Kabar

Gus Machfud: Ada Kisah Spiritual di Balik Shalawat Nahdliyah

Padasuka.id,– Seperti telah diberitakan di media ini, Shalawat Nahdlatul Ulama (NU) atau Shalawat Nahdliyah yang sejak 2018 lalu menjadi begitu populer, sejatinya sudah lama diciptakan. Penciptanya adalah almahum KH Hasan Abdul Wafie, seorang kiai asal Pamekasan, Madura, yang kemudian menjadi pendidik di Pondok Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Probolinggo, Jawa Timur, sekaligus menjadi menantu pengasuh pesantren ini, KH Zaini Mun’im. Sebagai gambaran betapa sudah lamanya shalawat itu diciptakan, putri keempat Kiai Hasan, Nyai Hj Ja’faroh, mengatakan: “Aba menciptakan shalawat itu ketika saya masih anak-anak, masih SD,” seperti dilansir NU Online (12/3/2019). Sedangkan Nyai Ja’faroh pada periode 2014-2019 sudah menjadi anggota Komisi E, DPRD Jember, Jawa Timur. Dan menurutnya, di Jember sendiri shalawat karya ayahnya itu sejak lama sudah cukup dikenal.

Berkenaan dengan Shalawat Nahdliyah, Uast. Machfud Ahmad Prajitno, SH, Pengasuh Pondok Munajat Al-Marjan, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang, Banten, memiliki kisah tersendiri. Gus Machfud, sapaan akrabnya, pernah dikisahkan oleh ayah angkat sekaligus kiainya, KH Sobar Arif, Pendiri Pondok Pesantren Sobrul Maarif, Banjarsugihan, Surabaya, Jawa Timur.

Nazhaman (Shalawat) Nadliyah itu penuh sejarah, kata abah angkat saya, beliau KH Sobar Arif,” tutur Gus Machfud lalu mengisahkan perkataan Kiai Sobar kepada dirinya dalam bahasa Jawa.

Gus Machfud (kanan) bersama KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, Ketua Umum PADASUKA

Fud Abah iki ngajar ngaji dimusuhi, disawati watu, iku watune tak klumpukno yang kelak jadi Pondok Pesantren Sobrul Maarif, di awal tahun 1999. Mulo lek ora ono gandolane wis mesti coplok kabeh; luwih-luwih iman, mergo awake dewe dipangkat karo Gusti Allah ngedekno kalimat Allah.” (Fud, Abah ini ngajar ngaji dimusuhi, dilempar batu, itu batunya saya kumpulkan yang kelak menjadi Pondok Pesantren Sobrul Maarif di awal 1999. Makanya, jika tidak ada pegangannya, sudah lepas semua, lebih-lebih iman, mengingat saya ini sudah dikehendaki oleh Allah untuk menegakkan kalimat-Nya.)

KH Hasan Abdul Wafie, Pencipta Shalawat Nahdliyah

Demikian Gus Machfud mengisahkan seraya menirukan perkataan kiainya. Lantas ia bertanya, “Gandolanne nopo Bah: Pegangannya apa Bah?” “Yo Kanjeng Nabi; yo shalawat Nabi, opo maneh ijazah shalawat Mbah Wafie Jember. (Ya Kanjeng Nabi; ya shalawat Nabi, apalagi ijazah shalawat (karya) Mbah (Kiai Hasan Abdul) Wafie),” terang Kiai Sobar yang kemudian disebutkan bahwa yang dimaksud adalah Shalawat Nahdliyah.

Kiai Sobar lalu mengungkapkan, berkat shalawat tersebut telah membuat dirinya tetap tegak berdiri di dalam upaya mengembangkan pendidikan Islam. Karenanya, ia menyarankan agar Gus Machfud juga mengamalkannya serta mengajarkan kepada adik-adik kelasnya nanti di pesantren itu.

Iku sing ndadekno kuat ngadek jejeg. Wis talah lakonono ae, suk awakmu muleh ajarono adek adekmu ning pondok iki,” tutur Kiai Sobar dalam bahasa Jawa seperti ditirukan Gus Machfud.

Diceritakan pula, dari pondok tersebut belum jadi, sampai masjidnya jadi dan kubah masjid pun terpasang, Kiai Sobar berpesan: “Fud tugase Abah wis mari, kari awakmu sing nerusno yo: Tugas Abah sudah selesai, tinggal kamu yang meneruskannya ya.”

Gus Machfud bersama para santrinya

Masih seputar Shalawat Nahdliyah, sampai pada 2017 lalu, Shalawat karya KH Hasan Abdul Wafie itu masih dilantunkan di Ponpes Sobrul Maarif.

Terkahir saya pulang, tahun 2017 lalu, Sholawat Nahdliyah masih berkumandang sambil menunggu shalat Maghrib,” tutur Gus Machfud.

Berikut ini shalawat yang dimaksud:

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدْ
صَلَاةً تُرَغِّبُ وَتُنَشِّطُ
وَتُحَمِّسُ بِهَا الْجِهَادْ لِإِحْيَاءْ
وَإِعْلَاءِ دِيْنِ الْإِسْلَامْ
وَإِظْهَارِ شَعَائِرِهْ عَلَى طَرِيْقَةِ
جَمْعِيَّةِ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءْ
وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلِّمْ

اَللّٰهْ اَللّٰهْ اَللّٰهُ اَللّٰهْ
ثَبِّتْ وَانْصُرْ أَهْلَ جَمْعِيَّةْ
جَمْعِيَّةْ نَهْضَةِ الْعُلَمَاءْ
لِإِعْلَاءِ كَلِمَةِ اللّٰهْ

Artinya:

“Ya Allah, limpahkan shalawat kepada junjungan kami, Nabi Muhammad. Yang dengan [berkah bacaan shalawat ini], jadikanlah kami senang, rajin, dan semangat dalam berjuang menghidupkan dan meninggikan agama Islam serta menampakkan syi’ar-syi’arnya menurut cara Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Juga kepada keluarga beliau dan sahabatnya, berikanlah keselamatan.”

Ya Allah, teguhkanlah pendirian dan berikanlah kemenangan bagi warga Jam’iyyah Nahdlatul Ulama untuk meninggikan Kalimatillah (agama Islam dan seluruh ajarannya)“.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top