Kabar

Bung Karno Jadi Dua Saat akan Ditembak; Tragedi Idul Adha ’62

Padasuka.id,- Peristiwa saat shalat Idul Adha di halaman Istana Merdeka, Jakarta, yang terjadi pada 57 tahun silam, mungkin merupakan sejarah terburuk sepanjang pelaksanaan ibadah di lingkungan elit pemerintah Republik Indonesia. Kala itu, Senin pagi, 10 Dzul Hijjah 1381 H yang bertepatan dengan 14 Mei 1962, tragedi berdarah terjadi.

Ketika pelaksanaan shalat Idul Adha memasuki ruku’ pada rakaat kedua, dari arah belakang berjarak sekitar 6 meter, seorang lelaki berpistol tiba-tiba berdiri, meneriakkan takbir lalu melepaskan tembakan ke arah shaf (barisan) terdepan. Seorang kiai yang berada di barisan itu terkena tembakan, berdarah lalu jatuh. Seketika suasana khidmat berubah jadi menegangkan.

Presiden Soekarno, para pejabat sipil dan militer serta duta-duta besar melaksanakan shalat Idul Adha di halaman Istana Merdeka, Jakarta, 14 Mei 1962. Foto: Istimewa

Melihat peristiwa itu, Komandan Detasemen Kawal Pribadi (DKP) Presiden, Komisaris Polisi Mangil Martowidjojo, dan wakilnya, Sudiyo, dengan cepat melindungi Presiden Soekarno. Sementara seorang anggota DKP bernama Soedrajat yang berjaga di belakang presiden, membalikkan badan sembari mencabut pistol. Namun naas, ia terlebih dulu kena tembak; jatuh berlumur darah. Soesilo, anggota DKP yang lain, ketika memutar badan ke belakang, juga terkena peluru di kepalanya. Sebelumnya, peluru yang ditembakkan pelaku ke arah shaf terdepan mengenai bahu kiri Ketua DPR, KH Zainul Arifin. Kiai NU ini ambruk, terkulai di atas sajadah dengan bahu berlumuran darah. “Saya kena,” ucapnya lirih sambil terus berdzikir.

Beruntung, peluru hanya menyerempet bahu kiri Kiai Zainul, sedikit lagi bisa saja kena jantungnya. Nyawa mantan Panglima Hizbullah ini masih terselamatkan kendati peristiwa berdarah itu menyisakan dampak buruk baginya. Sepuluh bulan kemudian, Kiai Zainul wafat.

KH Zainul Arifin (Foto: Istimewa)

Melansir dari Historia yang dikutip dari berbagai sumber, dijelaskan, Menteri Pertahanan kala itu, Jenderal TNI A.H. Nasution, yang berdiri di samping Presiden Soekarno merasakan desingan peluru. “Peluru lewat leher saya sebelah kiri, lebih dekat kepada saya daripada kepada presiden,” ungkap Jenderal Nasution dalam, ‘Memenuhi Panggilan Tugas,’ Jilid 5-6. “Begitu juga ada pelor yang mendekat imam, yang karena kaget terjatuh dari mimbarnya.” Ketua NU, KH Idham Chalid yang bertindak selaku imam shalat, mengalami luka ringan.

Diungkapkan, sambil membungkuk, penyerang merangsek mendekati Soekarno. Sribusono menendang kakinya, sehingga terjerembab jatuh Dibantu Musawir, Sribusono bergumul dengan penembak. Pistol dirampas, pelaku diringkus.

Pelaku yang pingsan dan babak belur, diletakkan di depan masjid istana, yakni Masjid Baiturrahim. “Saya sebentar menyempatkan diri melihat orangnya,” ungkap Jenderal Nasution.

Tembakan itu membuat shalat Idul Adha terhenti. Shaf tercerai-berai. Jamaah kocar-kacir; ada yang menjerit ketakutan, mundur ke belakang mencari perlindungan, dan tiarap.

Terkait rencana penembakan itu, sehari sebelumnya sudah terendus. Historia menjelaskan, Kapten CPM (Corp Polisi Militer) Dahlan, komandan pengawal Istana Presiden, menemui Mangil Martowidjojo. Dahlan memberitahukan informasi penting bahwa akan ada usaha pembunuhan terhadap Soekarno pada saat shalat Idul Adha. Berdua kemudian merancang pengamanan.

Mangil menginstruksikan kepada anggotanya, baik yang bertugas dengan pakaian seragam maupun pakaian preman: “Tugas kamu melindungi diri pribadi Bung Karno, sebagai pagar hidup, artinya kamu melindungi Bung Karno dengan badan kamu sendiri, sebagai perisai pelindung Bung Karno dari segala macam serangan,” kata Mangil dalam, ‘Kesaksian Tentang Bung Karno 1945-1967.’

Pada hari H, Mangil menempatkan anggota berpakian seragam di enam pos di sekitar jamaah shalat. Masing-masing pos terdiri dari dua anggota bersenjata AR-15. Anggota berpakaian preman berada di baris belakang Soekarno dengan posisi zig-zag. Mangil sendiri dan wakilnya, Sudiyo, berdiri persis di depan Soekarno, menghadap jamaah yang shalat. Sementara itu, Dahlan menempatkan anggotanya pada pintu masuk untuk memeriksa setiap orang yang akan mengikuti shalat.

Alhasil, dugaan Dahlan terbukti. Tembakan ke arah Presiden Soekarno membuat shalat id terhenti sebelum salam. Pelaku dibekuk. Korban terluka, yakni: Soedarjat, Soesilo, dan Kiai Zainul dilarikan ke rumah sakit. Setelah keadaan terkendali shalat id kembali dilanjutkan. KH Idham Chalid, masih sebagai imam. Selesai shalat, dilanjutkan khotbah. “Kemudian saya naik ke mimbar membacakan khotbah,” kata Jenderal Nasution.

Setelah khotbah, sedianya Presiden Soekarno akan memberikan sambutan. Namun, dibatalkan karena kejadian penembakan itu. Jamaah bubar dan diperiksa satu persatu. Yang tidak mempunyai kartu penduduk, terpaksa menjalani pemeriksaan lanjutan. Namun, semuanya dapat meninggalkan istana, kecuali penyerang yang sudah diamankan.

Setelah semua jamaah meninggalkan istana. Anggota polisi menyisir lokasi dan menemukan sarung pistol dan sepucuk pistol FN 45 di bawah tikar alas shalat, senjata sejenis yang dipakai pelaku penembakan.

Sementara itu, Nasution menengok Soekarno dalam keadaan bugar. “Saya laporkan bahwa kami telah selesai dan khotbah saya telah berlangsung selamat,” kata Nasution. “Respons beliau dalam bahasa Belanda: Je bent een ferme vent (kamu adalah seorang yang tegas).” Kepada Mangil, Soekarno menanyakan, “Ngil, anak buahmu berjasa besar sekali kepada Bapak. Lantas, bagaimana keadaan Soedarjat?

Soedarjat dan Soesilo telah dikirim ke rumah sakit untuk mendapat pertolongan. Keadaan mereka tidak begitu mengkhawatirkan,” kata Mangil. Keduanya kemudian mendapatkan penghargaan dari presiden.

Luputnya Presiden Soekarno dari maut, belakangan diketahui berbau mistis. Hal ini dikemukakan Maulwi Saelan, mantan wakil komandan Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden. “Ketika diperiksa, penembak mengaku melihat Bung Karno yang dibidiknya, ada dua orang, dan menjadi bingunglah dia hendak menembak yang mana. Tembakannya meleset dan mengenai bahu Ketua DPR Zainul Arifin,” kata Maulwi.

Upaya penembakan tidak membatalkan jadwal rapat kabinet yang baru seminggu pergantian kabinet: dari Kabinet Kerja II ke Kabinet Kerja III. Soekarno memimpin sidang di Istana Negara. “Kami lanjutkan dengan rapat kabinet inti, untuk mengesahkan pernyataan pemerintah tentang kebijakan ekonomi,” kata Nasution.

Hasil pengusutan terhadap pelaku yang tertangkap, diketahui mereka adalah anggota sebuah “kelompok terlarang” pada saat itu. “Oknum penembak berjumlah tiga orang, mereka berhasil masuk ke dalam Istana Jakarta dengan memegang kartu undangan masuk, yang mereka peroleh dari salah satu ormas,” beber Mangil.

Ketiga pelaku itu adalah Sanusi alias Fatah alias Soleh alias Uci Sanusi Fikrat alias Sanusi Ufit, Kamil alias Harun bin Karta, dan Jaya Permana bin Embut alias Hidayat bin Mustafa.

Dari hasil pemeriksaan terhadap Sanusi terungkap bahwa upaya pembunuhan terhadap Presiden Soekarno pernah direncanakan ketika shalat Idul Fitri 1381 H (9 Maret 1962 M) namun tidak terjadi.

Demikian sekilas ulasan tentang tragedi berdarah yang terjadi di lingkungan Istana Merdeka, Jakarta, 57 tahun silam, saat pelaksanaan shalat Idul Adha. Semoga peristiwa serupa ini tidak akan pernah terjadi lagi sampai kapanpun. (*)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top