Kabar

Dari Sunan Gunung Jati Hingga Syaikh Abdur Rauf; Jejaki Tilas Perjuangan

Padasuka.id,- Pekan lalu, santriwan dan santriwati Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Pamulang, Tangerang Selatan, Banten, melakukan ritus perjalanan; menziarahi makam para pejuang Islam dari Jawa Barat hingga Jawa Timur. Jadwal perjalanan dari pesantren dimulai dari hari Rabu pagi, 13 Maret, hingga tiba lagi di pesantren pada hari Minggu pagi, 17 Maret 2019.

Saat akan memasuki komplek makam Sunan Kudus

Adapun rute perjalanan ziarahnya, diawali dari makam Sunan Gunung Jati, di daerah Cirebon, Jawa Barat. Dari Jawa Barat rombongan santri ini lalu menuju ke Jawa Tengah. Yang pertama, mereka berziarah ke makam Sunan Kalijaga, di Kadilangu, Kabupaten Demak. Kedua, ziarah ke makam Sunan Kudus, yang terletak di Desa Kauman, Kecamatan Kota, Kabupaten Kudus. Dan yang ketiga, berziarah ke makam Sunan Muria, yang terletak di lereng Gunung Muria, Desa Colo, Kecamatan Dawe –masih termasuk Kabupaten Kudus.

Saat ziarah di makam Sunan Muria

Dari Jawa Tengah kemudian menuju ke beberapa daerah di Jawa Timur. Di mana, jadwal ziarah disesuaikan dengan rute perjalanan bus dari arah Jakarta, yakni dimulai dari makam Sunan Bonang di Tuban, Sunan Drajat di Lamongan, Maulana Malik Ibrahim dan Sunan Giri, keduanya berada di daerah Gresik. Dari Gresik lalu berlanjut ke Surabaya untuk berziarah ke makam Sunan Ampel yang memiliki nama asli Raden Rahmat, seorang ulama pembentuk gerakan dakwah Islamiyah yang dikenal dengan “Wali Songo.”

Saat ziarah di makam Sunan Bonang

Dari Surabaya, rombongan santri ini berlanjut ke Pulau Madura. Setelah melintasi jembatan terpanjang di Asia Tenggara, Suramadu, mereka lalu menuju ke Kota Bangkalan, tepatnya ke daerah Mertajasah untuk berziarah ke makam KH Muhammad Cholil bin Abdul Lathif atau yang lebih dikenal dengan sapaan Syaikhona Cholil Bangkalan. Tokoh ini adalah ulama penentu berdirinya Nahdlatul Ulama (NU) yang sekaligus juga sebagai guru dari sejumlah pendiri organisasi sosial keagamaan terbesar tersebut.

Setelah dari Madura, rombongan kembali bertolak ke Jawa Tengah. Kali ini mereka menziarahi bukti kebesaran peradaban leluhur bangsa Indonesia pada abad ke-8 Masehi yang menjadi salah satu keajaiban dunia, yakni Candi Borobudur, yang terletak di daerah Magelang.

Di Magelang, selain menikmati kemegahan dan keindahan candi yang dibangun di masa wangsa Syailendra yang menyimpan banyak nilai pendidikan tersebut, rombongan santri ini juga berkunjung ke salah seorang jamaah Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), yakni ke Ustadz Sidiq. Di kediaman Ustadz Sidiq mereka beristirahat serta melakukan aktifitas lainnya.

Dari Magelang, rombongan santri ini lalu melanjutkan perjalanan ke daerah Wonokromo, Jogjakarta. Di sini, mereka berziarah ke makam Syaikh Abdur Rauf, seorang ulama yang menjadi mursyid Thariqah Syathariyah.

Sebagai informasi tambahan, Syaikh Abdur Rauf adalah leluhur dari pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Ummul Qura, KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA. Dengan demikian, para santri ini telah bertawassul, berdoa, dan berupaya menyambungkan tali batin dengan leluhur pengasuh pesantren tempat mereka menimba ilmu. Oleh karenanya, menurut pengakuan Fatih, salah seorang peserta ziarah, walaupun di semua lokasi ziarah merasa berkesan, namun saat berziarah di makam Syaikh Abdur Rauf, merasakan satu kesan yang berbeda.

“Semua tempat memiliki kesan tersendiri, tapi yang paling berkesan menurut panitia adalah mampir di leluhur Abi (KHR Syarif Rahmat, Red.) di daerah Wonokromo, Jogjakarta. Yang pada awalnya tidak dijadwalkan sehingga sempat salah satu supir bus kurang setuju. Karena waktu sewa bus masih lama maka akhirnya mau juga. Entah kenapa, saat ziarah di makam Syaikh Abdur Rauf, ada kesan yang berbeda,” tutur Fatih.

Fatih, salah seorang panitia ziarah

Ditanya apa ada kendala dalam perjalanan, menurut Fatih, salah satu armada busnya sempat mengalami masalah.

“Saat perjalanan ke Sunan Bonang, mengalami masalah busnya. Salah satu fan belt-nya rusak di daerah pinggir Pantai Lasem, Jawa Tengah. Tapi tak lama kemudian bisa diatasi, hingga perjalanan bisa dilanjutkan kembali,” ungkap Fatih.

Masih menurut Fatih, ziarah makam Wali Songo dan para ulama lainnya merupakan salah satu agenda tahunan bagi santri Ummul Qura. Pada tahun ini total pesertanya berjumlah 176 orang, meliputi santri putri 92 orang, santri putra 57 orang, pengurus putra 12 orang, dan pengurus putri 15 orang. Sebagai pemimpin ziarah kali ini, lanjut Fatih, adalah Ustadz Muhammad Soim, SQ, M.Ag, seorang pengajar dan pengurus di Ummul Qura.

Ditanya apakah ada kendala bagi para peserta? Fatih mengungkapkan, semua anggota rombongan dalam kondisi sehat, aman, dan nyaman. Semuanya merasa berkesan karena banyak hal yang diraih secara spiritual di dalam mereka berziarah. (SM)

Ust. Muhammad Soim, paling kiri, bersama sebagian rombongan saat akan beristirahat di rest area

Gus Arif Adha, salah seorang panitia saat menaiki tangga bukit Muria

Sejumlah santri berpose sejenak saat bus istirahat

Berbagi makan siang saat di kediaman Ustadz Sidiq

Nikmati senja saat istirahat dalam perjalanan

 

Editor : M A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top