Kabar

Hari Ini DPP PADASUKA Memulai Program Tahsin Kitab Munajat

Padasuka.id,- Kitab Munajat adalah kitab yang berisi kumpulan wirid dan doa-doa Al-Qur’an. Oleh karena itu, dalam membaca atau mengamalkan Kitab Munajat harus sesuai dengan kaidah ilmu Tajwid, terkait dengan sifatul huruf, mkharijul huruf, waqaf, dan lain sebaginya. Demikian pesan penyusun Kitab Munajat, KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, dalam berbagai kesempatan.

Di sisi lain, walau banyak orang bisa membaca Al-Qur’an namun tidak semuanya memahami ilmu Tajwid secara sempurna, sehingga banyak hukum-hukum bacaan yang dilanggar. Kemudian pula, ada sebagian orang yang pernah mempelajari ilmu Tajwid, tapi karena lama tidak dipelajari ulang, maka tidak jarang dari mereka yang ‘tergelincir,’ pada kesalahan kaidah saat membaca Al-Qur’an. Nah, untuk mengantisipasi hal ini serta demi baik dan tepatnya membaca Al-Qur’an, termasuk pula Kitab Munajat, DPP Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) menyelenggarakan program “Tahsin Kitab Munajat.” Yakni program untuk memperbaiki bacaan Al-Qur’an sesuai dengan ketentuan ilmu Tajwid.

Dari kiri: Ust.Abdul Hakim Abubakar, Ust.Muh Saharuddin, Ust. Tosim Jaka Rimba

Senin siang (5/8/2019) bertempat di Kantor DPP PADASUKA, Jl Purnawarman, Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten, dimulai program Tahsin Munajat. Dalam hari pertama ini, sejumlah Imam Munajat mengikuti secara detail program tersebut. Bertindak sebagai pen-tahsin, adalah Ustadz Muhammad Saharuddin, alumni Pondok Pesantren Ummul Qura, Tangerang Selatan. Satu persatu diterangkan secara rinci berbagai hal terkait kaidah baca Al-Qur’an sesuai ketentuan ilmu Tajwid. Dengan pembawaan yang santai dan bahasa yang mudah difahami, membuat peserta Tahsin terlihat nyaman mengikutinya.

Ust.Muh.Saharuddin saat menerangkan tentang makharijul huruf

Seusai acara, kepada Padasuka.id, Ustadz Saharuddin menyampaikan, “Membaca Munajat itu sama seperti membaca Al-Qur’an, karena Munajat intisari atau doa-doa dari Al-Qur’an. Begitu yang Abi (Kiai Syatif, Red.) ajarakan pada saya.”

Saya pernah, ketika membaca Munajat Kliwonan di kediaman Abi dengan bacaan agak cepat dan beliau menegur langsung. ‘Membaca Munajat sama halnya dengan membaca Al-Qur’an, yakni dengan mujawwad atau tartil. Karena dengan itu Munajat akan maksimal khasiatnya…’ Abi lalu mengibaratkan dengan racikan jamu. ‘Kalau mau jamunya sempurna khasiatnya maka racikannya harus tepat dan pas komposisinya.’ Begitulah yang saya ingat nasehat Abi dan itu yang saya gunakan,” ungkap Ustadz Saharuddin.

Satu lagi. Ketika Abi men-tahsin untuk Munajat di Masjid Istiqlal, beliau men-tahsin kita dengan murattal atau tartil. Jadi, bukan masalah lama atau tidak pas, atau tidak sama dengan selera jamaah, tetapi begitulah yang saya dapat dari beliau yang pernah men-tahsin saya secara langsung,” tandasnya.

Sebagai informasi tambahan, program Tahsin Munajat ini akan digelar dua kali dalam seminggu. Dan untuk ke depan, akan dilaksanakan pada hari Selasa dan Kamis. Namun demikian, Ustadz Saharuddin menyatakan siap hadir untuk men-tahsin jika ada Imam Munajat atau siapa pun yang ingin di-tahsin bacaan Munajat atau Al-Qur’annya.

Ini, tentu demi kebaikan bersama dalam beribadah. Dan saya, secara pribadi hanya menjalankan tugas dari guru yaitu Abi Kiai Syarif, serta atas kesepakatan sahabat-sahabat saat bermusyawarah di Kantor ini beberapa waktu yang lalu. Intinya, mari kita bersama-sama saling mengisi dan saling belajar untuk memperbaiki bacaan dari amalan yang merupakan Kalam Tuhan itu,” pungkas Ustadz Saharuddin yang juga sebagai guru di Ponpes Ummul Qura. (AF)

Berita ini sebelumnya sudah tayang pada: Senin, 5/8/2019.

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top