Kabar

Inilah Cara Agar Tidak Tersiksa Ketika Ajal Menjemput

Padasuka.id – Jakarta. Ketika nyawa akan terpisah dari raga adalah saat-saat yang menentukan bagi setiap orang, apakah ia akan tetap dalam keadaan beriman atau sebaliknya. Kecuali itu, detik-detik akhir ini juga penuh dengan misteri, apakah ia akan dimudahkan menuju kematian, atau malah akan diliputi kesengsaraan. Tentu bukan rahasia lagi, bahwa tidak sedikit orang yang mengalami penderitaan di saat akan mengembuskan nafas terakhirnya. Ada yang sudah sekarat, berjam-jam, berhari-hari, bahkan ada yang sampai bermingu-minggu, tapi tidak jua ajal menjemput. Sungguh suatu penderitaan bagi yang mengalami hal itu yang sekaligus juga berimbas negatif bagi keluarganya. Maka, agar diberi kemudahan pada saat-saat penentuan ini, kaum muslimin diberi tuntunan doa yang secara umum disebut dengan: “Doa Husnul Khatimah,” yakni doa untuk meraih kebaikan di akhir hayat.

KH Nasuha Abu Bakar, MA

Selain tuntunan doa agar mencapai husnul khatimah, terdapat tiga cara lagi yang seyogyanya kita lakukan. Tiga cara yang dimaksud adalah salah satu uraian KH Nasuha Abu Bakar, MA, saat mengisi ceramah haul almarhum Slamet Bin Utomo yang ke-6 dan almarhumah Sairah Binti Kayun yang ke-15. Keduanya adalah ayahanda dan ibunda Ust. Triyono Anshori. Acara haul kedua orang tua koordinator Majelis Munajat Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) Radio Dalam tersebut, dilangsungkan di kediamannya, Jl Kweni Ujung, RT 11/02, No.22 C, Radio Dalam, Jakarta Selatan, Sabtu malam (13/7/2019).

Dalam acara haul tersebut, selain dihadiri oleh jamaah Majelis Munajat PADASUKA Radio Dalam dan warga sekitar, juga dihadiri oleh sejumlah tokoh dan para ustadz. Tampak hadir pula, serta mengimami pembacaan hadiah Al-Fatihah dan doa, KH Abdul Hadi dari Ciganjur, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Terkait tiga cara agar seseorang dimudahkan ketika menjelang kematian adalah pemerincian dari tiga poin manfaat haul. Menurut Kiai Nasuha, setidaknya ada tiga manfaat sekaigus yang akan diraih dalam pelaksanaan haul bagi yang masih hidup.

Pertama, untuk mengingat kematian (tadzkiratul maut). Dengan diadakannya haul, berarti ada orang mati yang sedang didoakan bersama. Maka dengan demikian akan tumbuh kesadaran bahwa siapapun orangnya pada saatnya akan mengalami serta merasakan kematian.

Di saat mengupas kematian, Pengasuh Pondok Pesantren Sabiluna, Tangerang Selatan, ini mengutip sebuah ayat dalam Al-Qur’an:

قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ

Artinya:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS: Al-Jumu’ah: 8)

Sadar bahwa kematian akan menjemput, lanjut Kiai Nasuha, sudah seharusnya kita senantiasa siap dan waspada dengan bertakwa kepada Allah SWT dalam segala keadaan. Dan, jangan sampai menukar keindahan akhirat dengan kesenangan dunia yang bersifat sementara. Seraya mengutip sebuah Hadits, ia juga mengingatkan jamaah, bahwa setiap diri akan dimatikan dalam keadaan sebagaimana kebiasannya sehari-hari. Untuk itu, pesannya lagi, perbanyaklah ibadah agar kita dimatikan dalam kondisi tersebut.

Kedua, dengan mengadakan haul, akan diraih manfaat berupa teladan kebaikan. Yang dimaksud adalah, di dalam kita menghauli orang tua atau yang lainnya, kita akan teringat nilai-nilai perjuangan serta kebaikannya. Hal ini, tandasnya akan menjadi motivasi bagi kita untuk meneladaninya.

Ketiga, manfaat haul akan mengingatkan kita terhadap beberapa peristiwa; satu misal, peristiwa di alam kubur yang kemungkinan akan meraih kenikmatan atau sebaliknya. Dari sini, setidaknya, seorang anak akan terketuk hati untuk mengirimkan hadiah pahala kepada almarhum dan almarhumah.

Tidak terkecuali, lanjut Kiai Nasuha, adalah peristiwa sakaratul maut yang menjadi penentu di saat nyawa akan berpisah dengan raga.

Nah, ketika mengupas tentang sakaratul maut, ia menyampaikan tiga cara agar seseorang diberi kemudahan pada detik akhir menjelang ajalnya. Pertama, permudahlah urusan orang lain. Kedua, perbanyaklah shadaqah, terutama yang tidak terlihat oleh orang lain. Ketiga, bacalah Kitab Suci Al-Quran setiap hari.

Di saat menganjurkan agar memperbanyak baca Al-Quran, Kiai Nasuha menambahkan, bahwa para pengamal Kitabullah itu, pada dirinya akan “tumbuh sacam chip” yang akan menjadi penuntun di saat menjelang kematian. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Padasuka adalah singkatan dari Padepokan Dakwan Sunan Kalijaga

Organisasi ini bertujuan untuk memberikan dakwah yang menyinergikan antara sumber Al-Qur'an dan Hadits dengan pendekatan tradisional.

Copyright © 2017 Padasuka. All right reserved. Developed by Gizmologi

To Top