Kabar

Jelang Proklamasi Bung Karno Tidak ke Kwitang; Tidak Minum Madu Arab (1)

Padasuka.id,- Proklamasi Kemerdekaan Negara Republik Indonesia pada hari Jum’at, 17 Agustus 1945 dalam kalender Hijriyah bertepatan dengan Ramadhan 1364 H. Terkait peristiwa besar di bulan suci itu, setidaknya sudah dua kali Ramadhan ke tahun ini (1440 H/2019) beredar video dan sebaran artikel pendek di media sosial (postingan) tentang peristiwa di balik pembacaan teks proklamasi yang dihubung-hubungkan dengan kisah yang belum jelas sumbernya. Pertama, jelang proklamasi, Sang Proklamator, Ir H Soekarno (Bung Karno), dikatakan sowan dulu ke seorang habib di Kwitang, Senen, Jakarta Pusat. Kedua, dalam sebuah postingan yang banyak beredar di WAG dikatakan, saat itu Bung Karno dikatakan sakit lalu sembuh setelah minum madu Arab pemberian Faraj Martak.

Pembacaan teks Proklamasi Kemerdekaan RI (Foto: Istimewa)

Nah, dalam sebuah video yang dimaksud, yang beredar di beberapa WhatsApp Group (WAG) sejak Ramadhan tahun lalu, terdapat suara seorang lelaki, tampaknya sedang berceramah, menyampaikan berbagai hal tentang Bung Karno dan peristiwa Proklamasi Kemerdekaan RI. Dalam sebaran berbentuk unduhan di beberapa WAG tidak ada penjelasan suara siapa dalam video itu. Padasuka.id lalu melacak ke akun YouTube, setidaknya ditemukan dua unggahan video tersebut, salah satunya diunggah kanal Zulkarnaen Fadli berjudul, “Pesan Muhammad Husni Thamrin,” diunggah pada 3 Februari 2018. Di kanal ini pun tidak ada penjelasan suara siapa dalam video yang diunggahnya.

Tangkapan layar video yang berisi rekaman yang menyebutkan Bung Karno datang ke Kwitang sebelum proklamasi

Rekaman suara dalam video tersebut dimulai dari cerita tentang Muhammad Husni Thamrin yang katanya telah membawa Bung Karno dari penjara Sukamiskin, Bandung, ke Jakarta kemudian menitipkan Bung Karno dan istrinya di kediaman Habib Ali di Kwitang sampai 4 bulan lamanya.

Singkatnya, pada menit ke 00:10:57 suara dalam video itu menuturkan: “Mangkanye Habib Ali Kwitang bingung, ‘Ke mana Pak Karno?’ Besoknye tinggal diumumin. Akhirnya pemuda-pemuda menyerahkan Bung Karno lagi ke rumahnya. Subuh-subuh saudeh sahur.. Subuh-subuh saudeh sahur, Bung Karno nyamar pakai sepedanya. Pak, jarak tempat tinggal Bung Karno sama tempat tinggal Habib Ali cuman berapa tindakan; dari sini ke (Jl) Jenderal Urip… Dari sini ke (Jl) Jenderal Urip. Jadi, pakai sepeda reli; sepeda ontel. Bung Karno bilang, ‘Habib.. Ini gimane, tinggal dikit lagi.. Kalau nggak kite merdekain, Jepang mau ngasih hadiah.’ Ingat, Pak..! Setahun sebelumnya, Jepang sudah ultimatum ingin memberikan Indonesia kemerdekaan dengan syarat yang penuh. Tapi ulama kite; pejuang kite, tolak. Akhirnya kata Habib Ali, ‘Udeh, Bismillah, Ente ke sane ntar kite umumin di sini.’ Mangkanye Pak, di catetan sejarah Bung Karno bangunnye kesiangan. Kenape proklamasi diumuminnye siang-siang? Lah, kesiangan nemui gurunye dulu, Habib Ali bin Abdurrahman di Kwitang. Mangkenye kesiangan. Habis bangun, lupa ngetik, Pak. Ini ada di catetan, nih. Lupa ngetik, jadi ngetik dulu, tuh waktu…”

Sampai di sini, tentu kita mendapati keterangan itu berbeda dengan sejarah yang umum diketahui. Kalau menurut lelaki dalam video berdialek Betawi itu, sehari sebelum proklamasi, Bung Karno masih berada di Kwitang yang kemudian pergi hingga membuat Habib Ali bingung mencari keberadaan Bung Karno. Sedangkan dalam buku-buku sejarah diterangkan, pada Rabu, 15 Agustus 1945 sekitar pukul 22.00 WIB, Bung Karno berada di kediamannya di Pegangsaan, sedang melakukan pertemuan antara kaum tua dengan kaum muda. Di saat itu pula terjadi perdebatan panas antara kaum tua dan kaum muda terkait dengan penentuan proklamasi. Berikutnya, 16 Agustus, Bung Karno dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat.

Sampul muka buku “Lahirnya Republik Indonesia” (Istimewa)

Berkenaan dengan catatan sejarah yang representatif, satu misal dalam buku, “Lahirnya Republik Indonesia,” karya Mr. Ahmad Soebardjo, PT Kinta (1978) dijelaskan, saat Jepang runtuh, kaum muda yang dimotori oleh Chaerul Saleh, Sukarni, dan Wikana, tidak sejalan dengan kaum tua yang akan memproklamasikan kemerdekaan melalui jalur Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Karena, kaum muda menilai PPKI adalah buatan Jepang, mereka menghendaki kemerdekaan segera diproklamasikan. Tidak terima dengan keputusan kaum tua, kaum muda lalu ‘menculik’ Bung Karno dan Bung Hatta, pada Kamis, 16 Agustus 1945 sekitar pukul 04.00 WIB.

Tampak Bung Karno dan Bung Hatta saat pengibaran Bendera Pusaka, Merah Putih, 17 Agustus 1945 (Istimewa)

Meski kecewa atas ‘penculikan’ itu, Bung Karno dan Bung Hatta tetap mengikuti keinginan para pemuda demi menghindari keributan. Saat itu, Bung Karno mengikutsertakan sang istri, Fatmawati, dan anaknya, Guntur, yang masih balita. Keduanya lalu dibawa ke rumah milik salah seorang pimpinan PETA, Djiaw Kie Siong, di Rengasdengklok.

Menelaah dari fakta sejarah di atas, lantas kapan Bung Karno berada di Kwitang? Tentu saja apa yang disampaikan oleh seseorang dalam video itu tidak ada dasarnya.

Fakta lain tentang Bung Karno bangun kesiangan saat hari proklamasi itu, diterangkan dalam buku, “Bung Karno: The Other Stories: Serpihan Sejarah yang Tercecer,” karya Roso Daras; Imania dan Pustaka Media Mulia (2009).

Buku “Bung Karno…” karya Roso Daras (2009)

Ringkasannya, saat itu Bung Karno kelelahan setelah mengikuti serangkaian rapat di rumah Laksamana Maeda menjelang proklamasi besok paginya. Hingga akhirnya Bung Karno masuk ke kamar tidurnya menjelang waktu subuh. Pagi hari sekitar pukul 08.00 WIB, dokter pribadinya mendapati Bung Karno sedang demam panas. Satu kata yang terlontar pagi itu dari lisan Bung Karno pada sang dokter, “Pating greges…” Dikisahkan pula, saat pagi itu, Bu Fatmawati juga mengaku kelelahan, setelah kembali dari Rengasdengklok lalu semalaman ia menjahit bendera merah putih yang akan dikibarkan besok paginya. Lantas seperti apa kisah selanjutnya? Ikuti pada edisi mendatang. (Bersambung)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top