Kabar

Dalam Munajat & Doa untuk Saedah, Ada Pesan Mengingat Pemutus Kelezatan

Padasuka.id – Depok. Kamis malam,18 Juli 2019 yang bertepatan dengan malam Jum’at Kliwon, 16 Apit 1953 Jw, digelar kegiatan rutin pembacaan Kitab Munajat di lingkungan Villa Pamulang, Bojong Sari, Depok, Jawa Barat. Tepatnya, di kediaman Ali Chatab, Jl Bukit III, Blok DF 8/19, RT 01/10, Pondok Petir.

Ust. Alif (tengah), Pak Ali Chahtab (paling kanan)

Acara tersebut, dikhususkan pula untuk mendoakan almarhumah Ibu Saedah Binti Mochamad Isak (kakak kandung Ali Chahtab); tepat 7 hari dari hari wafatnya, Jum’at, 12 Juli 2019 lalu, di Surabaya, Jawa Timur.

Sehubungan dengan orang yang meninggal dunia, sebelum memulai pembacaan kitab yang berisi kumpulan wirid dan doa-doa Al-Qur’an itu, diurai tentang pesan Nabi Muhammad SAW yang berkaitan dengan kematian. Dalam hal ini, perwakilan dari tuan rumah, Ust. Muhammad Alif, yang sekaligus sebagai koordinator majelis, mengupas sebuah Hadits Nabi, yakni:

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَكْثِرُوا ذِكْرَ هَاذِمِ اللَّذَّاتِ ». يَعْنِى الْمَوْتَ.

Artinya:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, berkata. Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu kematian.”
(HR At-Tirmidzi)

Mengacu pada pesan Hadits Nabi di atas, Ustadz Alif menyarankan agar para jamaah senantiasa mengingat kematian dengan senantiasa memperbanyak amal kebaikan. Sebab, tidak ada satu makhluk pun yang akan luput dari kematian. Dan, apabila maut itu tiba memisahkan nyawa dari raga maka terputuslah semua kelezatan yang pernah dirasa; sirna pulalah berbagai keindahan dunia yang pernah dipunya. Hanya amal kebaikanlah yang akan menjadi teman setia hingga alam baka.

Untuk itu, lanjutnya lagi, dengan mengingat kematian maka kita akan senantiasa berupaya memperbanyak amal kebaikan, yang di antaranya adalah mendoakan orang yang telah berpulang ke haribaan-Nya –seperti yang sedang dilakukan.

Masih seputar kematian, pada bagian berikutnya, Ustadz Alif kemudian membaca sebuah ayat dalam Al-Qur’an, yakni:

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

Artinya:
“(Allah) Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS: Al-Mulk: 2)

Dari pesan ayat di atas, jelaslah bahwa Tuhan menciptakan kematian dan kehidupan adalah sebagai penguji bagi manusia agar selalu berbuat kebaikan.

Maka dengan demikian, kembali Ustadz Alif menghimbau, mumpung kematian belum menjemput, persiapkanlah diri kita untuk menyambut peristiwa misteri yang sudah pasti terjadi itu. Sebab bagaimana pun, tandasnya, ujung dari semua kehidupan di dunia ini adalah kematian.

Hanya saja, Ustadz Alif menggarisbawahi, pesan untuk selalu mengingat pada kematian bukan berarti kita harus statis dalam kehidupan. Bukan berarti pula tidak ada usaha untuk mencari keperluan dunia. Semua harus tetap dinamis, namun semuanya harus bermuatan nilai-nilai ibadah karena Allah. Sebab kepada-Nya jua semua akan bermuara.

Setelah memberikan kata pengantar yang berisi wejangan kebaikan, Ustadz Alif kemudian memulai pembacaan hadharah Surat Al-Fatihah yang dilanjutkan dengan pembacaan wirid Al-Qur’an yang terangkum dalam Kitab Munajat.

Pembacaan wirid usai, dilanjutkan dengan pembacaan doa-doa Al-Qur’an yang juga terangkum dalam Kitab Munajat. Untuk pembacaan doa dipimpin oleh Ustadz Sunarwo.

Suasana dalam ruangan itu, seketika tampak dipenuhi oleh energi suci kalam-kalam Ilahi. Semua jamaah yang terlibat tampak khusyu’ merunduk menyatukan hati penuh harap: agar maghfirah, rahmah, inayah, hidayah, dan berkah dapat mereka dekap. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top