Kabar

Munajat untuk Guru dan Jeda Bacaan dalam Shalat

Padasuka.id- Jakarta. Dalam melaksanakan ibadah shalat terdapat banyak hal yang harus diperhatikan demi sahnya, serta untuk mencapai kesempurnaan. Demikian sebagian bahasan saat pengajian rutin kitab fikih di Majelis Nurul Falah, Srenseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan, Sabtu malam (3/8/2019). Sebelumnya, rangkaian pengajian diisi dengan pembacaan Kitab Munajat; Kumpulan Wirid dan Doa-doa Al-Qur’an.

Pembacaan Kitab Munajat berjamaah pada malam hari ini, kita khususkan pula untuk guru kita bersama, penyusun Kitab Munajat yang saat ini sedang berada di tanah suci untuk menunaikan ibadah haji. Kita doakan, semoga beliau bersama jamaah haji yang lain, sehat selalu, tidak ada kendala, lancar dalam tugas dan ibadah, serta memperoleh predikat haji yang mabrur,” tutur Ustadz Mukhlis selaku pemangku majelis saat membuka pengajian.

Setelah memulai dengan rangkaian tawassul, pembacaan Kitab Munajat berjamaah dilangsungkan. Bertindak sebagai imam saat pembacaan wirid Munajat, adalah Ustadz Rijal. Kemudian disambung dengan doa Munajat yang diimami oleh Ustadz Mukhlis sendiri.

Kembali pada bahasan tentang shalat sebagaimana telah disitir di atas, hal itu adalah bagian dari materi yang tertera pada salah satu bab kitab “Kasyifatus Saja,” karya Syaikh Nawawi Al-Bantani yang dibaca oleh Ustadz Mukhlis. Kali ini, mengurai bab tentang ‘saktah’ (jeda) dalam bacaan pada shalat. Antara lain diurai: bahwa antara doa iftitah dengan ta’awwudz harus ada jeda. Artinya, setelah seseorang membaca doa iftitah harus berhenti sejenak; tidak boleh disambung langsung senafas pada doa ta’awwudz –sebelum membaca basmalah pada Surat Al-Fatihah. Begitu juga, antara ta’awwudz dengan Surat Al-Fatihah harus ada ‘saktah’ atau jeda.

Dalam pada ini, selain mengurai beberapa bagian yang harus ada saktah-nya antara satu bacaan dengan bacaan berikutnya, juga dibahas keharusan membaca basmalah pada Surat Al-Fatihah. Sebab, tandas Ustadz Mukhlis, Al-Qur’an yang kita baca di Indonesia adalah Al-Qur’an yang mengikuti pola qiraat imam yang memasukkan basmalah sebagai ayat pertama. Hal ini, selaras pula dengan ketentuan yang terdapat dalam madzhab Imam Syafi’i. Yakni, salah satu dari empat madzhab fikih yang dianut oleh mayoritas ummat Islam di Nusantara. Maka itu, tandasnya lagi, jika tidak membaca basmalah pada Surat Al-Fatihah, sama saja dengan mengurangi satu ayat yang akan menjadi sebab tidak sahnya shalat.

Sebagai orang Islam yang tinggal di Indonesia, ikuti saja apa yang berlaku di sini. Ikuti saja madzhab yang sudah lazim di sini. Tidak usah sok ijtihad dengan pendapat ulama yang lain, karena itu tidak mudah. Sekarang ini kan banyak orang yang merasa pintar sendiri lalu berijtihad sendiri. Itu tidak boleh. Ulama-ulama sepuh saja, atau sekaliber Syaikh Nawawi ini saja, yang mengarang kitab Kasyifatus Saja ini, itu pun masih mengikuti landasan madzhab. Apalagi kelas kayak kita,” tegas Ustadz Mukhlis memberi arahan pada jamaahnya. (SM)

Catatan Redaksi
Berita ini sebelumnya telah tayang pada: 4/8/2019

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top