Kabar

Tradisi Unik Sambangi Bayi di Balik Permainya Alam Suroteleng

Padasuka.id,- Daerah perbukitan di daerah Suroteleng yang diapit oleh dua julangan gunung legendaris di Jawa Tengah, Merbabu dan Merapi, selain menyuguhkan panorama yang luar biasa indah permai, masih lestari satu tardisi unik dalam menyambangi bayi yang baru lahir.

Belum lama ini, Padasuka.id bersama rombongan berkesempatan menikmati indahnya alam yang menghampar bak permadani di daerah tersebut. Setelah dari Kota Solo, kami menuju ke Magelang dengan melintasi jalan perbukitan di darah Selo yang termasuk wilayah Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Wilayah ini secara geografis berada di sebelah timur kaki Gunung Merapi. Sementara di bagian yang lain tampak menjulang Gunung Merbabu yang secara administrasi: lereng sebelah baratnya berada di wilayah Kabupaten Magelang, lereng sebelah timur dan selatan berada di Kabupaten Boyolali, dan lereng sebelah utara berada di Kabupaten Semarang.

Julangan Gunung Merapi

Sepanjang perjalanan di wilayah Selo kami disuguhi pemandangan yang indah. Di kanan kiri jalan terhampar bukit-bukit yang merupakan areal perladangan masyarakat. Di mana, pada bagian atasnya tampak tanaman yang seperti dihampar dengan beragam bentuk –sesuai ukuran petak ladangnya. Ada yang serupa kotak-kotak; ada pula yang dibentuk miring ke tengah (kanan-kiri) hingga menyerupai bentuk huruf “V”. Kesemuanya itu mengikuti liukan atau demografi punggung bukit, sehingga dari kejauhan mengesankan seperti tikar yang tengah dihampar.

Gunung Merbabu yang tertutup kabut

Ketika perjalnan sampai di Desa Candi Baru, di sebelah Jembatan Suroteleng, kami menghentikan kendaraan untuk mengambil gambar agar lebih sempurna. Nah, di daerah inilah kami menjumpai sejumlah ibu-ibu berjalan kaki datang dari seberang jembatan dengan menggendong guci tembaga dililit kain di balik punggungnya –lihat gambar.

“Dari mana, Bu?” Tanya kami yang dijawab, “Ini, pulang dari orang lahiran di kampung sebelah, Pak.”

“Ini yang ibu bawa, tempat apa?” Tanya kami lagi. “Ini tempat air, Pak,” jawab salah satu dari mereka. “Air buat siapa?” Selidik kami, penasaran. “Ya buat yang lahiran,” jawabnya. “Air khusus atau air apa, Bu?” Kejar kami lagi yang tambah tak paham. “Air biasa. Ngambilnya di mata air terdekat,” jawab mereka.

Merasa aneh, kami lalu bertanya lebih serius lagi. Untuk apa mereka membawa air pada orang yang baru melahirkan?Padahal, dilihat dari hijaunya perbukitan menunjukkan daerah ini kaya akan air. Kemudian juga, di beberapa titik terdapat sungai dengan air yang mengalir jernih.

Ternyata, ungkap mereka, membawa air pada orang yang baru melahirkan sudah menjadi tradisi dari jaman dahulu. Terbukti pula, tempat air yang mereka bawa merupakan barang kuno, terbuat dari tembaga; bukan dari plastik semisal cerigen buatan pabrik masa belakangan. Air yang dibawa itu, lanjut mereka, kemudian disimpan (disatukan) di sebuah tempat semisal kolam di rumah orang yang baru melahirkan tersebut untuk dipergunakan sehari-hari.

Ketika ditanya, kenapa harus membawa air, padahal wilayah ini kaya dengan air, mereka menjawab, tidak tahu. Yang pasti, tandasnya, secara turun temurun, jika ada orang baru melahirkan, tradisinya memang seperti itu di wilayah ini, dari jaman dulu sampai sekarang.

Menafsiri tradisi ini, Eddy Paryanto, asal Magelang, yang menyertai perjalanan kami, mencoba mencari pendekatannya. Menurut dia, hal itu mereka lakukan, dimungkinkan karena orang yang baru melahirkan membutuhkan air yang banyak. Sementara itu, meskipun wilayah ini kaya dengan air, tentu tidak mudah untuk mengambil air langsung dari sungai atau mata air. Apalagi, di masa-masa yang lalu. Mengingat, di wilayah ini pada umumnya warga kampung mengalirkan air langsung dari mata air yang berada di lereng-lereng gunung menggunakan pipa paralon kecil yang disalurkan langsung ke kolam atau bak penampungan. Tentu saja tidak semua mata airnya deras, apalagi jika musim kemarau.

Penggunaan pipa paralon adalah pada masa belakangan, entah di masa lalu mereka menggunakan apa. Mungkin saja menggunakan bilah bambu.

Maka, adalah hal yang masuk akal; orang yang baru melahirkan tentu sangat membutuhkan banyak air untuk mencuci dan sebagainya. Sementara untuk mencapai mata air atau sungai, mereka mesti turun naik areal perbukitan. Oleh karena itu, agar dapat meringankan beban keluarga yang melahirkan, menyumbang air merupakan sesuatu yang sangat penting.

Terlepas tafsiran ini benar atau tidak, yang pasti sumbangan air akan sangat berguna. Kecuali itu, secara kekeluargaan, tradisi ini akan dapat mempererat rasa kebersamaan di antara mereka.

Di balik keindahan alamnya, masyarakat di wilayah ini, indah pula menjalin persaudaraan dengan tradisi lama yang tetap lestari sampai hari ini. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top