Kabar

Mengacu Pada Ketetapan Kemenag, Hari Ini Warga Madura Berlebaran Lagi

Padasuka.id,- Indonesia memiliki beragam budaya yang bermuatan nilai-nilai keagamaan. Dan, sebagian budaya itu masih lekat dan lestari sampai hari ini. Satu di antaranya adalah dua kali lebaran di bulan Syawal pada kalender Hijriyah.

Sesuai sidang itsbat, Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama (Kemenag) menetapkan Idul Fitri, 1 Syawal 1440 H jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019. Yang mana, penetapan ini menjadi hari lebaran yang dirayakan secara nasional oleh kaum muslimin di negeri ini, meskipun ada sebagian kelompok yang berlebaran lebih awal satu dan dua hari serta lebih mundur satu hari.

Suasana pasar tradisional di Madura sehari sebelum Lebaran Ketupat (Foto: Media Madura)

Mengikuti penetapan pemerintah sebagai hasil ijma’ yang melibatkan para ahli dan perwakilan organisasi keagamaan Islam; hari ini, Rabu 12 Juni 2019 warga Madura dan sebagian warga Jawa Timur kembali berlebaran. Yang dimaksud adalah lebaran kedua setelah 1 Syawal yang disebut dengan, Telasen Tong Areh (Lebaran Tujuh Hari) atau Telasen Topa (Lebaran Ketupat).

Hari ini, kami warga Madura dan sebagian warga Jawa Timur merayakan lebaran kedua di bulan Syawal ini. Yang pertama, tentu lebaran Idul Fitri pada tanggal 1 Syawal, seminggu yang lalu. Yang kedua, ya hari ini tanggal 8 Syawal,” ungkap Muhammad, salah seorang warga Bangkalan, Madura, Jawa Timur.

Muhammad Nasir Saat Mendoakan ‘Rebba’ Ketupat

“Ini namanya Telasen Tong Areh atau Telasen Topa’. Disebut telasen atau lebaran Tong Areh, karena dilaksanakan setelah ‘pettong areh’ atau tujuh hari dari lebaran Idul Fitri 1 Syawal. Nah, saat merayakan Idul Fitri, kami mengikuti penetapan pemerintah, 1 Syawalnya jatuh pada Rabu 5 Juni 2019, maka tujuh hari setelah itu, ya hari ini, Rabu 12 Juni 2019. Kemudian, disebut Telasen Topa’ karena kami merayakannya dengan ketupat. Jadi kalau di Madura, saat Idul Fitri ndak ada hidangan ketupat kayak di Jakarta atau daerah lain, karena ketupat punya lebaran sendiri. Ketupat punya tempat dan arti khusus dalam berlebaran, yaitu dihidangkan setelah orang melaksanakan puasa sunnat Syawal. Jadi untuk makan ketupat lebaran di sini, ya ndak bisa serta merta, menanti tujuh hari dulu… Malah ada yang sambil berpuasa dalam penantian.. Ndak gampang. Tapi sekarang udah mulai jarang yang puasa sunnat, hehehe…” terang Muhammad sambil tertawa.

Sajian Ketupat Ladeh Khas Bangkalan

Dalam lebaran ketupat secara umum diisi dengan saling berbagi ketupat dengan segala perlengkapan lauknya kepada sanak kadang dan tetangga. Dalam istilah Madura disebut, “Ter Ater” (saling mengantar). Kecuali itu, ada seperangkat hidangan ketupat yang dibacakan doa terlebih dulu serta diniatkan sebagai shadaqah untuk leluhur kemudian diserahkan kepada orang tertentu. Tradisi ini disebut “Rebba” –terambil dari kata Jawa, “Ruwah,” dari kata Arab, “Arwah.” Yang intinya mengirimkan pahala shadaqah berupa makanan kepada arwah leluhur yang merupakan bagian dari ajaran Islam.

Kemudian, bagi masyarakat yang memiliki binatang ternak semisal sapi dan kambing, sejumlah ketupat dikalungkan sementara pada ternaknya, lalu diserahkan kepada anak-anak yang biasanya membuntuti saat proses itu dilangsungkan. Sebagian yang lain, ada yang dimakankan pada ternaknya dengan alasan agar piaraannya juga merasakan hidangan lebaran.

Selain berbagi ketupat, dalam lebaran ini, di sebagian daerah Mudura juga dimeriahkan dengan berbagai perlombaan tradisional dan lain sebagainya. Di sebagian daerah pula, malah ada yang lebih semarak suasana lebaran ketupatnya ketimbang lebaran Idul Fitri. (SM)

 

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top