Kabar

Inilah Mega Skandal dan Hoax yang Diungkap Kanjeng Sunan di Masjid Taqwa

Padasuka.id – Jawa Tengah. Seperti telah diberitakan sebelumnya, Kamis malam (11/4/2019) dalam acara Festival Nyadran, Khatmil Qur’an, dan Pengajian Akbar, di Masjid Taqwa, Wonokromo, Bantul, Jogjakarta, KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, antara lain mengurai tentang pentingnya menyaring informasi yang kita terima serta bahayanya hoax.

Terkait dengan bahasan di atas, Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) ini, memberi contoh mega skandal dan hoax di masa Nabi Sulaiman AS. Saat itu, sekelompok orang yang dengki dan ingin menggulingkan kekuasaan pemimpin besar tersebut melakukan konspirasi dengan para ahli sihir dan kroni-kroninya. Mereka merancang sekanrio busuk. Lalu disepakatilah satu rancangan, bahwa untuk menghancurkan kepemimpinan Sulailman harus dibuat skenario besar agar masyarakat tidak lagi percaya kepadanya.

Agar tujuannya tercapai, cara yang mereka lakukan adalah dengan menyebar fitnah bahwa Sulaiman bukanlah seorang Nabi dan bukan pula pemimpin yang baik seperti yang selama ini dikenal, melainkan ia adalah seorang ahli sihir. Untuk meyakinkan masyarakat lalu dilakukanlah upaya pendukungnya, yakni dengan menanam alat-alat sihir di singgasana Sulaiman. Sehingga, jika nanti Sulaiman berhasil dilengserkan dari kekuasaannya, atau meninggal dunia, maka alat-alat sihir yang telah ditanam sebelumnya itu akan dibongkar untuk dijadikan alat bukti bahwa ia memang benar seorang ahli sihir sebagaimana sebaran hoax yang mereka gencarkan.

Singkat cerita, akibat sebaran hoax dan bukti alat sihir yang kemudian ditemukan di singgasana Sulaiman, tujuan para penyebar hoax itu tercapai. Berikutnya, dari masa ke masa sebagian masyarakat mempercayai bahwa Sulaiman adalah seorang yang ahli dalam persihiran.

Persoalan pelik dari masa ke masa akibat sebaran hoax atas diri Nabi Sulaiman itu kemudian diklarifikasi oleh Allah SWT melalui firman-Nya kepada Nabi Muhammad SAW:

وَاتَّبَعُوا مَا تَتْلُو الشَّيَاطِينُ عَلَىٰ مُلْكِ سُلَيْمَانَ ۖ وَمَا كَفَرَ سُلَيْمَانُ وَلَٰكِنَّ الشَّيَاطِينَ كَفَرُوا يُعَلِّمُونَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَا أُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوتَ وَمَارُوتَ ۚ وَمَا يُعَلِّمَانِ مِنْ أَحَدٍ حَتَّىٰ يَقُولَا إِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۖ فَيَتَعَلَّمُونَ مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُونَ بِهِ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهِ ۚ وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ وَيَتَعَلَّمُونَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا يَنْفَعُهُمْ ۚ وَلَقَدْ عَلِمُوا لَمَنِ اشْتَرَاهُ مَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِنْ خَلَاقٍ ۚ وَلَبِئْسَ مَا شَرَوْا بِهِ أَنْفُسَهُمْ ۚ لَوْ كَانُوا يَعْلَمُونَ

Artinya: “Dan mereka mengikuti apa yang dibaca oleh syaitan-syaitan pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (tidak mengerjakan sihir), hanya syaitan-syaitanlah yang kafir (mengerjakan sihir). Mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya. Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. Demi, sesungguhnya mereka telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka mengetahui.” (QS: Al-Baqarah: 102)

Menilik dari peristiwa di masa Nabi Sulaiman, Kiai Syarif melanjutkan, bahwa peristiwa serupa itu kerap pula terjadi di masa sekarang. Apalagi di masa arus komunikasi yang tidak terbendung ini. Melalui media sosial sebaran hoax tentang seseorang semakin mudah yang di antaranya dibarengi pula dengan alat bukti palsu yang mereka buat sendiri, hingga kemudian menjadi semacam legitimasi. Namun demikian, seperti pula yang terjadi pada Nabi Sulaiman, cepat atau lambat skenario kebohongan itu akan terbongkar jua.

Ditandaskan, dampak buruk hoax kerap kali bukan hanya menimpa orang yang menjadi korban, melainkan pula terhadap yang lain, termasuk dalam tatanan kehidupan sosial. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top