Kabar

Ada Pantangan Saat Berziarah di Makam Raden Ayu Pemecutan. Apa Saja?

Padasuka.id – Denpasar. Makam Raden Ayu Siti Khotijah atau Gusti Ayu Made Rai di Puri Agung Pemecutan, Denpasar, Bali, selalu dizirahi oleh ummat Islam dari berbagai daerah, serta oleh ummat Hindu. Almarhumah adalah seorang muslimah yang hidup di masa abad ke-18 Masehi, putri seorang Raja Pemecutan. Karenanya, ia juga dikenal dengan sebutan Raden Ayu (RA) Pemecutan.

KHR Syarif Rahmat dan jamaah saat ziarah di makam RA Siti Khotijah

Gusti Ayu adalah putri raja yang tersohor kecantikannya hingga banyak pangeran yang ingin mempersuntingnya. Namun kemudian ia menderita sakit kuning yang tidak kunjung sembuh. Hingga akhirnya, melalui sebuah sayembara yang digelar oleh sang ayah, Gusti Ayu mendapatkan kesembuhan di tangan seorang bangsawan muslim asal Bangkalan, Madura, Pangeran Cakraningrat IV. Sesuai dengan janji sayembara, sang putri lalu diperistri oleh sang pangeran kemudian masuk Islam. Jadilah Gusti Ayu sebagai satu-satunya muslimah di tengah keluarga orang tuanya yang beragama Hindu.

Sebagai muallaf, Gusti Ayu yang berganti nama Siti Khotijah itu dikenal taat menjalankan syariat Islam. Namun belakangan, prahara menimpa hingga merenggut nyawa sang putri di saat keluarga besarnya di Bali menggelar acara sakral. Akibat salah duga dari Patih Kerajaan Pemecutan saat melihat sang putri menunaikan shalat Magrib mengenakan mukenah, ia haru menerima hukuman mati, titah dari ayahnya sendiri.

Perjalanan hidup sang putri yang penuh ujian namun dijalani dengan sabar hingga kemudian nyawanya pun melayang, mengharumkan namanya ketika ia sudah berkalang tanah. Selain kisahnya menjadi inspirasi, makamnya pun ramai diziarahi.

Jro Mangku I Made Puger (berkaos putih), Ratu Nurhasanah Samran (sebelah kiri Jro Mangku) dan rombongan sesaat seusai berziarah

Seorang peziarah dari Banten, Ratu Nurhasanah Samran yang menyertai rombongan ziarah Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) pada Selasa Sore (9/7/2019) menuturkan kisah juru kunci makam RA Pemecutan, Jro Mangku I Made Puger. Dikatakan, karena kebersihan prilaku hidup RA Pemecutan atau Siti Khotijah, tidak sembarang orang dapat berziarah di makamnya dengan baik.

Saking bersih dan sucinya dalam sumpah untuk dirinya serta dalam berislam, subhanallah, orang yang kotor dan lagi menstruasi tidak boleh untuk memasuki makam tersebut,” tutur Ratu Nurhasanah seraya melanjutkan keterangan Jro Mangku.

Satu hari ada jamaah dari Lampung (dalam keadaan mens.) datang memaksakan diri untuk masuk ke pemakaman tersebut; begitu dia pulang, dalam perjalanan mentruasi terus menerus, keluar selama 3 bulan berturut-turut. Berobat ke dokter pun tidak sembuh, dan akhirnya dia menelepon Jro Mangku, dan langsung disuruh balik lagi ke Penecutan untuk mengakui kesalahannya. Alhamdulillah akhirnya dia sembuhJro Mangku I Made Puger (berkaos putih), Ratu Nurhasanah Samran (sebelah kiri Jro Mangku) dan rombongan sesaat seusai berziarah.”

Rombongan kaum ibu PADASUKA seusai berziarah di makam RA Pemecutan

Dikisahkan pula satu kejadian yang menimpa peziarah dari Semarang, Jawa Tengah, yang masuk makam dalam kondisi menstruasi tetapi dia tidak mengakui.

Peziarah itu jatuh dari mobil yang dia taikin akibat dia bohong untuk dirinya sendiri,” ungkap Ratu Nurhasanah menyampaikan penuturan Jro Mangku.

Oleh karena peristiwa serupa itu sering terjadi, kemudian disimpulkan menjadi semacam pantangan bagi peziarah. Khusus bagi kaum wanita, jika sedang datang bulan, agar tidak masuk ke dalam makam. Sementara secara umum, jika ada niatan tidak baik atau kotor, juga jangan sekali-kali masuk berziarah ke dalam makam RA Pemecutan. Hal ini terjadi, seperti telah diulas, karena “begitu bersih dan sucinya dalam sumpah untuk dirinya serta dalam berislamnya” RA Pemecutan. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top