Kolom

Burung Kanjeng Sunan

Oleh Yusuf Mars
Pemimpin Redaksi Padasuka.id/TV

Di jagat raya ini ada beragam ciri dan karakter burung. Murai batu misalnya, memiliki ciri khas pada suara kicauannya yang sangat merdu.

Bahkan, pada tahun 1947, burung murai batu mendapatkan penghargaan terbaik atas nyanyiannya yang sangat indah (The Best Song Birds – Delacour). Selain memiliki suara merdu, burung murai juga punya ciri khas lain dari warna tubuhnya yang hitam, kecuali bagian bawah badannya berwarna merah cerah dan jingga kusam. Saat berkicau, burung murai akan meneggakkan ekornya yang panjang.

Lain hal dengan burung perkutut. Burung ini konon ceritanya  sebagai jelmaan pangeran. Tak heran jika jaman Majapahit dikenal dengan  legenda Joko Mangu. Sejak itu muncul faham Jawa bahwa perkutut merupakan burung yang sakral.

Malahan bagi orang Jawa ada falsafah  yang mengungkapkan seorang lelaki yang telah dewasa harus memiliki delapan unsur (Sapta Brata), salah satunya  kukila (manuk) atau burung.

Kedua jenis burung tersebut memang kesukaan Kanjeng Sunan. Di kediaman beliau banyak berjejer beragam jenis burung. Termasuk murai dan perkutut.

Saya tidak tahu sejak kapan Kanjeng Sunan suka pelihara burung. Tapi yang jelas ketika usia belia sekitar 10 tahunan ada kejadian unik.

Kala beliau sedang asyik bermain di kebun belakang rumah, tiba-tiba ada burung perkutut hinggap di bawah pohon Ganyong (tanaman sejenis umbi). Kanjeng Sunan kecil penasaran, lalu ia tangkap burung perkutut tersebut,”Huupp,”.  Anehnya  burung tersebut diam saja. Seolah si burung memang ingin dipelihara Kanjeng Sunan.

Singkat cerita ia pelihara burung tersebut dengan penuh kasih sayang. Namun, nasib malang pada si burung; Mati dalam kandang. Layaknya anak kecil, ia sangat terpukul dengan kematian burung perkutut kesayangannya.

Sontak kematian si burung perkutut  mendapat perhatian dari teman- temannya, termasuk dari para  tetua yang kebetulan mau sholat Ashar berjamaah di mesjid.

“Burung perkututnya mati…burung perkututnya mati. Ayo kita kuburkan,” ungkap teman-teman Kanjeng Sunan dengan hebohnya.

Rupanya Kanjeng Sunan kecil belum move on sama burung kesayangannya. Ia enggan menguburnya. Ia malah memegang  bangkai burung perkutut sambil ia lempar ke atas sambil berujar,” Saya lempar kau ke udara. Siapa tahu kau bisa hidup lagi,” teriak Kanjeng Sunan.

Subhanallah…..bukan sulap bukan sihir, burung perkutut tersebut langsung terbang kembali. Melihat kejadian itu, semua orang terheran-heran dan tidak percaya burung perkutut mati bisa hidup kembali.

Kejadian itu membuat heboh masyarakat sekitar. Istilah jaman sekarang  Viral. Sayang jaman itu belum ada soamed.

Selesai? Belum! Satu hari berselang burung perkutut tersebut terlihat sedang mandi di  kolam ikan. Si empunya kolam pun begitu riang melihat burung perkutut mandi di kolam ikannya. Tak menyia-nyiakan kesempatan, dengan sigap ia tangkap burung tersebut.

Nahas, tak berapa  lama si empunya kolam kesurupan dan meracau,”Kamu mengganggu aku. Aku lagi mandi kenapa kau usik?”.

Drama kesurupan pun menjadi babak baru tentang kisah burung perkutut misterius. Anehnya, setelah burung perkututnya dilepas kembali, berhenti pula kesurupannya.

Oleh Khr.Syarif Rahmat RA, SQ, MA, Ketua Umum Padasuka Pusat dan penyusun kitab Munajat

Sejak peristiwa itu masyarakat sekitar meyakini bahwa Kanjeng Sunan memiliki daya linewiih. Tak heran jika di usia 10 tahun Kanjeng Sunan  oleh masyarakat sekitar sudah dituakan. Para orang tua tak sungkan ketika bersalaman selalu mencium tangan beliau.Wallahu ‘alam bisshawabi.

Kisah berikutnya tak kalah uniknya.Simak terus hanya di Padasuka.id.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top