Kabar

Unik! Sambut Idul Fitri dengan Lomba Musik Perkusi Tradisi-Kontemporer

Padasuka.id,– Beragam cara kaum muslimin dalam mengekspresikan kegembiraan saat menyambut tibanya Hari Raya Idul Fitri. Secara umum biasanya menggelar takbir keliling dengan iringan tabuhan beduk. Terbilang berbeda dengan yang umum adalah yang digelar di depan gerbang Pondok Pesantren At-Tahririyah, Tajung Pangpajung, Modung, Bangkalan, (Madura), Jawa Timur, Selasa malam (4/6/2019).

Penampilan peserta lomba

Di depan gerbang yang berada di tepi jalan raya lintas selatan Kabupaten Bangkalan tersebut, setiap malam Idul Fitri, sejak beberapa tahun lalu, digelar lomba ‘Gema Takbir Berjalan.’ Pada malam lebaran kali ini diikuti oleh 15 grup sebagai pesertanya. Para peserta yang menyemarakkan lomba, selain dari grup yang berdomisili di Kecamatan Modung, Kabupaten Bangkalan, ada juga yang datang dari Kecamatan Sreseh, Kabupaten Sampang.

Tampak peserta memikul sambil memainkan alat musiknya yang terbuat dari drum

Walau diberi nama ‘Gema Takbir Berjalan’, bukan berarti berisi takbiran diiringi alat musik sambil berjalan, melainkan satu perlombaan grup musik yang dimainkan di atas panggung. Hanya saja, jenis alat musik serta warna musiknya adalah yang biasa dibawakan saat membangunkan sahur di bulan Ramadhan sambil berjalan keliling kampung. Mungkin lebih tepatnya, dapat dikatakan, lomba musik sahur.

Kapolsek Modung menyerahkan hadiah pada salah satu grup

Sebagaimana lazimnya musik sahur, semua alat musik yang dipakai terdiri dari jenis musik tabuh (perkusi). Menarik di sini, warna kesederhanaan alat musiknya malah menjadi ciri khas yang menonjol, seperti drum plastik bekas dan kentongan. Malahan, karena menggunakan drum besar, maka harus dipikul oleh dua orang. Kecuali dua alat musik ini, juga ada yang dilengkapi dengan gendang, gambang, dan tamborin. Meskipun terbilang sederhana, namun mampu menghasilkan harmoni bunyi yang cukup indah. Sentuhan warna kontemporer pada alat musik yang serba tradisional itu menjadikan ajang ini semakin terasa unik dan menarik.

Kedes Pangpajung, Bpk. Mukib, foto bersama seusai menyerahkan hadiah

Sementara untuk lagu yang dibawakan oleh masing-masing peserta, terdiri dari lagu-lagu yang bernuansa religi, shalawatan, dan takbiran. Tampak agak berbeda dengan yang lain, satu peserta grup asal Desa Serabi Barat, Kecamatan Modung, membawakan lagu Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Dari 15 grup yang menjadi peserta, terpilih 6 grup sebagai juaranya, yang diurut dari juara harapan 3–1 dan juara 3–1. Adapun peraih juara satunya adalah Grup Bandar 88 berasal dari Kampung Sendih, Desa Patereman, Kecamatan Modung, Bangkalan.

Kades Brakas Daya, Bpk. Bahrun, foto bersama peraih juara pertama

Gelaran lomba di malam lebaran ini ternyata dapat memberikan tontonan alternatif yang dapat menyedot penonton. Karenanya, suasana lomba terpantau sangat meriah. Ajang ini juga menjadi wahana silaturrahim antar tokoh, aparat, dan masyarakat. Tampak sejumlah kepala desa dari beberapa wilayah kecamatan turut hadir memeriahkannya. Tidak ketinggalan, Kapolsek Modung –selaku wilayah kecamatan yang menjadi tuan rumah– hadir bersama sejumlah personelnya.

Secara umum ajang tahunan ini, selain menjadi wahana silaturrahim, memberikan tontonan alternatif, juga dapat memberi ruang bagi para kreator seni musik sahur. Dalam kata lain, kegiatan ini sebagai bentuk apresiasi bagi kaum muda dalam mengekspresikan kegemaran mereka pada seni musik tradisi-kontemporer.

Kembali lagi pada alat musik, dalam lomba kali ini terdapat keunikan lain dari sisi alat musik pada satu grup asal Dusun Telaga, Desa Patengteng, Kecamatan Modung, yang tampil dengan memadukan dua sentuhan jenis alat musik khas. Kekhasan pertama, tentu pada jenis alat musik sahur yang menggunakan drum dan sejenisnya. Sedangkan kekhasan yang kedua, terletak pada penggunaan gendang dan beberapa kentongan yang merupakan alat musik khas kesenian masa lalu.

Ahmad (paling kiri) memperlihatkan beberapa alat musik khasnya seusai acara

Seusai acara, kepada Padasuka.id, pembina grup tersebut, Ahmad, mengungkapkan bahwa beberapa alat musik tradisional yang dimainkan personelnya merupakan alat tinggalan seni masa lalu yang disebut Guduk Topeng. Secara utuh, lanjutnya, kesenian khas Madura yang hampir punah itu memiliki ciri khusus pada ketukan musiknya yang dipadu dengan gerakan teatrikal.

Dalam perlombaan musik sahur kali ini, ungkap Ahmad, ia memasukkan unsur alat musik tersebut untuk memberikan sentuhan rasa (taste) yang berbeda pada musik sahur yang umumnya didominasi oleh drum dan gambang. Adapun alat musik yang dimaksud, terdiri dari satu ‘gendang jaranan’ dan empat kentongan kayu dengan ukuran yang berbeda-beda. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top