Kabar

Pitutur Mbah Moen (2) Rukun Islam & Negara Islam

Padasuka.id,- Pada edisi sebelumnya telah ditayangkan transkip pitutur KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) saat jamaah PADASUKA sowan ke Al-Anwar 1, Sarang, Remabang, Jawa Tengah, Sabtu 28 Mei 2016. Di awal pituturnya, antara lain diungkapkan bahwa bangsa Indonesia ada kesamaan dengan bangsa Arab, yakni sama-sama berawal dari penyembah berhala yang kemudian berhasil menjadi pemeluk agama Islam yang mayoritas. Padahal umumnya bangsa penyembah berhala sulit untuk menjadi muslim mayoritas dalam sebuah negara, yang dicontohkan dengan India dan Philipina. Namun ternyata, di Indonesia pemeluk Islam berhasil menjadi mayoritas. Hal ini, tandas Mbah Moen, di antaranya karena peran Sunan Kalijaga yang memiliki cita-cita mempersatukan ummat Islam yang beraneka ragam suku dan budaya, demi keutuhan Islam dan keutuhan bangsa. Pola dakwah yang indah serta memasuki segala ini ala Kalijaga dengan memperhatikan persatuan bangsa, oleh Mbah Moen dikatakan sebagai ‘konsep dakwah’ Islam Nusantara. Berikut ini lanjutannya:

Saya ini yang sudah tua, umur saya sudah 88 hampir 89 (ke tahun 2016 M, Red.). Ya, kalau dihitung rembulan itu sudah 91 tahun sesuai dengan rembulan: qamariyah. Saya tahun ’30 sudah tahu Surabaya, sudah tahu Semarang, sampe tahun ’40 saya ikut ayah saya ke mana-mana. Ini, menjadi catatan saya, bahwa ini pada masa-masa yang kini datanglah sesuatu apa yang dahulu kala direnungkan oleh nenek-nenek kita. Apa itu? Kelihatan Islam itu besar tapi tahu bahwa Islam ini besar merupakan Islam yang bedo tapi podho; podho tapi bedo.

Akhir-akhir Islam, itu menurut syariat, ketahuilah yaitu dua. Satu, pokok’e sambil sembahyang. Jadi jangan sampe mempunyai fikiran ingin mendirikan negara Islam. Jadi fikiran itu merupakan fikiran yang tidak masanya sekarang. Kita ummat Islam yang sekarang, ini harus tahu, bahwa kita kembali dari pokok. Pokok itu apa? Pokok itu Al-Qur’an. Kedua kali, Islam itu mempunyai rukun yang 5. Lah, 5 ini dikumpulkan pada sembahyang. Jadi rukun Islam itu 5: syahadat, shalat, aakat, puasa, dan haji. Ini rukun 5 itu dikandung di dalam sembahyang. Oleh karena itu, Sabda Nabi Muhammad SAW: “Asshalatu ‘Imaduddin” : shalat itu tiang agama. Agama Islam paling syarat ini (sambil memperlihatkan lima jari, Red.); menghimpunkan rukun yang 5. Jadi kalau ada orang sembahyang harus baca syahadat. Karena rukun (Islam) yang pertama, membaca syahadat. Syahadatnya itu sesuai dengan anugerah kita. Syahadat harus dibaca angka 4 sama 5. Karena Maghrib syahadatnya 2, Isya’ 2; 2+2= 4. Kemudian hari Sabtu, shalat Shubuh 1, Dhuhur 2, Ashar 2, totalnya 5. Jadi harus tahu 4 sama 5. Ini tiang negara.

Kemudian daripada itu, syahadat itu rukun (Islam yang) pertama. Sembahyang itu untuk membuktikan bersaksi kepada Tuhan dengan angka 4 dan angka 5. Jadi, 4 + 5 jumlahnya 9. Oleh karena itu, kita itu mengapa dikalahkan dengan China? Lambang 9 itu ciri-cirinya Dji Sam Soe. Tahu Dji Sam Soe? Dji (Dua), Sam (Tiga), Soe (Empat): Dua – Tiga – Empat. Ini lambang. Dua sama tiga: lima. Lima sama empat sembilan. Karena itu, sembahyang itu tidak ada yang tidak dua – tiga – empat. Jadi, hanya: dua – tiga – empat; Dji Sam Soe. Jadi kalau tahu angka Dji Sam Soe, tahu sembahyang itu harus: dua, tiga, dan empat. Shubuh, dua (rakaat); Maghrib, tiga (rakaat); yang empat (rakaat), tiga. Karena itu, tiganya angka Dji Sam Soe. Karena yang empat (rakaat), 3 (waktu sembanyag): Isya’, Dhuhur, dan Ashar. Jadi, sembilan empat sembilan. Bersambung

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top