Kabar

Cerita Madu Arab Jelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Ilustrasi - Istimewa

Padasuka.id,– Masih dalam suasana perayaan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia yang ke-74, seorang pembaca mengirimkan pertanyaan ke Redaksi Padasuka.id berkenaan dengan cerita madu Yaman (Arab). Intinya, ia menanyakan kebenaran penjelasan dari seorang ustadz, bahwa jelang hari proklamasi kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945, Ir Soekarno (Bung Karno) menderita sakit lalu sembuh setelah minum madu Yaman pemberian Faraj Martak. Pertanyaan itu dilengkapi pula dengan video ceramah ustadz muda yang cukup populer di dunia YouTube tersebut.

Dok. Istimewa

Dalam video itu, setelah membahas status rumah yang ditempati Bung Karno di Jl Pegangsaan Timur, Nomor 56 yang menurutnya adalah wakaf dari saudagar keturunan Yaman bernama Syaikh Faraj bin Martak, dengan nada tegas sang ustadz mengatakan:

Ir Soekarno datang ke situ dalam keadaan masih lemas; ada kemudian penyakit dalam tubuhnya. Maka diberikan oleh beliau (Faraj Martak, Red.) madu Yaman di malam harinya. Siang-siangnya sudah fresh; dalam keadaan yang baik, maka digelorakanlah kemudian, di sampingnya ada Bung Hatta, proklamasi sampai dengan ujungnya.

Sebenarnya cerita tentang madu Arab ini sudah pernah dibahas pada edisi 13 Mei 2019 lalu. Saat itu yang menjadi latar belakang pembahasan adalah beredarnya artikel pendek di media sosial berkenaan dengan ini-itu yang serba Arab. Pada urutan ke-6 dalam artikel itu dijelaskan: “Bung Karno sakit beri-beri sebelum proklamasi, sembuh diberi MADU ARAB oleh Faraj Martak.

Kalau saat itu hanya berdasar pada artikel, saat ini adalah ceramah langsung seorang ustadz dalam bentuk video. Mungkin karena yang menjelaskan adalah seorang ustadz, pembaca tadi berfikir ulang untuk tidak mempercayainya. Baiklah, uraian berikut ini bisa dijadikan bahan telaah.

Pertama, membahas sejarah adalah membahas sumber data. Lantas, data apa yang memperkuat penjelasan sang ustadz, dari mana sumber data itu, serta seberapa tinggi akurasinya? Sepanjang yang ada dalam video yang diterima redaksi, ia tidak menjelaskan sumber data apapun apalagi mengenai akurasinya.

Kedua, apa yang disampaikan oleh sang ustadz sangat berbeda dengan penjelasan dalam buku sejarah yang diterbitkan secara resmi. Begitu pula jika dirunut pada fakta-fakta sejarah yang ada, penjelasan sang ustadz susah diterima secara logika.

Mari kita runut dari keberadaan Bung Karno di malam jelang proklamasi kemerdekaan. Menurut catatan pelaku sejarahnya, Mr. Ahmad Soebardjo, dalam buku “Lahirnya Republik Indonesia,” PT Kinta: 1978, dijelaskan bahwa pada malam itu ia berada dalam perjalanan menuju Jakarta bersama Bung Karno, Bung Hatta, dan lain-lain setelah kedua proklamator itu diculik pemuda dan disembunyikan di Rengasdengklok. Ketika tiba di Jakarta, waktu sudah dini hari, mereka lalu menggelar rapat, membuat teks proklamasi, hingga jelang waktu Shubuh.

Nah, kalau dikatakan malamnya Bung Karno minum madu Yaman, lantas di mana Bung Karno bertemu dengan Faraj Martak? Sedangkan Bung Karno masih dalam perjalanan, serta dalam kawalan ketat para pemuda yang mendesak Bung Karno dan Bung Hatta segera memproklamasikan kemerdekaan.

Kemudian, berkenaan dengan sakitnya Bung Karno jelang hari proklamasi kemerdekaan, berikut ini akan diurai lebih rinci sesuai catatan dalam buku, “Bung Karno: The Other Stories: Serpihan Sejarah yang Tercecer” : Roso Daras: Imania & Pustaka Media Mulia: 2009.

Salah satu buku yang membahas kondisi Bung Karno jelang proklamasi

Di halaman 163 dan seterusnya, dalam buku itu dijelaskan, bahwa pada Jum’at pagi, 17 Agustus 1945 suasana di kediaman Bung Karno, Jl Pegangsaan Timur 56, Menteng, Jakarta Pusat, sudah ramai dengan para tokoh pejuang dan rakyat Indonesia; baik di halaman depan, pendopo, bahkan sampai di halaman belakang. Mereka menunggu detik-detik proklamasi kemerdekaan dibacakan. Sementara itu, Bung Karno sendiri masih terlelap. Maklum, ia baru masuk kamar menjelang Shubuh setelah semalam pulang dari Rengasdengklok lalu rapat bersama para tokoh lainnya di kediaman Laksamana Maeda.

Pada pukul 08.00 WIB, dokter pribadi Bung Karno, dr R Soeharto, menyelinap masuk ke kamar Bung Karno dan mendapati sang Putera Fajar itu masih tertidur pulas.Diusaplah tangan Bung Karno hingga ia terbangun, lalu berucap, “Pating greges…” Kalimat berbahasa Jawa yang berarti pegal dan demam panas inilah yang pertama terlontar dari lisan Bung Karno di pagi itu di hadapan dokter pribadinya.

Setelah melakukan pemeriksaan, atas persetujuan Bung Karno, dr Soeharto lalu memberikan suntikan chinine-urethan intramusculair. Ia juga menyarankan agar Bung Karno tidak puasa untuk minum broom chinine. Setelah disuntik dan minum obat, Bung Karno tertidur lagi. Kemudian, dr Soeharto keluar dari kamar pribadi Bung Karno.

dr R Soeharto (foto: Istimewa)

Di luar kamar, dr Soeharto berpapasan dengan Fatmawati, lalu menyampaikan kondisi Bung Karno. Saat itu, Bu Fat sempat mengatakan, “Saya sendiri sebetulnya capek sekali, setelah kembali dari Rengasdengklok dan menyelesaikan pembuatan bendera (Merah Putih, Red.) yang akan dikibarkan hari ini.

Kemudian, pada pukul 09.30 WIB, dr Soeharto masuk lagi ke kamar Bung Karno dan didapatinya sudah bangun dengan badan yang terlihat lebih segar, panasnya pun sudah mereda.

Sudah jam setengah sepuluh, Mas…,” ucap dr Soeharto, mengingatkan. Bung Karno lalu bergegas dari tempat tidur untuk bersiap-siap.

Minta Hatta segera datang,” perintah Bug Karno pada dokter pribadinya itu. Lalu, dr Soeharto meneruskan perintah itu kepada Latief Hendradinigrat. Singkat cerita, pada pukul 10.00 WIB, 17 Agustus 1945, hari paling bersejarah itu berlangsung khidmat.

Dari paparan di atas, jelas bagaimana kondisi Bung Karno saat itu dan siapa orang yang mengobatinya. Berikut pula jenis obat yang disuntikkan dan diminum oleh Bung Karno. Tentu saja tidak ada penyebutan madu Arab atau Yaman.

Hal lain, anggap saja benar pada malam harinya Bung Karno minum madu Arab pemberian Faraj Martak, berarti ia tidak sembuh dengan perantara madu itu. Faktanya, pada pagi harinya, dr Soeharto mendapati Bung Karno dalam kondisi demam panas. Hal lain, apakah mungkin pada masa itu banyak beredar madu dari Arab di Batavia, sedangkan di Nusantara sendiri kaya dengan madu. Entahlah. Yang pasti, dalam catatan sejarah yang dapat dipertanggungjawabkan, kesembuhan Bung Karno hingga bisa membacakan teks proklamasi pada saat itu atas jasa dr Soeharto. (MAR)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top