Kabar

Selain Ter Ater, Wisata Pantai Menjadi Pilihan di Lebaran Ketupat

Padasuka.id,- Seperti diberitakan sebelumnya, setelah tujuh hari dari Idul Fitri, masyarakat Madura dan sebagian Jawa Timur merayakan hari raya yang kedua. Yaitu, Lebaran Tong Areh (Tujuh Hari) atau Lebaran Ketupat. Tahun ini, 1 Syawal yang jatuh pada Rabu, 5 Juni 2019, ditarik mundur tujuh hari, maka lebaran ketupatnya jatuh pada Rabu, 12 Juni 2019. Jadi, bilangan tujuh harinya dihitung satu hari setelah Idul Fitri atau bersamaan dengan awal puasa sunnah Syawal. Pada lebaran kedua inilah masakan ketupat dihidangkan dengan beragam tradisi di masing-masing daerah di pulau garam tersebut.

Tradisi “Ter Ater” di Hari Raya bagi Warga Madura

Seperti Idul Fitri, pada lebaran ketupat ini juga ada tradisi “Ter Ater” (saling antar) ketupat dan hidangan lainnya ke sanak keluarga dan tetangga. Hal ini, sebagai wahana saling berbagi dan silaturahmi di hari raya. Tidak hanya kerabat yang dekat, yang jauh pun juga sama. Bahkan, ada sebagian warga yang memang mengkhususkan silaturahmi pada lebaran ketujuh ini. Sebab, pada lebaran Idul Fitri-nya sudah sibuk menerima tamu dan sebagainya. Selain Ter Ater, ada juga tradisi sedekah ketupat yang disebut “Rebbe” serta sedekah ketupat atas hewan ternak yang dimilikinya.

Dalam merayakan lebaran ketupat, setiap daerah di Madura memiliki tradisi berbeda. Ada yang sekedar Ter Ater dan Rebbe, ada juga yang dilengkapi dengan shalat sunnat dan doa bersama. Satu misal di Kabupaten Pamekasan, di wilayah ini, saat pagi hari masyarakat membawa ketupat ke langgar atau masjid. Setelah semua warga berkumpul lalu dilaksanakan shalat sunnat dua rakaat. Setelah itu dilanjutkan dengan doa bersama. Rampung semuanya, mereka lalu berbagi ketupat yang sudah terkumpul dan makan bersama. Sebagian ketupat dan hidangan yang tersisa dibawa pulang ke rumah masing-masing.

Di luar tradisi seperti diungkap di atas, ada juga tradisi hiburan seperti arak-arakan delman yang umum dilakukan masyarakat Camplong, Kabupaten Sampang. Pelaksanaan berbagai macam lomba tradisional, dan lain sebagainya.

Tidak ketinggalan, bagi kalangan muda berwisata pantai menjadi pilihan yang paling diminati, setelah tradisi inti lebarannya di pagi hari sudah rampung. Sebagai wilayah yang dikelilingi laut dan selat, Madura memiliki banyak lokasi wisata pantai, baik yang bertaraf regional, nasional, bahkan internasional.

Salah satu sudut Pantai Rongkang

Untuk Kabupaten Bangkalan, khusus di suasana Lebaran Ketupat, pantai yang paling dikenal ramai adalah Pantai Rongkang. Lokasinya terletak di daerah Kwanyar Barat, Kecamatan Kwanyar. Di pantai ini, kondisi alamnya masih perawan, tetumbuhan meliar di sisi dan tebing pantai, serta dihiasi beragam batuan yang indah untuk tempat berfoto. Dari pantai ini pula, bentangan jembatan Suramadu yang menyambung Pulau Jawa (Surabaya timur) dengan Pulau Madura terlihat jelas, sehingga menjadi semakin indahnya suasana. Kecuali itu, di pantai ini tersedia sampan-sampan nelayan yang disewakan bagi wisatawan yang ingin menikmati perjalanan di selat Madura di sekitar wilayah tersebut.

Indahnya Pantai Lombang (Foto: Istimewa)

Masih seputar wisata pantai, Madura memiliki destinasi wisata yang luar biasa indahnya di belahan timur pulau ini. Yakni, Pantai Lombang. Disebut demikian, karena pantai ini terletak di Desa Lombang, Kecamatan Bata-bata, Kabupaten Sumenep –sekitar 45 menit dari pusat Kota Sumenep dengan kendaraan bermotor. Pantai ini berisi hamparan pasir putih yang bersih serta dilindungi pohon-pohon cemara udang yang tergolong langka. Yakni, pohon cemara yang bentuknya membungkuk seperti udang, alias tidak seperti cemara pada umumnya yang menjulang tinggi dan tegak lurus. Oleh karenanya, cemara di pantai ini disebut “Cemara Udang.”

Salah satu sudut Pantai Lombang (Foto: Istimewa)

Menurut berbagai sumber, adanya cemara udang yang pada 1980-an dibuat bonsai kemudian tersebar ke mana-mana, berawal dari daerah ini. Disebutkan pula, kehadiran cemara udang di Pantai Lombang erat kaitannya dengan ekspedisi besar Kekaisaran Tiongkok dalam mengarungi perairan Nusantara pada abad ke-15 M yang dipimpin Jenderal The Ho, Mahuan, dan Ong Keng Hong. Mereka dikenal dengan sebutan Sam Po Tao Lang atau dalam logat Jawa disebut Dampo Awang. Ekspedisi ini terdiri dari 62 kapal besar dengan 27.800 pasukan serta memuat aneka ragam barang; mulai piring, gelas, hingga beberapa jenis pohon. Namun malang, di antara kapal-kapal itu ada yang terdampar di daerah Lombang, sehingga ratusan pohon dan bibit cemara udang berserakan di sepanjang pantai lalu tumbuh hingga kemudian membentuk hutan cemara udang.

Di suasana Lebaran Ketupat, pantai yang dikenal dengan udaranya yang segar atas tiupan angin pada jejeran cemara udang serta hamparan pasir yang putih bersih, menjadi pilihan paling vaforit. Saking bersihnya pasir di pantai ini, wisatawan bisa tidur-tiduran atau rebahan di atas pasir untuk mendinginkan badan di tengah cuaca yang sangat panas.

Walau lebaran ketupat tahun ini sudah berlalu, tapi Pantai Lombang masih setia menanti anda. Ada yang penasaran? Silahkan datang ke wilayah yang pada masa lalu berada di bawah kekuasaan leluhur Sunan Kalijaga tersebut. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top