Kabar

Menyingkap Makna Ruwahan Bagi Orang Kota. Apa Subtansinya?

Padasuka.id – DKI Jakarta. Nama bulan Sya’ban pada kalender Hijriyah, dalam bulan Jawa-nya disebut bulan Ruwah –dalam dialek Madura disebut “Rebba.” Sesuai dengan namanya, di bulan ini ada tradisi keagamaan yang disebut “Ruwahan.” Secara umum, tradisi ruwahan dilaksanakan setelah tanggal 15 ke belakang, dan yang ramai setelah 10 hari menjelang akhir bulan. Tradisi ini sangat melekat bagi masyarakat Nusantara, terutama di pulau Jawa. Mengenai acara ruwahan itu sendiri, materinya sangat beragam, namun tujuannya nyaris sama semua, yakni untuk menghormati dan mendoakan arwah orang tua atau para leluhur yang telah berpulang.

 

Sebagai sebuah tradisi yang mengandung nilai-nilai keagamaan, sampai saat ini acara ruwahan masih lestari. Bukan saja dilakukan oleh masyarakat pedesaan, melainkan juga oleh masyarakat perkotaan, tidak terkecuali di kota yang metropolis seperti Jakarta. Di balik hiruk pikuknya ibu kota, ternyata masih terselip kearifan tradisi lama.

Rabu malam, 26 Ruwah 1953 Jw, yang bertepatan dengan 1 Mei 2019 M, keluarga besar Agoeng Nugroho, menggelar acara ruwahan di kediamannya: Jl Raya Kresek, Gg. Al-Falah 2, RT 05/08, No.53, Duri Kosambi, Cengkareng, Jakarta Barat. Acara ini, menurut Agoeng, sekaligus juga sebagai haul almahum ayahnya, H Sutaryo, serta beberapa orang kerabat yang telah berpulang ke haribaan Ilahi.

Acara ruwahan di kediaman salah seorang penggiat Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) ini, berisi pembacaan Surat Yasin, tahlilan, dan doa arwah, yang mana pahalanya dihadiahkan kepada para almarhum-almarhumah yang dihauli. Puluhan masyarakat di wilayah ini duduk bersama; berkumpul di ruang tamu, teras rumah, hingga di halaman depan. Penuh kekeluargaan dan kekompakan mereka mengikuti pembacaan kalimat-kalimat thayyibah yang dipimpin oleh kiai setempat.

Menilik dari rangkaian acaranya, secara umum sama saja dengan acara tahlilan biasa ketika ada orang meninggal dunia. Hanya saja, karena dilakukan satu tahun sekali, maka bisa dinamai “Haul,” dan karena diadakan dalam bulan Ruwah, maka dapat pula disebut “Ruwahan.” Secara subtansi, hakikatnya pun sama, yakni mengumpulkan tetangga dan sanak keluarga untuk menghadiahkan pahala bacaan Al-Qur’an dan kalimat thayyibah kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia serta mendoakan mereka. Tidak hanya itu, dalam tradisi serupa ini tidak akan lepas dari adanya hidangan, terkadang juga dilengkapi berkat atau besek. Hal ini, tentu saja menjadi bagian dari pahala sedekah yang dihadiahkan kepada para almarhum dan almarhumah.

Adanya tradisi ruwahan dan yang sejenis, selain menyimpan nilai-nilai keagamaan secara fikih dan spiritual, juga tersemat nilai-nilai sosial kemasyarakatan. Secara fikih, menghadiahkan pahala bacaan kalimat thayyibah dan sedekah adalah salah satu ajaran Islam yang akan berdampak baik bagi yang dihadiahi. Secara spiritual, berkumpulnya orang banyak dalam dzikir dan doa, berarti pula telah mengundang para malaikat untuk terlibat di dalamnya. Yang bersamaan dengan itu, Allah SWT menurunkan rahmat-Nya. Kemudian, secara sosial, tentu saja acara serupa ini dengan sendirinya telah menjadi wahana silaturahmi antar keluarga dan warga. Yang dengannya akan melahirkan kepedulian, menjalin persaudaraan, meminimalisir ketegangan, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, tradisi ruwahan menjadi bagian dari upaya mempersiapkan diri menuju bulan Ramadhan. Karena, bulan Ruwah atau Sya’ban menjadi gerbang masuk ke bulan suci yang penuh dengan ampunan, rahmat, dan berkah tersebut. Adalah satu hal yang sangat wajar, jika di bulan Ruwah atau Sya’ban yang juga menyimpan keistimewaan, kaum muslimin mempersiapkan diri guna menuju bulan yang teristimewa, Ramadhan nan mulia. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top