bahwa adik-adik yang terlibat dalam majelis tersebut, meskipun masih remaja mereka telah menjadi bagian dari orang-orang yang peduli terhadap bangsa dan negaranya. Hal ini, urainya, terkait dengan beberapa do’a dalam Kitab Munajat yang secara khusus bertujuan untuk kemakmuran negara. (SM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top