Kabar

Peran Eyang Satri Terhadap Kongres Pemuda dalam Catatan Sus Salamun

Padasuka.id,- Seperti diberitakan sebelumnya, penyiar wanita pertama Televisi Republik Indonesia (TVRI) saat Asean Games 1962 adalah Sus Salamun. Wanita yang saat ini berusia 88 tahun tersebut memiliki nama lengkap Raden Ayu Siti Partuti Suskandani Salamun. Ia adalah puteri Raden Mas Saparman Djojokoesoemo bin KPH Djojokoesoemo alias Kiai Muhammad Santri, atau lebih dikenal sebagai Eyang Santri. Dengan demikian Sus Salamun adalah cucu dari Eyang Santri, tokoh pejuang asal Mataram yang makamnya berada di lereng Gunung Salak (sekitar 800 mpdl), tepatnya di Desa Girijaya, Kecamatan Cidahu, Sukabumi, Jawa Barat.

Masa Muda Eyang Santri (Foto: Dok. R Ay Hj Ahdiyati)

Dalam satu catatannya, Sus Salamun menulis kisah perjuangan sang kakek yang dekat dengan kaum muda pejuang pada masa pra kemerdekaan Republik Indonesia. Kisah tersebut diperoleh dari keterangan ayahnya (RM Saparman) yang menyaksikan langsung peristiwanya. Catatan itu disimpan oleh R Ayu Hj Ahdiyati, adik seayah Sus Salamun, yang rumahnya bersebelahan dengan makam Eyang Santri.

Sus Salamun menjelaskan, menjelang diselenggarakannya Kongres Pemuda, sejumlah aktivis muda mendatangi Eyang Santri untuk meminta dukungan moral dan material. Meskipun saat itu sang kakek sudah sangat sepuh namun masih sehat serta memiliki gairah juang yang tinggi serta berpenghasilan tinggi pula dari lahan perkebunannya.

Sus Salamun saat menerima Anugerah Khusus Panasonic Gobel Awards 2018

Antara lain Sus Salamun menulis: “Penghasilannya sebagai petani merdeka atas tanah-tanah perkebunannya terus dipakainya menunjang kegiatan-kegiatan para pemuda dalam merintis kemerdekaan. Baik pada masa sebelum, pada masa dr Soetomo, maupun pada masa sesudah dr Soetomo bergerak. Masa terakhir ini adalah masa Soekarno, Moechammad Yamin, Kartono, Saparman Djojokoesoemo, Enoch Danubrata, dan masih banyak lagi para pemuda dan para orang tua untuk disebut satu persatu, untuk berbincang dan berembug menuju kemerdekaan bangsanya.”

Dijelaskan pula, pada masa itu, di mana ada kegiatan para pemuda untuk menunjang suksesnya kegiatan yang membutuhkan dana yang tidak sedikit, mereka selalu mengatakan, “Dan gan which maar naar de oude kiai” (Kita akan pergi ke kiai sepuh). Demikian para pemuda itu menyebut Eyang Santri dengan panggilan Kiai Sepuh.

Foto lama keluarga besar Eyang Santri (Dok. R Ay Hj Ahdiyati)

“Pada waktu itu diceritakan, bahwa Moechammad Yamin dan teman-temannya datang ke Girijaya, menguraikan maksud-maksudnya akan mengadakan Kongres Pemuda dan kekurangan dana untuk mewujudkan maksudnya tersebut. Kiai Santri, kecuali memberi restunya juga memberi uang sebesar 1000 gulden Belanda bagi dana tersebut yang ditargetkan 1500 gulden. Itulah salah satu cara tetap manunggalnya Kiai Santri pada akhir-akhir hayatnya, seperti yang dituturkan oleh satu-satunya putra laki-laki Kiai Muhammad Santri, Raden Mas Saparman Djoyokoesoemo, terlahir dari istri yang terakhir, Ratu Syarifah, yang cucu Pangeran Sake, asli dan asal Banten, pelawan Belanda yang dimakamkan di Citeureup, Cibinong, Bogor,” ungkap Sus Salamun dalam catatannya.

Beberapa buku dan dokumen tentang Eyang Santri

Mengenai ketokohan Eyang Santri, tercatat pula dalam buku “Kenang-Kenangan Dokter Soetomo.” Seorang Belanda, Paul W. van der Veur, dalam buku itu menuturkan, Eyang Santri yang saat itu sudah sepuh, kerap didatangi teosofis Belanda dan kaum pergerakan.

Pada halaman 169, antara lain Paul mengisahkan: “Pun Tuan D. van Hinloopen Labberton dan Ing. Meyl, keduanya kaum teosofie memperdekatkan dirinya, sehingga adakalanya saya dan teman-teman bersama-sama menghadap pada Kiai Santri, beginilah sebutan Tuan itu, menurut teman-teman kita yang besar pengaruhnya itu. Di situ dapatlah diketahui yang adalah beberapa Bupati dari bagian barat yang meminta advis padanya, bagaimanakah seharusnya mereka itu bersikap terhadap pergerakannya anak-anak muda itu.”

R Ay Hj Ahdiyati memperlihatkan salah satu foto Eyang Santri

Ringkasnya, Paul menuturkan, bahwa Kiai atau Eyang Santri adalah tokoh yang dihormati dan kerap dimintai pendapat serta restunya oleh banyak kalangan, mulai dari kaum santri, pejabat (ambtenar) sampai kaum pergerakan dari berbagai wilayah termasuk dari Batavia. Sehingga, walau keberadaan Kiai Santri jauh dari penduduk, namun menjadi salah satu pusat untuk mencari informasi tentang berbagai hal, bagi Paul dan rekan-rekannya. (AF)

 

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top