Kabar

Jari Lentik di Tahun Politik: Dari TNI – POLRI hingga BANSER

Padasuka.id,– Memasuki tahun politik apa saja dikait-kaitkan dengan peta perpolitikan, termasuk di antaranya kode jari yang melambangkan nomor urut pasangan calon (Paslon) presiden dan wakil presiden tertentu. Setelah sebelumnya dunia maya diramaikan oleh beredarnya foto petinggi aparat negara dengan pose jari tangan menyerupai pistol, baru-baru ini muncul lagi foto anggota Barisan Ansor Serbaguna (Banser) dengan pose yang hampir sama. Bedanya, kalau pose yang disebut pertama, posisi ibu jari ke atas dengan telunjuk ke depan; sedangkan pose anggota Banser, posisi jari telunjuk ke atas dengan ibu jari (jempol) ke samping. Kedua pose ini sama-sama dicitrakan sebagai angka 2. Kebetulan juga, posisi jari seperti yang dibahas ini menjadi kode jari pasalon nomor urut 02.

Foto Banser yang beredar di medsos dan sempat diisukan sebagai kode mendukung paslon tertentu (Foto: Istimewa)

Berkenaan dengan pose jari Banser seperti diungkap di atas, dalam minggu ini sempat menjadi perbincangan hangat di media sosial (medsos). Di mana intinya dikatakan, bahwa anggota Banser suaranya terbelah, terbukti didapati foto anggota Banser dengan pose tangan yang mengisyaratkan pada paslon tertentu, yang dibumbui pula dengan bahasa cemoohan ala medsos.

Dari pembahasan liar di medsos, kemudian juga menjadi bahasan serius di WhatsApp Group (WAG) Rijalul Ansor Nusantara. Awalnya, seorang anggota group mengirim gambar yang dimaksud sambil bertanya kebenarannya, serta daerah asal kepengurusan Banser tersebut.

Menjawab kiriman foto dan pertanyaan itu, seorang anggota group berkode nama MAQASIDANA menjawab, “[Itu] Banser Desa Hargo Mulyo, Kecamatan Rawajitu Selatan, Kabupaten Tulang Bawang, Lampung, dan itu semua Banser saya, karena saya MWC NU-nya.”

Ia lalu menambahkan, “Foto [itu] asli. Dan itu kejadian sebelunm ada capres – cawapres. Dan itu simbol L (Lampung).”

Selanjutnya anggota group yang lain berusaha memberikan penjelasan sesuai yang dia ketahui dari medsos. Menurut dia, foto itu adalah hasil editan. Anggota ini pun mengirim tangkapan layar dua foto yang disusun atas bawah dengan posisi tangan yang berbeda. Foto pada bagian atas posisinya serupa dengan yang di bawah, namun pada bagian atas pose tangannya seperti yang diisukan, disertai tulisan “EDITAN.” Sedangkan pada bagian bawah posisi tangannya sedang mengepal, disertai tulisan “ASLI.”

Menengahi kiriman foto di atas, seorang anggota group yang lain lagi memberikan komentar, “Kalau saya perhatikan kedua fofo ini adalah dua kali jepretan dalam moment yang sama. Perhatikan pose bagian kepalanya, sedikit berbeda arah menghadapnya. Jadi, kalau Kang @⁨MAQASIDANA mengatakan keduanya asli, ya demikianlah adanya –ini secara analisa angle photo. Selebihnya, Kang @MAQASIDANA mohon memberikan penjelasan lebih rinci, agar bisa meluruskan kampung sebelah.”

“Kedua foto itu asli adanya, dan foto itu jauuuuuuhhh sebelum kedua capres mendapatkan nomor urut, dan foto kode L itu adalah kode Lampung, semua Banser yang ada di foto itu adalah Banser saya karena saya adalah Ketua Tanfidziyah MWC Rawajitu Selatan, dan foto itu diambil pada saat setelah acara pengajian ceramah dlm kubur oleh Ky Masykur di Desa Hargo Mulyo, Kec. Rawajitu Selatan, Kab. Tulang Bawang, Lampung,” tegas @MAQASIDANA lagi.

Pada intinya, posisi jari telunjuk ke atas dengan jempol mengarah ke samping, menurut @MAQASIDANA bukanlah kode nomor urut 02 melainkan kode huruf “L.” Dan, foto itu sendiri dibuat jauh sebelum adanya penentuan nomor urus paslon.

Sekarang, kembali pada kode jari dalam foto petinggi aparat negara. Atas peristiwa tersebut, saat itu, Panglima TNI, Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, mengklarifikasi, bahwa pose itu tidak ada kaitannya dengan kontestasi politik.

Foto yang sebelumnya diisukan sebagai kode dukungan terhadap paslon tertentu (Ist.)

“Beberapa hari ini, saya dengan Pak Kapolri sering mendapatkan kiriman foto terkait dengan kode tertentu yang digunakan leting angkatan AKABRI, mulai leting 87 angkatan Pak Tito, ada juga leting 92, ada juga leting saya Lemhannas angkatan 20,” kata Hadi yang disampaikan pula oleh Tito kepada wartawan di sela-sela mendampingi Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerja ke Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (2/1/2019).

Pose jari sebagai kode soliditas antar mereka dan bukan kode dukungan atas paslon tertentu

Ia juga mengatakan, kode dua jari itu sebenarnya menandakan soliditas antar mereka. “Dan kode itu menandakan untuk soliditas, sinergi angkatan untuk mempersatukan dan digunakan sejak pangkat Letnan Dua, dan Pak Tito lulus 87, 87 sudah menggunakan kode itu,” tandasnya.

“Saya sampaikan bahwa TNI-Polri tetap menjaga netralitas dan simbol-simbol yang digunakan leting 87, angkatan 92 dan Lemhannas angkatan 20, itu adalah simbol untuk kebersamaan, tidak ada maksud lain dan diambil sebelum paslon mengambil nomor urut,” tegasnya.

Demikianlah kisah lentiknya jemari di tahun politik. Kesamaan pose atau bahkan hanya sekedar mirip sekalipun bisa dijadikan isu politik. Lantas, bagaimana pula dengan acungan jari telunjuk saat takhiyat dalam shalat? (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top