Kabar

Jelang Proklamasi Bung Karno Tidak ke Kwitang; Tidak Minum Madu Arab (2)

Padasuka.id,- Seperti telah diberitakan sebelumnya, setidaknya, sudah dua kali Ramadhan ke tahun ini beredar video berisi suara seseorang mengatakan bahwa Bung Karno dan istrinya dititipkan di kediaman Habib Ali Kwitang oleh Muhammad Husni Thamrin –selama 4 bulan– setelah keluar dari penjara Sukamiskin, Bandung, Jawa Barat. Dikatakan pula, sehari menjelang proklamasi, Habib Ali kebingungan mencari Bung Karno yang tiba-tiba menghilang. Keesokan harinya (17 Agustus 1945) saat Shubuh sesudah sahur, Bung Karno datang lagi ke Kwitang (Senen, Jakarta Pusat), menyamar dan mengendarai sepeda ontel menemui Habib Ali untuk meminta pendapatnya tentang proklamasi. Habib Ali merestuinya, Bung Karno lalu kembali ke rumahnya. Oleh sebab itu, menurut suara dalam video itu, Bung Karno akhirnya kesiangan untuk memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia.

Tangkapan layar video yang berisi rekaman yang menyebutkan Bung Karno datang ke Kwitang sebelum proklamasi

Mangkanye Pak, di catetan sejarah Bung Karno bangunnye kesiangan. Kenape proklamasi diumuminnye siang-siang? Lah, kesiangan nemui gurunye dulu, Habib Ali bin Abdurrahman di Kwitang. Mangkenye kesiangan. Habis bangun, lupa ngetik…” Demikian ungkap suara dalam video tersebut.

Seperti diketahui, selain unduhan video itu beredar melalui jaringan WhatsApp (WA) juga beredar di akun YouTube, satu di antaranya oleh kanal Zulkarnaen Fadli, berjudul: “Pesan Muhammad Husni Thamrin,” diunggah pada 3 Februari 2018.

Keterangan dalam video itu, selain tidak menyebutkan sumber primernya sebagai referensi, tentu berbeda dengan penjelasan pelaku sejarahnya langsung yang ditulis dalam buku-buku sejarah. Terkait dengan peristiwa jelang proklamasi dapat dibaca dalam buku “Lahirnya Republik Indonesia,” karya Mr. Ahmad Soebardjo, PT Kinta (1978), “Samudera Merah Putih 19 September 1945.” Jilid 1, karya Lasmidjah Hardi: Pustaka Jaya (1984), dan lain-lain.

Jika merujuk pada buku sejarah, tentu tidak mungkin Bung Karno saat menjelang proklamasi itu berada di Kwitang. Sebab:

Rabu, 15 Agustus 1945, sekitar pukul 22.00 WIB, Bung Karno berada di kediamannya, di Jl Pegangsaan Timur. Saat itu sedang berlangsung pertemuan antara kaum tua dengan kaum muda, hingga kemudian terjadi perdebatan panas antara kedua belah pihak terkait dengan penentuan proklamasi kemerdekaan.

Rumah di Rengasdengklok (Foto Istimewa)

Kamis, 16 Agustus 1945, sekitar pukul 04.00 WIB (dini hari), Bung Karno dan Bung Hatta “diculik” oleh kaum muda dan dibawa ke Rengasdengklok, Karawang, Jawa Barat, lalu ditempatkan di rumah milik salah seorang pimpinan PETA, Djiaw Kie Siong.

Dengan demikian, Kamis siang Bung Karno berada di Rengasdengklok. Bahkan, pada siang itu terjadi perdebatan lagi antara Bung Karno dengan para pemuda. Bung Karno yang terus didesak agar segera memproklamasikan kemerdekaan, tetap berkukuh akan melaksanakannya pada 17 Agustus 1945. Sejumlah alasan disampaikan oleh Bung Karno soal pemilihan 17 Agustus 1945 tersebut. Sementara itu, di Jakarta telah terjadi kesepakatan antara kaum tua yang diwakili Mr Ahmad Soebardjo dengan kaum muda yang diwakili Wikana, bahwa Proklamasi Kemerdekaan Indonesia akan dilaksanakan di Jakarta.

Bung Karno dan para tokoh sedang melakukan rapat (Foto: Istimewa)

Berbekal kesepakatan tersebut, pada hari itu juga Bung Karno dan Bung Hatta lalu dijemput oleh Ahmad Soebardjo untuk kembali ke Jakarta. Saat itu, Ahmad Soebardjo yang ditemani kaum muda tiba di Rengasdengklok sekitar pukul 17.00 WIB (sore). Singkat cerita, setelah terjadi perdebatan, kepada kaum muda yang berada di Rengasdengklok, Ahmad Soebardjo menjamin, bahwa proklamasi akan dilaksanakan pada 17 Agustus 1945, paling lambat pukul 12.00 WIB dengan taruhan nyawanya.

Mr Ahmad Soebardjo (paling kanan) tokoh penjemput kedua proklamator ke Rengasdengklok dan penulis buku, “Lahirnya Republik Indonesia.” (Foto: Istimewa)

Kamis, 16 Agustus 1945, sekitar pukul 21.00 WIB (malam) atas jaminan dari Ahmad Soebardjo, kedua proklamator itu diijinkan kembali ke Jakarta dengan disertai kaum muda, di antaranya Soekarni. Ketika tiba di Jakarta, waktu sudah dini hari, mereka lalu menggelar rapat, membuat teks proklamasi, hingga jelang waktu Shubuh.

Keterangan di atas, mempertegas posisi Bung Karno berada, sejak tanggal 15–17 Agustus 1945.

Berkenaan dengan Bung Karno bangun kesiangan, berikut ini penjelasan dalam buku, “Bung Karno: The Other Stories: Serpihan Sejarah yang Tercecer,” karya Roso Daras; Imania & Pustaka Media Mulia (2009).

Dalam buku tersebut pada halaman 163 dan seterusnya dijelaskan, bahwa pada Jum’at pagi, 17 Agustus 1945 suasana di kediaman Bung Karno, Jl Pegangsaan Timur 56, Menteng, Jakarta Pusat, sudah ramai dengan para tokoh pejuang dan rakyat Indonesia; baik di halaman depan, pendopo, bahkan sampai di halaman belakang. Mereka menunggu detik-detik proklamasi kemerdekaan dibacakan. Sementara itu, Bung Karno sendiri masih terlelap. Maklum, ia baru masuk kamar menjelang Shubuh setelah semalam pulang dari Rengasdengklok lalu rapat bersama para tokoh lainnya di kediaman Laksamana Maeda.

Pada pukul 08.00 WIB, dokter pribadi Bung Karno, dr R Soeharto, menyelinap masuk ke kamar Bung Karno dan mendapati sang Putera Fajar itu masih pulas. Lalu diusaplah tangannya hingga Bung Karno terbangun, lalu berucap, “Pating greges...” Kalimat berbahasa Jawa yang berarti pegal dan demam panas inilah yang pertama terlontar dari lisan Bung Karno di pagi itu di hadapan dokter pribadinya.

Setelah melakukan pemeriksaan, atas persetujuan Bung Karno, dr Soeharto lalu memberikan suntikan chinine-urethan intramusculair. Ia juga menyarankan agar Bung Karno tidak puasa untuk minum broom chinine. Setelah disuntik dan minum obat, Bung Karno tertidur lagi. Kemudian dr Soeharto keluar dari kamar Bung Karno.

Di luar kamar, dr Soeharto berpapasan dengan Fatmawati, lalu menyampaikan kondisi Bung Karno. Saat itu, Bu Fat sempat mengatakan, “Saya sendiri sebetulnya capek sekali, setelah kembali dari Rengasdengklok dan menyelesaikan pembuatan bendera (Merah Putih, Red.) yang akan dikibarkan hari ini.

Kemudian, pada pukul 09.30 WIB, dr Soeharto masuk lagi ke kamar Bung Karno dan didapatinya sudah bangun dengan badan yang terlihat lebih segar dan panasnya pun sudah mereda.

Sudah jam setengah sepuluh, Mas…” Ucap dr Soeharto, mengingatkan. Bung Karno lalu bergegas dari tempat tidur untuk bersiap-siap.

Minta Hatta segera datang,” perintah Bug Karno pada dokter pribadinya itu. Lalu, dr Soeharto meneruskan perintah itu kepada Latief Hendradinigrat.

Tampak Bung Karno dan Bung Hatta saat pengibaran Bendera Pusaka, Merah Putih, 17 Agustus 1945 (Istimewa)

Singkat cerita, tepat pukul 10.00 WIB pada hari Jumat, 17 Agustus 1945, momentum paling bersejarah bagi bangsa Indonesia itu berlangsung. Dengan didampingi Bung Hatta, Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dibacakan di hadapan para tokoh pejuang dan rakyat Indonesia.

Nah, fakta sejarah yang tertulis dalam buku sejarah ini, membuktikan bahwa pengakuan dalam video seperti diungkap di atas tidak sesuai dengan kenyataan yang ada. Bung Karno bangun kesiangan bukan karena pulang dari rumah Habib Ali Kwitang, melainkan karena kelelahan dan menderita demam panas. Dari sini pula membuktikan, bahwa yang mengobati sakit Bung Karno hingga membaik adalah dr Soeharto, bukan karena minum madu Arab pemberian Faraj Martak, seseorang yang dikatakan sebagai keturunan Arab.

Tangkapan layar dari WAG tentang postingan yang di antaranya berisi “Madu Arab”

Sebagai pelengkap informasi, selain adanya sebaran video terkait kesiangannya Bung Karno, dalam sebuah postingan yang ramai beredar di WhatsApp, dikatakan:

Bung Karno sakit beri-beri sebelum proklamasi, sembuh diberi MADU ARAB oleh Faraj Martak.

Sungguh postingan ini adalah sesuatu yang mengada-ada. Bahkan dapat dikatakan fitnah. Sebab, saat itu Bung Karno bukan sakit beri-beri, melainkan demam panas akibat terlalu lelah.

Dari semua paparan dalam berita ini semoga menjadi bahan telaah berkenaan dengan sejarah Republik Indonesia. Di mana, ternyata masih ada pihak-pihak tertentu yang sengaja ingin mengaburkan fakta sejarah yang ada. Atau dalam kata lain, terdapat semacam penggiringan opini untuk kepentingan klan tertentu, bahwa mereka turut andil dalam memerdekakan negeri ini. Padahal dalam “Sumpah Pemuda,” jelas dikatakan: “Berbangsa Satu, Bangsa Indonesia.” Lantas kenapa masih nembawa-bawa daerah asal leluhur dalam sejarah keindonesiaan jika sudah benar-benar menjadi Indonesia? (AR)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top