Kabar

Intisari Islam Nusantara dalam Harlah Pagar Nusa ke-33

Padasuka.id- Jakarta Pusat. Kamis malam (3/1/2018) Pimpinan Pusat Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa, merayakan hari lahirnya (Harlah) yang ke-33. Badan Otonom NU yang membidangi ilmu bela diri tradisi, keatletan, dan olah batin ini didirikan di Jawa Timur pada 3 Januari 1986 oleh KH Abdullah Maksum Jauhari serta kiai-kiai NU lainnya bersama para tokoh pendekar. Acara yang dimulai dari pukul 20.00 WIB tersebut bertempat di Masjid An-Nahdlah (Gedung PBNU) Jl Kramat Raya, 164, Jakarta Pusat.

Dalam Harlah Pagar Nusa ke-33 ini mengusung tema: “Berkhidmah untuk Kiai; Setia kepada NKRI; Mengabdi Setulus Hati.”

Susunan acara Harlah, diawali dengan pembacaan Istighatsah An-Nahdliyah. Yakni rangkaian amalan (bacaan) yang berisi doa, shalawat, istighfar, dan kalimat-kalimat thayyibah lainnya yang menjadi salah satu amaliah kaum nahdliyyin. Usai pembacaan Istighatsah secara berjamaah, dilanjutkan dengan tahlil. Di dalam tahlil, selain untuk mendoakan para masyayikh, para pendiri bangsa, pendiri NU dan Pagar Nusa, juga dikhususkan kepada almarhum KH Makhtum Hannan (Mustasyar PBNU) yang haul keduanya berbarengan dengan acara ini.

Seusai tahlil, acara dilanjutkan dengan sambutan oleh Ketua Umum Pagar Nusa, Gus Muchamad Nabil Harun. Dalam kata sambutanya, antara lain ia menghimbau kepada seluruh jajaran pengurus dan anggota Pagar Nusa untuk selalu berbakti kepada kiai dan setia menjaga NKRI. Perjalanan panjang Pagar Nusa selama 33 tahun, sejak didirikannya, sudah banyak hal yang telah diperbuat oleh para pendiri dan para pendahulu; sebagai generasi penerus, lanjut Gus Nabil, pengurus dan anggota Pagar Nusa harus meneladani mereka. Dan, sedapat mungkin, berusaha berbuat yang lebih baik lagi ke depan.

KH. Ulil Absar Abdalla

Berikutnya, acara diisi dengan pengajian Kitab Ihya’ Ulumuddin (karya Imam Ghazali) oleh KH Ulil Absar Abdalla. Pada kesempatan ini, Gus Ulil, sapaan akrabnya, mengupas satu bagian di halaman 349 kitab tersebut, yakni tentang tata cara penyembuhan. Intinya, Imam Ghazali menerangkan, bahwa cara penyembuhan yang tepat adalah dengan menggunakan “sifat” terbalik dari penyakit yang mengidap. Di halaman itu diterangkan, jika ada orang terkena penyakit panas, maka mesti diobati dengan sesuatu yang bersifat sebaliknya, yaitu dengan ‘obat’ pendingin. Selain itu, harus pula sesuai dosis serta memahami karakteristik penyakitnya. Nah, kalimat ini mengandung muatan pesan berkaitan dengan akhlak. Dalam penyembuhan prilaku (penyakit masyarakat) kita harus menggunakan cara atau sifat kebalikannya. Misalkan, untuk menyembuhkan sifat keras (arogan) maka harus dengan kelembutan. Namun, harus dengan dosis yang tepat serta memhami karakternya. Jika tidak, niscaya kesembuhan tidak akan dicapai.

Ditambahkannya, dalam menyikapi satu persolan di masyarakat, tidak bisa disamaratakan penerapannya. Harus melihat latar belakang, dosis, serta karakteristiknya. Karena, tidak semua yang baik dapat diterima dengan baik pula, apalagi akan menghasilkan kebaikan. Dalam kata lain, kita tidak boleh bersikukuh pada sesuatu yang dianggap baik untuk diterapkan secara sama di segala lapisan untuk mencapai kebaikan. Maka itu, lanjut Gus Ulil, akibat cara menyamaratakan yang diterapkan oleh sekelompok orang di negeri ini, hasilnya bukan kesembuhan (kebaikan), tapi malah sebaliknya. Inti dari semua ini, tandasnya, adalah salah satu dari ajaran Islam Nusantara. Yakni ajaran Islam yang menggunakan jiwa tasawwuf dalam penerapannya, tidak kaku, memahami dosis serta kondisinya.

Di akhir kajiannya, Gus Ulil berpesan, agar Pagar Nusa dapat merawat dan menjaga Islam Nusantara.

Sementara itu, Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA, dalam Harlah Pagar Nusa ke-33 ini, menyampaikan berbagai hal penting terkait dengan keislaman, kebudayaan, kebangsaan, dan kepagarnusaan. Sebagai anggota Pagar Nusa dan sebagai warga NU, pesan Kiai Said, harus meneladani para kiai yang jelas kiprahnya dalam perjuangan agama dan bangsa ini. Karena, dari pribadi-pribadi seperti itu, kita bisa mencontoh keteguhan sikap, nasionalisme, dan lain sebagainya.

Ketua Umum PBNU, Prof Dr KH Said Aqil Siroj, MA (tengah – memakai baju batik)

Dalam pada ini, Kiai Said juga mengupas tentang luhurnya budaya dan akhlak bangsa Indonesia di atas bangsa-bangsa lain yang menjadi “infrastruktur” bagi Islam Nusantara. Menurutnya, di dalam beragama ada tiga komponen penting, yatu akidah, syariat, dan akhlak. Akidah dan syariatnya sama, tetapi dalam konteks akhlak (secara budaya) bangsa indonesia jauh lebih baik dari bangsa lain, termasuk bangsa Arab. Terkait dengan hal ini, beliau juga memberi berbagai contoh sebagai bahan analisa.

Sebagaimana Gus Ulil, Kiai Said juga berpesan kepada anggota Pagar Nusa, khususnya, dan warga Indonesia umumnya, agar senantiasa melestarikan dan menjaga keluhuran akhlak yang menjadi salah satu kelebihan bangsa Indonesia. (AR)

 

Editor : Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top