Kabar

Tips Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga Ala Syuraih Al-Qadhi

Padasuka.id,- Menjalani kehidupan berumah tangga ibarat menaiki biduk di tengah samudra, berhias goncangan gelombang dan berselimut hempasan angin, bahkan badai. Maka tak sedikit pasangan yang terhempas lalu kandas, meskipun sudah puluhan tahun menjalani rumah tangga, termasuk yang sudah beranak cucu sekalipun. Namun di balik itu semua, terdapat banyak cara agar biduk rumah tangga tetap langgeng hingga maut yang memisahkannya. Satu dari sekian cara itu adalah upaya yang dilakukan oleh seorang ulama terkemuka di masanya yang juga menjabat sebagai Qadhi (Hakim), dia adalah Syaikh Syuraih Al-Qadhi. Kisah rumah tangga ulama tabi’in ini layak dicontoh, sebagaimana kisahnya disampaikan oleh Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, saat mengisi Pengajian Akbar dalam rangka tasyakkuran pernikahan Fathul Riza dengan Agustina di daerah Kedung Banteng, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Senin malam (17/6/2019).

Kisah penuh hikmah dari kehidupan rumah tangga Syuraih Al-Qadhi disampaikan oleh Kiai Syarif, khususnya, untuk kedua mempelai dengan harapan agar mereka dapat meneladaninya. Yakni, dapat menjalani kehidupan rumah tangga yang sakinah serta dapat melahirkan generasi yang shaleh dan shalehah.

Alur kisah tersebut, dimulai dari kedatangan pasangan muda, yang kala itu, menghadap Syuraih Al-Qadhi dengan tujuan untuk mengakhiri pernikahan mereka. Kemudian, sang hakim yang dikenal sangat bijak itu menuturkan kisah rumah tangganya yang indah hingga langgeng sampai di hari tua.

Kepada pasangan muda itu, Syuraih mengisahkan bagaimana rumah tangganya bisa tetap harmonis, sehingga tiada terbayang baginya untuk mengakhiri pernikahan. Ternyata, bukan berarti tidak ada riak gelombang dalam menakhodai bahtera rumah tangga. Namun jika hal itu terjadi, Syuraih selalu mengingat masa indah di saat ia dan istrinya melewati malam pertama yang berhias ibadah.

Suasana Jemaah

Suasana Jemaah 

Dikisahkan, ketika pernikahan Syuraih dan istrinya memasuki hari pertama, ia berkata kepada sang istri, “Istriku, termasuk sunnah jika laki-laki bersatu dengan istrinya untuk shalat dua rakaat dan dia pun demikian.” Lalu, Syuraih berdiri hendak menunaikan shalat, lalu menoleh ke belakang, ternyata sang istri juga ikut shalat.

Berikutnya, setelah suasana rumah telah sepi, ia mendekati sang istri seraya menjulurkan tangan ke arahnya. Sang istri pun berkata, “Tetaplah di tempatmu… Demi Allah, aku tidak akan melangkah kecuali untuk sesuatu yang diridhoi oleh-Nya. Dan, kamu adalah laki-laki asing di mataku, aku belum mengenal kepribadianmu. Maka dari itu aku ingin mengetahuinya…”

Melanjutkan kisah di atas, Kiai Syarif lalu menirukan kata-kata Syuraih yang menirukan kata-kata istrinya.

Saat malam pertama itu, dengan santun istri Syuraih berkata kepada sang suami:

“Mas, katakan padaku, apa yang kamu suka, agar aku bisa melakukannya…”

“Mas…”
Maas…” Sambung jamaah kompak mengikutinya.

“Katakan padaku, apa yang kamu tidak suka agar aku bisa menjauhinya.”

“Mas…”
Maas…” Sambung jamaah kembali mengikutinya.

“Katakan kepadaku, siapa orang yang boleh kubukakan pintu untuk berkunjung kepadamu. Dan, siapa yang tidak boleh, agar aku kunci rapat-rapat pintu rumah baginya….”

“Mas…”
Maas…” Sambung jamaah kembali mengikuti sambil diiringi tawa renyah.

Singkat cerita, setelah perbincangan itu, Syuraih dan sang istri melalui malam pertamanya penuh dengan keindahan. Dan, kisah indah bertabur ibadah di malam itu sangat ampuh menjadi peredam jika terjadi persoalan di dalam rumah tangganya.

KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA (tengah) foto bersama kedua mempelai (kiri) dan kedua orang tuanya (kanan)

Sederhananya, salah satu cara untuk merawat keharmonisan rumah tangga, jadikan malam pertama sebagai malam terindah bertabur ibadah. Kemudian, bangkitkan kenangan indah itu jika kelak terjadi persoalan rumah tangga, niscaya persoalan akan lerai dengan sendirinya.

Selain menyampaikan kisah Syuraih, agar rumah tangga tetap awet dan bahagia, Kiai Syarif juga berpesan agar berhati-hati terhadap pihak ketiga. Dijelaskan, peristiwa terusirnya Adam dan Hawwa yang tengah bahagia di dalam surga sehingga akhirnya merekapun terpisah dan ditempa krisis ekonomi, disebabkan karena adanya pihak ketiga, yaitu iblis. Maka, jika hal ini dapat diantisipasi, niscaya keutuhan rumah tangga akan tetap terjaga. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top