Kabar

Dahsyatnya Doa Munajat & Kisah “Hilangnya” Suami Ketika Berhaji

Banyak kisah tentang dahsyatnya doa kitab Munajat yang disusun Khr. Syarif Rahmat. Sebuah doa akan manjur jika doa tersebut dilantunkan dengan hati bersih. Terlebih doa-doa yang bersumber dari Al-Qur’anul Karim.

Adalah Haji Lukman Latief dari Makassar yang menuturkan kisah dahsyatnya Doa dalam kitab Munajat. Berikut kisah dan pengalaman spiritualnya yang kami hadirkan dalam bahasa tutur:

Saya salah satu jamaah haji yang  ikut rombongan jamaah Dewan Masjid Indonesia (DMI) Tahun 2019 ini. Jama’ahnya kurang lebih sekitar 40 orang dari berbagai daerah di Indonesia dibawah Pimpinan Amirul Hajj/Tour Leader Bapak Haji A. Suryadi N, dan pembimbing haji oleh Bapak Kiyai Haji Syarif Rahmat dan Bapak Ustad Maulana. Alhamdulillah perjalanan rombongan jamaah haji DMI tahun ini begitu banyak mendapat kemudahan dan pertolongan Allah SWT yang tentunya berkat doa dari jamaah dan keluarga tercinta yang kami tinggalkan di tanah air.

Menag Lukman (berkaca mata) bersama Khr.Syarif Rahmat dan ustadz Maulana ketika di Makkah. Dok. Istimewa

Salah satu peristiwa yang menggugah hati terjadi setibanya rombongan kami tiba di Kota Suci Mekkah Al Mukarromah yang pada saat itu langsung melakukan proses ibadah umrah sunnah yang saat itu sudah memasuki tanggal 5 dzulhijjah dimana kondisi masjidil haram sudah dipenuhi jamaah haji dari seluruh dunia untuk proses persiapan hari tarwiyah dan wukuf di Arafah.

Sebelum memulai rangakaian ibadah umrah sunnah, kami diberikan briefing oleh amirul Hajj dan 3 mutawif mengingat informasi padatnya lokasi tawaf dan sa’i, dimana lokasi atau titik kumpul kalau saja ada jamaah yang terpisah.

Padatnya suasana di area Kakbah ketika musim berhaji

Rombongan jamaah DMI memasuki Masjidil Haram sekitar pukul 01.00 dinihari, dipandu pembimbing kami memanjatkan doa memasuki masjid dan ketika melihat Kakbah serta niat untuk melakukan tawaf. Kondisi pelataraan Kakbah pada saat itu benar-benar sesak oleh jamaah sehingga tenaga dan konsentrasi harus maksimal agar tidak terpisah dari rombongan.

Sampai pada putaran keenam rombongan masih utuh, namun memasuki putaran terahir setelah melewati Rukun Yamani rombongan menjadi pecah, kondisi saat itu benar-benar kacau, saya sendiri masih sempat membantu salah satu jamaah rombongan DMI yang masih berusia 10 tahun yang menangis karna terhimpit rombongan lain.

Tidak lama berselang, satu persatu jamaah sudah mulai muncul di tempat yang telah disebutkan pada saat briefing. Namun ada salah satu jamaah yang masih  terpisah, yakni pak Warsito usia sekitar 70 tahun, jamaah asal Probolinggo, Jawa Timur.

Mengingat waktu dan sesaknya pelataran tawaf, diputuskan untuk melanjutkan sa’i tanpa pak Warsito tentunya dengan harapan beliau segera ditemukan. Selesai sa’i dilanjutkan dengan tahallul dan shalat subuh di dalam Masjidil Haram. Selepas shalat kami diarahkan ke restauran malaysia untuk sarapan sekaligus menyusun rencana pencarian pak Warsito.

Terlihat isteri pak Warsito tidak berselera makan dan masih menangis memikirkan suaminya yang hilang tanpa membawa hape dan tanda pengenal yang wajib  dibawa oleh jamaah setiap beraktifitas.

Kondisi dan usia pak Warsito yang sudah agak sepuh dan tidak membawa alat komunikasi agak mempersulit kami  mencarinya. Oleh Amirul Hajj kami dianjurkan untuk beristiqfar dan memperbanyak doa agar pak Warsito segera ketemu.

Selesai sarapan kami menuju ke titik kumpul semula untuk mencari pak Warsito. Disinilah saya melihat kekuatan doa dan munajat. Saya menyaksikan pak Kiyai Syarif Rahmat menuntun ibu Warsito memanjatkan doa sambil menghadap ke kakbah memohon kepada Allah SWT, agar segera suaminya segera ditemukan.

Dan, Subhanallah baru saja pak Kiyai Syarif Rahmat  dan ibu Warsito selesai berdoa, tidak sampai satu menit terdengar teriakan salah seorang jamaah, “Pak Warsito ketemu, pak Warsito ketemu.. Allahu Akbar, kami pun semua bersuka cita.,”.

Oleh KHR.Syarif Rahmat RA, SQ, MA

Selang beberapa hari kemudian saya yang  kebetulan dapat kehormatan sekamar dengan pak Kiyai Syarif menanyakan kepada beliau kiranya doa apa gerangan yang dibaca kemarin ketika menuntun ibu Warsito berdoa.

Alhamdulillah saya diberikan doa tersebut, yang ternyata beliau sdh tulis dan sudah diterbitkan dalam bentuk buku saku dengan judul “Kumpulan Munajat”.

Terima kasih Pak Kyai, semoga kami istiqomah mengamalkan doa terbaik dalam kitab Munajat.

(H. Lukman Latif, Makassar)
Beliau adalah adik kandung Ust. Das’ad Latif.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top