Kabar

Jelajah Paranggupito [3] Dua Kali 8 Detik

Padasuka.id – Wonogiri. Sebagai daerah yang masuk dalam gugusan karst perbukitan kapur Gunung Sewu, di daerah Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, ditemukan beberapa titik gua dan luweng (gua horisontal). Dari sejumlah luweng yang ada, oleh masyarakat diperkirakan menyimpan air bersih di dalamnya. Namun karena kedalaman luweng yang bisa mencapai ratusan meter, bahkan ada yang ribuan, masyarakat tidak ada yang berani untuk menuruninya. Selain karena ketiadaan alat panjat khusus, faktor ketiadaan oksigen pada kedalaman menjadi pertimbangan.

Salah satu luweng di Desa Gendayakan

Guna memastikan keberadaan air dalam perut bumi pada luweng-luweng tersebut, Ketua Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk bencana kekeringan Paranggupito, Gus Yayan, dalam waktu dekat ini akan membawa tim caver (aktivis susur gua) dari Yogyakarta ke lokasi luweng di Paranggupito. Dengan harapan, jika benar di dalam luweng terdapat sungai bawah tanah, nantinya dapat diangkat ke permukaan untuk mengatasi bencana kekeringan yang menjadi langganan di daerah tersebut. Walau hal ini, ungkap Gus Yayan, menjadi solusi jangka panjang. Mengingat, agar dapat mengangkat air dari kedalaman yang teramat sangat dibutuhkan teknik yang tidak mudah, bahkan bisa juga teknologi khusus, dengan biaya yang tidak murah. Namun setidaknya, upaya ini dapat memecahkan teka-teki keberadaan air di perut bumi. Sedangkan untuk solusi jangka pendek, telah dilakukan pendistribusian air bersih terhadap masyarakat sejak bulan Agustus lalu.

Sebelum kedatangan tim caver dari Yogyakarta, Koordinator Lapangan Tim TDP, Gus Rori, Rabu pagi (4/9/2019) telah melakukan survei lokasi dengan ditemani tokoh masyarakat setempat.

Di bawah rumpun bambu di Desa Gendayakan ini terdapat titik luweng

Selama ini masalah keberadaan air di dasar luweng belum bisa memastikan, kerena belum pernah ada yang berani masuk atau turun ke bawah. Hanya berdasarkan pengamatan awam dalam kondisi kemarau panjang ini kalau kita mendekat ke arah mulut luweng dari dalam luweng ada hawa dingin seolah di dalam ada aliran air. Jika kita ke lokasi sebelum jam 7 pagi, dari dalam luweng ada hawa dingin berembun sehingga menyebabkan kabut di sekitar lokasi luweng,” ungkap Gus Rori.

Sedangkan untuk mengukur kedalamannya, mereka tidak menggunakan pita meteran yang dijuntaikan ke dalam luweng, melainkan menggunakqn batu. Yakni, mereka menceburkan batu ke dalam luweng sambil dipantau suaranya menggunakan pengukur waktu. Berapa detikkah suara batu itu hilang dari pendengaran sejak awal diceburkan? Atau, berapa lama sampai terdengar suara dentuman terakhir sejak batu itu diceburkan? Dari sini mereka lalu memperkirakan kedalamannya.

Batu yang dipegang inilah yang diluncurkan ke dalam luweng

Nah, saat itu mereka dua kali melakukan peluncuran (penceburan) batu sambil dihitung detiknya. Dan, selama dua kali perceburan itu berada pada detik ke delapan. Dalam kata lain, bahwa kedalaman luweng diperkirakan setara dengan hitungan delapan detik luncuran batu. Walau ini bukan hitungan pasti, tapi setidaknya mereka dapat memperkirakan.

Dari hasil penelusuran pada hari itu, didapati dua lueweng sekaligus, yakni:

1.Luweng di Dusun Ngejring, RT 01, RW 01, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri

2.Luweng di Dusun Gendayakan, RT 02, RW 04, Desa gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Wonogiri

Lantas, dari dua luweng yang ditemukan itu yang manakah nanti yang akan dilakukan penelitian oleh tim caver Yogyakarta? Kita tunggu saja. (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top