Kabar

Inilah Awal Penyebab Kerusakan; Ulasan Ramadhan dari Abu Dhabi

Padasuka.id,- Seperti telah diberitkan sebelumnya, Kamis (16/5/2019) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab (UEA) menggelar acara buka puasa bersama di rumah dinas Duta Besar RI untuk Abi Dhabi, H.E. Mr. Husin Bagis. Sesuai undangan, Warga Negara Indonesia (WNI) dari berbagai wilayah di negara ini berdatangan mengikuti acara tersebut, termasuk dari wilayah yang cukup jauh, seperti dari kota Dubai, Ruwais, Al-Ain dan lain-lain.

Suasana buka bersama di KBRI Abu Dhabi, UEA

Sesaat sebelum memasuki waktu berbuka puasa, dalam kata sambutannya, Duta Besar Republik Indonesia untuk Abu Dhabi, Husin Bagis, berpesan kepada semua WNI yang tinggal di UEA agar senantiasa menjaga persaudaraan dan perdamaian. Serta, tidak terpancing dengan kondisi politik yang terjadi di tanah air pasca Pemilu.

Kemudian, ketika memasuki waktu Isya’ dilanjutkan dengan shalat Isya’ dan Tarawih berjamaah. Bertindak sebagai penceramah dan imam shalat adalah Ustadz Muhammad Saharuddin, SQ, M.Ag, seorang imam tetap di Masjid Besar Kota Ruwais, Abu Dhabi, asal Jeneponto, Sulawesi Selatan.

Ustadz Sahar saat menyampaikan ceramahnya

Dalam uraian ceramahnya, Ustadz Sahar, sapaan akrab lulusan PTIQ Jakarta ini mengurai tentang hakikat puasa. Ia memaparkan, makna terpenting dari puasa adalah kemampuan menahan diri dari ego dan hal-hal yang terlarang, bahkan dari hal-hal yang diperbolehkan sekalipun.

Puasa mengajarkan kita dari hal-hal yang tidak boleh dan dari hal-hal yang boleh. Kenapa? Karena kita dilatih agar terbiasa dan mampu menahan diri,” tuturnya lalu melanjutkan.

Karena itu, semua jenis kejahatan yang dilakukan oleh manusia, adalah akibat dari ketidakmampuan mengendalikan diri, ego atau nafsu,” jelasnya.

Maka, semua bentuk kerusakan berawal dari ketidakmampuan manusia menahan diri dan egonya. Termasuk ketidakmampuan menahan diri dari men-share dan mem-forward berita-berita bohong alias hoax dan postingan-postingan yang mengandung provokasi ke media sosial,” urainya lebih lanjut.

Diungkapkan pula, terkait dengan kebiasaan sebagian masyarakat dalam menyikapi kontestasi politik yang cenderung saling membenci hanya karena beda pilihan.

Bahkan keinginan yang mendorong sesorang untuk membenci orang lain hanya karena lantaran berbeda pilihan, adalah merupakan dorongan nafsu, yang di dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan nafsu ‘ammârah bissû‘.”

Ustadz Sahar (kiri) bersama Dubes RI Abu Dhabi, H.E. Husin Bagis

Oleh karena itu, Ustadz Sahar berpesan, “Orang yang puasanya berhasil adalah mereka yang mampu menahan dirinya, jangankan dari hal-hal yang dilarang, bahkan juga dari hal-hal yang boleh, misalnya menahan diri dari mengkonsumsi makanan berlebihan, membeli barang mewah meski tidak terlalu dibutuhkan, dan sebagainya. Orang yang seperti ini akan mampu menahan dirinya dari amarah, benci; apalagi menghina sesamanya. Ia akan berjiwa pemaaf dan hanya menyebarkan cinta dan kasih sayang terhadap sesama. Dan inilah yang dimaksud oleh Al-Qur’an sebagai orang yang ‘tattaqûn.”

Pada intinya Ustadz Sahar berpesan kepada para jamaah agar kembali pada tujuan dari diwajibkannya berpuasa itu sendiri, yakni untuk mencapai ketakwaan kepada Allah SWT. Maka itu, ia menegaskan, jadikanlah puasa sebagai momentum melatih diri untuk dapat menahan kemauan nafsu atau ego yang mendorong pada perbuatan yang buruk. Sebab, ketidakmampuan mengendalikan diri itulah yang menjadi penyebab awal kejahatan dan kerusakan. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top