Kabar

Belajar dari Kisah Adam & Thalut dalam Merefleksi Kepemimpinan Hari Ini

Padasuka.id,- Kepemimpinan dan ilmu menjadi kajian khusus dalam ceramah Tarawih di Masjid Nurul Falah, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, pada Jum’at malam (17/5/2019).

Pengurus Masjid Nurul Falah saat memberikan kata pengantar

Sebagai penceramah, Ustadz Abdul Hakim Abubakar, S.Pd.I, antara lain mengurai tentang kriteria pemimipin yang kisahnya diabadikan dalam kitab suci Al-Qur’an. Yakni kisah Nabi Adam dan Thalut. Kenapa dua tokoh ini dipercaya menjadi pemimpin, karena mereka memiliki kelebihan yang menjadi kriteria bagi seorang pimpinan. Kenapa kisah tentang hal ini diabadikan oleh Allah SWT di dalam kitab suci-Nya, tentu saja agar dijadikan pelajaran bagi manausia di dalam menentukan seorang pemimpin.

Dalam uraiannya, Ustadz Hakim memulai dari ayat yang menerangkan ketaatan para malaikat menjalankan perintah Allah SWT untuk bersujud kepada Nabi Adam, kecuali iblis. Di mana menurutnya, pembangkangan iblis untuk sujud kepada Adam, walaupun itu perintah Allah SWT, karena terdapat kesombongan dalam dirinya. Iblis merasa lebih senior, karena ia lebih dulu dicipta; merasa lebih mulia karena ia dicipta dari api. Sementara Adam adalah pendatang baru alias junior; sudah begitu, ia pun diciptakan dari tanah yang dalam pandangan iblis itu lebih rendah dari dirinya.

“Maka itu para jamaah sekalian, jika ada orang yang merasa lebih mulia dari yang lain, itu sama saja dengan sifat iblis. Begitu pula, jika ada orang yang membangga-banggakan asal-usulnya; misalkan karena ia keturunan orang-orang tertentu, berdarah biru, bernasab nyambung sampai ke anu bin anu, lalu menganggap yang tak senasab seperti dirinya adalah lebih rendah.. Maka orang itu juga sama dengan….” Tanya Ustadz Hakim yang dijawab, “Iblis…” oleh sebagian jamaah.

Iblis tidak mau sujud kepada Adam, walaupun itu perintah Allah, karena merasa nasab dia ke api itu lebih mulia ketimbang nasab Adam yang ke tanah. Hal-hal seperti itu, juga terjadi pada hari ini. Iblis mengabaikan perintah Allah karena bernasab ke api, sekarang pun juga demikian. Jelas-jelas Allah berfirman, orang yang paling mulia di sisi Allah itu adalah orang yang paling bertakwa. Tapi ayat ini dilanggar. Kenapa? Ya, karena asal-usul itu tadi,” papar Ustadz Hakim menegaskan.

Ust. Abdul Hakim Abubakar, S.Pd.I

Pada bagian berikutnya, alumni Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Qur’an (PTIQ) Jakarta ini melanjutkan, meskipun Nabi Adam berasal-usul dari tanah, tetapi dia dibekali ilmu pengetahuan oleh Allah SWT. Sehingga, kemudian Adam dipercaya menjadi pemimpin, seraya membaca ayat:

وَعَلَّمَ اٰدَمَ الْاَسْمَآءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلٰٓئِكَةِ فَقَالَ اَنْبِۢـئُوْنِيْ بِاَسْمَآءِ هٰۤؤُلَآ ءِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

Artinya: “Dan Dia (Allah) ajarkan kepada Adam nama-nama (benda) semuanya, kemudian Dia perlihatkan kepada para malaikat seraya berfirman, “Sebutkan kepada-Ku nama semua (benda) ini, jika kamu yang benar!” (QS: Al-Baqarah: 31)

Melihat dari ayat ini, maka kemudian Allah SWT mengangkat Nabi Adam alaihis salam, menjadi pemimpin. Menelaah dari fakta ini, maka seorang pemimpin itu mestinya dilihat dari sisi ilmu pengetahuannya. Bukan karena dia anak siapa, berasal dari mana, serta tidak pula dilihat dari kekayaannya,” tandas Ustadz Hakim.

Masih seputar kriteria seorang pemimpin dari sisi keilmuannya, Ustadz Hakim lalu mengutip ayat:

وَقَالَ لَهُمْ نَبِيُّهُمْ إِنَّ اللَّهَ قَدْ بَعَثَ لَكُمْ طَالُوتَ مَلِكًا ۚ قَالُوا أَنَّىٰ يَكُونُ لَهُ الْمُلْكُ عَلَيْنَا وَنَحْنُ أَحَقُّ بِالْمُلْكِ مِنْهُ وَلَمْ يُؤْتَ سَعَةً مِنَ الْمَالِ ۚ قَالَ إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَاهُ عَلَيْكُمْ وَزَادَهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَالْجِسْمِ ۖ وَاللَّهُ يُؤْتِي مُلْكَهُ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya: “Nabi mereka mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Allah telah mengangkat Thalut menjadi rajamu.” Mereka menjawab: “Bagaimana Thalut memerintah kami, padahal kami lebih berhak mengendalikan pemerintahan daripadanya, sedang diapun tidak diberi kekayaan yang cukup banyak?” Nabi (mereka) berkata: “Sesungguhnya Allah telah memilih rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa.” Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Luas pemberian-Nya lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 247)

Nah, apa yang diungkap pada ayat ini, sering terjadi di masa sekarang. Meremehkan orang lain untuk jadi pemimpin karena latar belakang hartanya. Atau, ada kecenderungan memilih pemimpin karena kekayaannya. Mereka menganggap, bahwa dengan harta kekayaan itu akan dapat memerintah dengan baik. Padahal, jelas difirmankan, diangkatnya Thalut sebagai pemimpin itu karena keluasan ilmunya, bukan karena kekayaannya, juga bukan karena leluhurnya. Juga difirmankan, Thalut dianugerahi tubuh yang perkasa. Perkasa di sini, bukan berarti badannya saja yang sterek, gempal atau ateletis, tetapi cekatan dalam bekerja, tuntas dalam tugas dan sebagainya,” urai Ustadz Hakim merefleksikan pada masa kekinian.

Ustadz Hakim juga mengingatkan, di ujung ayat tersebut difirmankan, “Allah memberikan pemerintahan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” Oleh karena itu, selain kriteria ilmu yang harus melekat pada seorang pemimpin, juga harus diingat, bahwa ada campur tangan Allah SWT dalam soal kepemimpinan atau kepala pemerintahan. Menelaah dari sisi ini, sudah semestinya sebagai ummat Islam yang kitab sucinya adalah Al-Qur’an, dalam persoalan kepemimpinan, baik itu presiden, gubernur, dan yang lainnya, harus mengacu pada Al-Qur’an.

Sebagai ummat Islam yang beriman pada Allah SWT dengan kitab suci-Nya Al-Qur’an, ikutilah petunjuk Al-Qur’an,” tandasnya. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top