Kabar

Mbah Moen: Pancasila Itu Selaras dengan Ajaran Islam

Padasuka.id,– Artikel ini adalah bagian ketiga dari pitutur KH Maimoen Zubair (Mbah Moen) yang ditranskip dari ceramahnya yang dipublikasikan oleh kanal medcom id (5/8/2019). Pada edisi sebelumnya diangkat penjelasan Mbah Moen mengenai bangsa Arab yang walau satu Nusa, Bangsa, dan Bahasa Arab, tapi tidak menjadi satu Negara Arab. Sedangkan Indonesia, walau hakikatnya terdiri dari bermacam-macam suku, nusa, dan bahasa, tetapi bisa menjadi: Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa yang kemudian dibingkai dalam Satu Negara. Yakni, Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Foto: Tangkapan layar dari video medcom id

Berkenaan dengan Pancasila, tegas Mbah Moen, memiliki keselarasan dengan ajaran Islam. Bahwa sila pertama, “Ketuhanan Yang Maha Esa,” menjiwai empat sila setelahnya dalam Pancasila.

Panca itu maknanya lima, sila itu bertata krama, mempunyai duduk yang baik: bersilo yang teratur. Jadi, diatur dengan Pancasila. Dan, Pancasila itu suatu kecocokan dengan ajaran Islam, bahwa semua sila-sila yang empat (setelah sila pertama) itu ada dijiwai oleh Ketuhanan,” urai Mbah Moen dalam pituturnya.

Simbol Ketuhanan adalah bintang yang segi lima. Bintang segi lima ini ada mempersatukan bangsa. Sebab, segilima itu satu. Apa lima itu?” Ulas Mbah Moen lalu memerinci:

Satu, berketuhanan harus mengangkat martabat manusia. Jadi, manusia harus diangkat. Jadi, Allah membuat alam; ada alam mulki yang kelihatan, (walau) malam pun nggak kelihatan. Tapi ada alam manusia yang menjadi kemuliaan. Jadi, Allah tidak memuliakan siapa pun masuk surga kecuali manusia. Jadi, mengangkat manusia; derajat manusia. Manusia harus diangkat dan harus manusia itu disatukan. Jangan terjadi anak yang tanpa di luar perkawinan. Jadi, kalau lain manusia, tidak ada. Jadi, satu, manusia itu dimuliakan, harus dijunjung martabatnya,” demikian Mbah Moen mengurai bagian kesatu dari lima segi bintang yang menjadi lambang sila pertama Pancasila.

Dua, harus dijunjung bahwa tiap anak harus mempunyai ayah dan ibu. Sehingga, ada segi yang nomer dua ini memberantas anak yang tanpa mempunyai ayah. Oleh karena itu ada perkawinan –menurut agama Islam. (Dalam negara) perkawinan itu tidak harus perkawinan menurut Islam, (tapi) menurut agama masing-masing. Jadi, ketetapannya Nabi kayak begitu; ada orang Yahudi kawin menurut Yahudi, anaknya ya sah. Ada orang Kristiani kawin, ya sah. Jadi, menurut perkawinan agama masing-masing. Jadi, dijunjung manusia dan manusia beda dengan lain manusia; ada manusia ada ayah dan ada ibu. Ini (yang) dua.

Berikutnya, Mbah Moen mengurai makna lambang bintang pada segi yang ketiga. Yang mana, manusia adalah makhluk yang memiliki hak milik.

Ketiga, harus manusia itu mempunyai hak milik. Hewan kan tidak mempunyai hak milik. ‘Siapa yang menguasai hewan itu?’ Hak milik ada, ‘Jadi harus dijaga di rumah saya.’ Oleh karena itu, dikerjakan menentramkan jejak manusia; baik berumah tangga dan mempunyai sosial ke tetangga. Mempunyai (sikap) baik kepada tetangga walau beda agama. Jadi ini ketiga, mempunyai milik masing-masing,” urainya lalu melanjutkan.

Keempat, menjunjung akal. Jadi, supaya akal dijunjung, karena itu harus dididik,” tegas Mbah Moen lalu melanjutkan pada segi bintang bagian yang kelima.

Kelima, menjunjung jiwa. Jadi, jiwa manusia harus dilindungi. Oleh karena itu ada mahkamah, ada pengadilan, tidak boleh orang mendholimi siapa pun,” pungkas Mbah Moen mengurai pemaknaan segi yang kelima pada bintang yang menjadi lambang sila pertama Pancasila, kemudian mengurai lagi.

Jadi, lima ini… Lima ini.. Jiwa lima ini bukan menurut bangsa Indonesia; menurut agama yang tertentu, tapi benar-benar kita harus Bhinneka Tunggal Ika. Oleh karena itu, kalau saya ini mempunyai… Coba, waktu Proklamasi, ingat siapa yang menjadikan ribut? Orang Islam itu sendiri. Karena ada Jakarta carter, akhirnya ada kesepakatan bangsa. Itu mulai Proklamasi. Coba, setelah gerilya kita menang; umpama relawan-relawan orang-orang Islam; santri-santri itu masuk TNI, rame TNI (dengan) orang Islam. Kemudian ketika waktu jaman pemilu tahun 1955, ada blog Islam, ada blog yang non Islam. Akhirnya ya ndak selesai.. Dekrit Presiden, kembali lagi kepada Pancasila. Sebab PNI dengan PKI, NU dengan Masyumi. Jadi tidak bisa, sudah dicoba; Islam bersatu tetapi melupakan Nasionalisasi Bangsa Indonesia. Ini harus kita cermati dan kita dalami. Sehingga bangsa ini, benar-benar sekarang jadi kiblatnya ummat Islam seluruh dunia, tidak ada selain Bangsa Indonesia,” pungkas Mbah Moen. (*)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top