Kabar

Ada Serat Wulang Reh dalam Majelis Munajat di Bulan Syawal

Padasuka.id,– Serat Wulang Reh karya Sri Susuhunan Pakubuwana IV adalah tembang sastra yang disusun dalam bahasa Jawa. Serat karya Raja Surakarta yang bertahta sejak 29 November 1788 hingga akhir hayatnya (1 Oktober 1820 M) tersebut, memuat beberapa bait pesan berharga untuk mencapai tata kehidupan yang baik guna menuju pada sejatinya kehidupan.

Kata “Wulang” bersinonim dengan kata “Pitutur” yang berarti ajaran. Sedangkan kata “Reh” berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti jalan. Sehingga, Wulang Reh dapat diartikan sebagai: “Petunjuk jalan kebaikan,” atau “Ajaran untuk mencapai jalan kebaikan.” Beberapa bait tembang masa lalu itu disenandungkan dalam acara rutinan Majelis Munajat di Jl Nurul Falah, Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu malam (15/6/2019).

Pembacaan Kitab Munajat Kumpulan Wirid dan Doa-doa Al-Qur’an secara berjamaah di majelis ini adalah rutinan kali pertama di bulan Syawal pasca Idul Fitri 1440 H. Menurut pimpinan majelis, Ustadz Mukhlis, selama bulan suci Ramadhan pembacaan Kitab Munajat berjamaah di majelisnya tidak diliburkan, namun pada malam Minggu yang lalu sempat diliburkan karena waktunya mepet dengan lebaran dan sebagian jamaahnya ada yang pulang kampung.

Seusai pembacaan Kitab Munajat, Ustadz Mukhlis memberikan siraman rohani kepada para jamaahnya terkait dengan takwa. Ia menuturkan, tujuan puasa Ramadhan adalah untuk mencapai ketakwaan kepada Allah SWT. Sehingga, meskipun puasa sifatnya sangat pribadi, di dalam menjalankannya dilandasi dengan ketaatan pada Allah SWT. Ia mencontohkan, saat puasa, umpama mau minum secara sembunyi tidak akan ada orang yang tahu. Namun karena taat kepada Allah dan yakin Dia tetap melihat kita, maka hal itu tidak dilakukan. Nah, tandasnya, jika hal ini tetap dipertahankan setelah puasa, maka tujuan dari puasa itu telah diraihnya. Sederhananya, jika merasa diri selalu diperhatikan oleh Allah SWT di manapun kita berada sehingga tidak mau mengerjakan apapun yang dilarang oleh-Nya, di situlah hakikat takwa telah diraih, buah dari latihan di saat berpuasa di bulan Ramadhan.

Mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, “Bertakwalah di manapun kalian berada,” Ustadz Mukhlis kemudian memberikan contoh kisah ketaatan seorang santri kepada kiainya saat diuji menyembelih burung di manapun tempat yang sekiranya tidak ada yang dapat melihat dia. Namun ternyata, si santri tidak dapat menyembelih burung itu, karena di manapun dia bersembunyi di situ ada Allah SWT Yang Maha Mengetahui.

Dari kiri Ki Jenar, Ust. Muhklis.

Berkenaan dengan kisah di atas, Ustadz Mukhlis menghimbau, agar ketaatan kita kepada guru karena dilandasi ketakwaan kepada Allah SWT. Bukan taat karena rasa takut disalahkan atau karena ingin dipuji. Hal ini, lanjutnya, juga berlaku di dalam mengamalkan Kitab Munajat. Yang mana, lanjutnya lagi, dalam mengamalkan Kitab Munajat kita harus mentaati rambu-rambu yang telah ditentukan oleh sang penyusun. Yakni, amalkan saja sesuai dengan yang dituntunkan oleh sang penyusun; jangan keluar dari itu, apalagi sampai improvisasi. Karena, tegasnya, sang penyusun tentu lebih faham dari apa yang telah disusunnya ketimbang orang yang hanya mengamalkan. Terlebih lagi, Kitab Munajat adalah mutiara-mutiara Al-Qur’an yang merupakan Kalam Tuhan yang suci dan sakral.

Terkait dengan Al-Qur’an dan guru, pada bagian berikutnya, seorang penembang, Ki Jenar, merespon denga Wulang Reh. Di antaranya ia tembangkan pupuh 1 (Dhandanggula) bait 3 dan 4, sebagai berikut:

Bait 03
Jroning Kur’an nggonira sayekti, nanging ta pilih ingkang uninga, kajaba lawan tuduhe, nora kena den awur, ing satemah nora pinanggih, mundak katalanjukan, temah sasar-susur, yen sira ayun waskita, sampurnane ing badanira, punika sira anggegurua.”

Artinya:
Di dalam Al-Qur’an tempatmu mencari kebenaran sejati, hanya yang terpilih yang akan memahaminya, kecuali atas petunjuk-Nya. Tiadk boleh dicampur-adukan, tak mungkin kau temukan (kebenaran isyarat), bahkan kau semakin tersesat. Jika kau menghendaki kesempurnaan dalam dirimu, maka bergurulah.

Bait 04
Nanging yen sira ngguguru kaki, amiliha manungsa kang nyata, ingkang becik martabate, sarta kang wruh ing kukum, kang ngibadah lan kang ngirangi, sukur oleh wong tapa, ingkang wus amungkul, tan mikir pawewehing liyan, iku pantes sira guronana kaki, sartane kawruhana.”

Meskipun begitu, jika engkau berguru, Nak. Pilihlah guru yang sebenarnya, tinggi martabatnya, memahami hukum, dan rajin beribadah. Syukur-syukur jika kau temukan seorang pertapa yang tekun dan tidak mengharapkan imbalan orang lain, dia pantas kau gurui. Serta ketahuilah.

Sebagaimana pesan dari dua bait di atas, urai Ki Jenar, di Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) sudah sangat tepat. Panduan hidup dan amaliahnya adalah Al-Qur’an, yaitu Kitab Munajat. Sementara sebagai guru pembimbingnya juga masuk dalam kriteria pada bait yang kedua. Terkait dengan kata “pertapa,” imbuhnya, jangan diartikan sebagai pertapa di goa atau di gunung, melainkan bahasa kiasan yang menggambarkan kepribadian sederhana; tidak bergantung pada dunia, andaipun ia dikelilingi gemerlap dunia. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top