Kabar

Epos Cinta Putri Bali dan Pangeran Madura di Puri Agung Pemecutan

Bangunan makam Raden Ayu Pemecutan (Foto: Istimewa)

Padasuka.id – Denpasar. Tidak seperti umumnya, sebuah makam di kompleks pemakaman Puri Agung, Kerajaan Pemecutan, di Denpasar Barat, Pulau Bali, sering diziarahi oleh ummat Islam dan ummat Hindu. Ya, makam tersebut adalah ‘tempat peristirahatan terakhir’ seorang muslimah putri seorang raja Pemecutan yang dinikahi seorang pangeran asal Pulau Madura. Di balik keunikan makamnya yang ditumbuhi pohon kepuh, terselip sebuah epos kehidupan; antara derita, cinta, keyakinan, dan prahara.

Konon, Raja Pemecutan memiliki seorang putri yang sangat cantik. Putri yang amat disayanginya itu bernama Gusti Ayu Made Rai, atau yang dikenal dengan sebutan Raden Ayu Pemecutan. Kecantikan sang putri tersohor ke seantero Bali yang membuat para pangeran dari kerajaan lain, ingin mempersuntingnya. Namun sayang, saat ia beranjak remaja, musibah menimpa. Ia terjangkit penyakit kuning. Bertahun-tahun penyakit yang diderita tidak dapat disembuhkan meski sejumlah ‘balian’ (semacam dukun) telah mengobati sang putri. Karenanya, sang ayah kemudian bersemedi memohon petunjuk Yang Maha Kuasa untuk kesembuhannya.

Pohon Kepuh yang tumbuh di makam Raden Ayu Pemecutan (Foto: Istimewa)

Demikian, kisah yang umum beredar tentang ikhwal Putri Raja Pemecutan yang kemudian dipersunting seorang pangeran dari Pulau Madura.

Melansir dari Liputan6.com yang mewawancarai juru kunci makam Raden Ayu Pemecutan, Jro Mangku I Made Puger, pada Rabu (25/5/2016) lalu, diperoleh keterangan, dalam semedinya kala itu Raja Pemecutan mendapat ‘wisik’ agar membuat sayembara.

“Ayah Gusti Ayu Made Rai mendapat pawisik (bisikan dari Yang Maha Kuasa) agar beliau memerintahkan seluruh patih kerajaan untuk mempersiapkan pengumuman sayembara,” tutur Jro Mangku I Made Puger mulai mengurai kisah.

Dikisahkan, pengumuman sayembara itu dilakukan tidak hanya di Bali, melainkan terbuka bagi kerajaan lain di luar Bali. Ada dua titah raja pada sayembara itu: Pertama, barang siapa yang dapat menyembuhkan penyakit anaknya, kalau dia perempuan akan diangkat menjadi anak angkat raja. Kedua, kalau dia laki-laki, jika memang jodohnya maka akan dinikahkan.

“Sabda sayembara Raja Pemecutan didengar oleh ulama dari Yogyakarta. Ulama ini memiliki ilmu kebatinan tinggi dan memiliki anak didik kesayangan dari Bangkalan, Madura, bernama Pangeran Cakraningrat IV,” lanjut Jro Mangku.

Kemudian, ulama dari Yogyakarta itu memanggil Pangeran Cakraningrat IV agar datang ke Yogyakarta. Setelah menghadap, ulama yang tidak disebutkan namanya itu memerintahkan Pangeran Cakraningrat IV untuk pergi ke Bali guna menemui Raja Pemecutan Badung.

Ringkasnya kisah, Pangeran Cakraningrat IV kemudian berangkat ke Bali ditemani oleh 40 orang prajurit. Ketika sampai di Kerajaan Pemecutan, sang pangeran langsung menemui Raja Pemecutan, mengutarakan maksud kedatangannya.

“Pada saat pertemuan pertama dan bertatap mata antara Pangeran Cakraningkrat IV dan Gusti Ayu Made Rai, beliau berdua sudah jatuh cinta,” ucap Jro Mangku.

Selanjutnya, Pangeran Cakraningkrat IV membacakan mantra suci untuk menyembuhkan penyakit sang putri. Atas kehendak Yang Maha Kuasa, sang pangeran berhasil menyembuhkannya.

Sesuai janji raja, keduanya pun lalu dinikahkan. Bukan karena janji semata, pernikahan itu memang dilandasi cinta oleh Pangeran Cakraningkrat IV dan Gusti Ayu Made Rai. Beberapa saat setelah menikah, Pangeran Cakraningrat IV mohon pamit kembali ke Bangkalan, Madura. Gusti Ayu Made Rai yang telah sah menjadi istrinya diajak ikut serta.

Setibanya di Bangkalan, Madura, kedua mempelai diupacarai secara Islam. Gusti Ayu Made Rai pun memeluk agama Islam. Namanya lalu diganti menjadi Raden Ayu Siti Khotijah. Sebagai muslimah ia dikenal rajin menunaikan kewajiban agama, semisal shalat lima waktu dan lainnya.

Berselang waktu, pada suatu hari, Raden Ayu Siti Khotijah meminta ijin kepada suaminya untuk pulang sebentar ke kampung halamannya di Bali.

“Beliau rindu dengan ayah, ibu, dan keluarga besar Kerajaan Pemecutan. Pangeran Cakraningrat IV mengijinkan beliau pulang ke Bali. Beliau memerintahkan pengawal dan dayang-dayang sebanyak 40 orang untuk mengawal Raden Ayu Siti Khotijah,” lanjut Jro Mangku.

Sebelum pergi ke Bali, Pangeran Cakraningrat IV memberikan bekal kepada istrinya berupa guci, keris, dan pusaka yang diselipkan di rambut sang istri.

Di sisi lain, dalam perjalanan Raden Ayu Siti Khotijah dari tanah Bangkalan menuju Bali, keluarga besar Kerajaan Pemecutan tengah mempersiapkan upacara Maligia. Kemudiam, sesampainya di Kerajaan Pemecutan, Raden Ayu Siti Khotijah dan rombongan disambut baik oleh keluarga besarnya.

Saat Maghrib tiba, Raden Ayu Siti Khotijah menunaikan shalat di Merajan Istana, tempat suci bagi ummat Hindu. Seperti biasa, Raden Ayu Siti Khotijah mengenakan mukena putih dan menghadap ke arah barat.

Saat itu, patih kerajaan melihat Raden Ayu Siti Khotijah menunaikan shalat mengenakan mukenah, terasa aneh baginya. Sang patih menduga Raden Ayu Siti Khotijah tengah mengeluarkan mantra ilmu hitam.

Melihat pemandangan yang aneh serta diduga sedang mengeluarkan ilmu hitam, sang patih lalu melaporkannya kepada Raja Pemecutan yang tak lain adalah ayah Raden Ayu Siti Khotijah sendiri. Mendengar laporan itu, raja pun sangat murka. Mungkin sang putri yang dinikahi penguasa Bangkalan itu dianggap hendak melakukan makar. Karenanya, raja lalu memerintahkan, agar Raden Ayu Siti Khotijah dibunuh.

Selanjutnya, patih mengajak Raden Ayu Siti Khotijah ke depan Pura Kepuh Kembar. Raden Ayu Siti Khotijah mengaku telah memiliki firasat jika ia akan dibunuh. Maka, ia pun meninggalkan pesan kepada patih sebelum mengembuskan napas terakhir.

“Janganlah saya dibunuh dengan memakai senjata tajam karena itu tidak akan dapat membunuh saya. Pakailah cucuk konde saya ini yang telah disatukan dengan daun sirih dan diikat benang Tridatu (benang tiga warna, yakni putih, hitam dan merah),” ungkap Jro Mangku.

“Nanti lemparlah cucuk konde ini ke arah dada saya sebelah kiri. Apabila saya sudah meninggal, dari badan saya akan keluar asap. Bila asap yang keluar dari badan saya berbau busuk, silakan paman patih tanam mayat saya sembarangan. Tapi, jika asap dari badan saya berbau harum, tolong buatkan saya tempat suci yang disebut keramat,” tutur Raden Ayu Siti Khotijah seperti dikusahkan Jro Mangku.

Benar saja, begitu cucuk konde ditancapkan, dari tubuh Raden Ayu Siti Khotijah mengeluarkan asap dan aroma harum. “Kejadian ini dilaporkan kepada raja. Raja sangat menyesal atas keputusannya,” tutur Jro Mangku.

Sesuai permibtaannya, Raden Ayu Siti Khotijah dimakamkan dengan baik. Di akhir kisahnya, Jro Mangku mengungkapkan, bahwa pohon Kepuh yang tumbuh di tengah malam Raden Ayu Siti Khotijah, adalah sebuah keajaiban yang diyakini, pohon itu tumbuh dari rambut sang putri yang telah menjadi muslimah dan meninggal dunia akibat prahara salah duga.

Terlepas dari kebenaran kisah ini, atau hanya sebuah epos bertabur makna tersirat, yang pasti sebagian masyarakat meyakininya.

Sedangkan Pangeran Cakraningrat IV, dalam sumber sejarah para penguasa Madura disebutkan, nama mudanya adalah Abdul Karim Diningrat. Ia adalah seorang pemimpin Madura bagian barat yang bertahta pada 1718-1746 M.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top