Wawasan

Piwulang Kanjeng Sunan Tentang Orang yang Menajisi Masjid

Seekor anjing melenggang santai di atas pelataran (Ilustarsi/Ist.)

Padasuka.id-Bogor. Pada hari Minggu Minggu (30/6/2019) sekitar pukul 14.00 WIB) seorang wanita datang dan masuk ke dalam Masjid Jami Al-Munawaroh, Sentul City, Bogor, Jawa Barat, sambil berteriak mengatakan bahwa suaminya dinikahkan di dalam masjid itu.

Aksi wanita tersebut terekam dalam video berdurasi sekitar 1 menit 9 detik dan menjadi perbincangan yang ramai di media sosial. Pasalnya, wanita berkacamata itu menggunakan sandal saat masuk ke masjid sambil membawa anjing, kemudian terjadi pembicaraan dengan orang yang berada di dalam masjid dengan nada tinggi.

Peristiwa yang terjadi di Masjid Al Munawaroh, Centul City, Bogor

Dalam percakapannya, terdengar suara wanita itu mempertanyakan suaminya yang katanya dinikahkan di masjid tersebut.

Suami gue kenapa dikawinin di sini,” tanya wanita itu sembari menaruh anjingnya di atas karpet masjid.

Aksi dorong sempat terjadi dan dalam video itu tergambar jamaah berusaha mengeluarkan anjing yang sengaja dilepas oleh wanita paruh baya tersebut.

Singkat cerita, video itu kemudian viral melalui media sosial dan media massa. Adapun hal yang menjadi topik bahasan adalah tentang wanita itu tidak melepas sandal serta membawa anjing lalu melepasnya. Di luar sikap si wanita yang kemudian diketahui mengalami gangguan kejiwaan, “barang najis” yang dibawa ke dalam masjid yang menjadi persoalan. Atau dalam kata lain, ia telah “menajisi masjid” sebagai tempat ibadah kaum muslimin.

Berkenaan dengan seseorang yang menajisi masjid, ada piwulang (pelajaran) menarik yang disampaikan oleh Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA. Melalui artikel pendeknya, kiai yang akrab disapa Kanjeng Sunan ini menulis di WAG PADASUKA Pusat, sebagai berikut:

Santai Sajalah

عن أبي هريرةَ رضي اللَّه عنه قَالَ: بَال أَعْرَابيٌّ في المسجِد، فَقَامَ النَّاسُ إِلَيْه لِيَقَعُوا فِيهِ، فَقَالَ النبيُّ صَلّى اللهُ عَلَيْهِ وسَلَّم: ” دَعُوهُ وَأَرِيقُوا عَلى بَوْلِهِ سَجْلاً مِنْ مَاءٍ، أَوْ ذَنُوباً مِن مَاءٍ، فَإِنَّما بُعِثتُم مُيَسِّرِينَ ولَمْ تُبْعَثُوا مُعَسِّرِينَ” (رواه البخاري)

Artinya:
Seorang Arab kampung kencing di dalam Masjid. Orang-orang pun bangkit untuk menyerangnya. Namun Nabi Muhammad SAW bersabda: “Biarkan dia (menyelesaikan kencingnya) dan setelah itu siramkan saja air satu gayung atau satu timba, karena kalian diutus ke tengah masyarakat agar memberi kemudahan dan bukan untuk menyulitkan“. (HR Al-Bukhari)

Kanjeng Sunan (paling kiri) bersama Sultan dan Sultanah dalam acara Halal Bihalal

Jadi, bila diyakini anjing itu bernajis, tinggal keluarkan dan sucikan saja bekasnya. Adapun orangnya? Silahkan baca Hadis di atas. Tapi, lihatlah peristiwa di Bogor itu digoreng untuk menghina satu etnis. Lantas, siapakah panutan mereka? Nabi Muhammad SAW ataukah Syetan zaman Pilpres? Hasbunallah.

(Pondok Cabe, Senin 1 Juli 2019 Jam 18.20 WIB)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top