Kabar

Seruan Agar Menjadi Keluarga Tuhan di Bulan Al-Qur’an

Padasuka.id,- Bulan suci Ramadhan yang menyimpan banyak keistimewaan adalah bulan di mana kitab suci Al-Qur’an diturunkan. Oleh karena itu, di “Bulan Al-Qur’an” ini dianjurkan memperbanyak mengamlakan Kamullah tersebut. Demikian, salah satu uraian Ustadz Abdul Hakim Abubakar, S.Pd.I, saat mengisi ceramah Tarawih di Masjid Jami’ Al-Ittihad, Jl Purnawarman, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, Rabu malam (15/5/2019).

Alumni Pondok Pesantren Ummul Qura, Pondok Cabe, Tangerang Selatan ini kemudian menghimbau kepada para jamaah agar sebisa mungkin berupaya menjadi ‘keluarganya Allah’ (Ahlullah), serayaa mengutip sebuah Hadits bersumber dari Anas bin Malik:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( إِنَّ لِلَّهِ أَهْلِينَ مِنْ النَّاسِ ) قَالُوا : يَا رَسُولَ اللَّهِ ، مَنْ هُمْ ؟ قَالَ :
( هُمْ أَهْلُ الْقُرْآنِ ، أَهْلُ اللَّهِ وَخَاصَّتُهُ )

Artinya: Rasulullah SAW bersabda: “Sesungguhnya Allah memiliki ‘Ahliyyin’ (keluarga) dari kalangan manusia. Mereka (para shahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah siapakah mereka?” Beliau menjawab, “Mereka adalah Ahli Al-Qur’an, Ahlullah dan orang khusus-Nya.”

Bersandar pada Hadits ini, Ustadz Hakim menegaskan, bahwa para ahli Al-Qur’an, yakni orang-orang yang senantiasa hidup bersama kitab suci tersebut dan selalu berpedoman kepadanya, maka mereka adalah keluarga Tuhan, Allah SWT. Sebagai ‘keluarga Tuhan” tentu mereka akan mendapat keistimewaan dari-Nya dalam berbagai hal. Oleh karena itu, lagi-lagi ia menghimbau agar kita senantiasa hidup bersanding dengan Al-Qur’an, mulai dari sikap atau perilaku sehari-hari sampai pada soal wiridan dan doa. Sebisa mungkin semuanya bersumber dan selaras dengan Al-Qur’an.

“Kalau di antara kita bangga menjadi keluarga lurah, keluarga camat, keluarga bupati, keluarga gubernur, keluarga presiden… Di antara kita banga menjadi keluarga pejabat, keluarga konglomerat, keluarga ningrat… Apakah kita tidak akan lebih bangga menjadi keluarganya Allah SWT? Tuhan yang telah menjadikan lurah, menjadikan camat, menjadikan bupati, menjadikan gubernur, menjadikan presiden… Tuhan yang telah menjadikan pejabat, konglomerat hingga ningrat… Maka itu para jamaah sekalian melalui momentum Syahrul Qur’an ini, berusahalah agar kita diakui menjadi keluarganya Allah SWT dengan senantiasa hidup bersama dan sejalan dengan Al-Qur’an,” papar Ustadz Hakim menyeru para jamaah.

Pada bagian lain, Ustadz Hakim menerangkan, bahwa sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang mengamalkan Al-Qur’an serta mengajarkannya seraya mengutip sabda Rasulullah SAW:

خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُ .

Artinya: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar Al-Qur`an dan mengajarkannya.”

“Oleh karena itu para jamaah sekalian, jangan sampai kita meremehkan guru ngaji, di mana mereka adalah para pengajar Al-Qur’an. Apalagi sampai mem-bully mereka… Sekarang ini kan lagi musim, terutama di media sosial, sekelompok orang yang merasa pintar mudah sekali merendahkan guru ngaji. Padahal merekalah yang mengantarkan generasi ini untuk menjadi calon-calon Ahlullah. Bahkan, ada yang dengan pongahnya mem-bully dan merendahkan para ulama; para kiai yang ahli Al-Qur’an. Hati-hati, sekali lagi saya tegaskan, para ahli Al-Qur’an itu adalah Ahlullah; keluarganya Allah SWT. Mungkin saja beliau-beliau para kiai itu diam walaupun direndahkan; walaupun dihina… Tetapi, apakah Allah akan tinggal diam jika ada keluarga-Nya direndahkan? Belum tentu! Maka jangan heran, jika di antara para pem-bully itu akhirnya dirundung masalah dan sebagainya. Yang kemudian dia malah minta tolong pada kiai atau tokoh yang telah dihinya itu,” papar Ustadz Hakim seraya memperingatkan.

Sebagai contoh, Ustadz Hakim lalu mengisahkan peristiwa para sahabat Nabi SAW yang notabenenya mereka adalah orang-orang yang ahli Al-Qur’an yang dilarang masuk ke sebuah perkampungan. Ujungnya, kepala suku di kampung itu dirundung masalah yakni tersengat kala jengking dan tidak ada satupun thabib yang bisa mengobatinya.

“Ujungnya apa yang terjadi pada jamaah sekalian? Kepala suku kampung itu akhirnya malah minta tolong kepada sahabat tadi untuk mengobatinya dengan imbalan hadiah puluhan ekor kambing. Singkat cerita, disanggupilah permintaan itu, kemudian sahabat meruqyahnya dengan Ummul Qur’an; Surat Al-Fatihah. Dan, sembuhlah kepala suku itu,” ungkap Ustadz Hakim memberikan gambaran.

Di bagian akhir ceramahnya, ia kembali menegaskan agar kita berupaya menjadi ahli Al-Quran dan jangan sampai merendahkan para ulama yang mana mereka adalah para pengajar dan ahli Al-Qur’an. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top