Kabar

Jelajah Paranggupito -4: Luweng Danau Mimbo

Padasuka.id – Wonogiri. Sebelumnya telah diberitakan, atas petunjuk warga, Koordinator Lapangan Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk musibah kekeringan Paranggupito, Gus Rori, melakukan survei ke dua lokasi luweng (gua vertikal) di Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah. Kedua luweng tersebut, masing-masing berada di Desa Gendayakan namun beda dusun. Yang pertama berlokasi di Dusun Ngejring, RT 01, RW 01, yang kedua berlokasi di Dusun Gendayakan, RT 02, RW 04. Kecuali di dua lokasi ini, kemudian ditemukan lagi satu luweng di lokasi yang berbeda.

Hamparan tanah yang disebut Danau Mimbo

Di sela-sela waktunya memantau pendistribusian bantuan air bersih ke rumah-rumah warga dan fasilitas umum, Kamis (5/9/2019), Gus Rori juga menyempatkan diri untuk mendatangi satu lagi lokasi luweng di Paranggupito. Yakni, ke Dusun Jeruk Wangi. Hal ini dilakukan, menurutnya, sebagai alternatif dari dua luweng yang ada. Sehingga, tim caver (aktivis susur gua) yang akan didatangkan dari Yogyakarta, nantinya punya pilihan sesuai dengan keahlian mereka dalam mendeteksi keberadaan luweng yang memungkinkan menyimpan kandungan air di dalamnya.

Lokasinya itu di Danau Mimbo, Dusun Jeruk Wangi. Nanti saya siap antar tim yang dari Yogyakarta ke lokasi. Menurut infornasi yang baru saya peroleh, itu sudah ada yang membuktikan masuk pas ambil sarang walet. Dan, yang ngambil sarang walet itu bilang, ada sungai bawah tanah yang mengalir ke selatan. Persisnya di bawah pohon besar di Danau Mimbo itu,” papar Gus Rori.

Pohon besar yang dimaksud

Diungkapkan pula, bahwa pohon besar yang ada di tengah Danau Mimbo, menurut pencari sarang walet tadi, akarnya menjuntai sampai ke aliran sungai bawah tanah tersebut. Benar atau tidaknya, semua masih bersifat pengumpulan data dan informasi.

Tanda lingkaran adalah lubang untuk masuk luweng dengan rindang daun yang menghijau

Adapun yang disebut Danau Mimbo, adalah hamparan tanah lapang yang di atasnya ditumbuhi tanaman menghijau dengan dikelilingi bukit-bukit kapur yang kini tengah mengering. Menurut penuturan masyarakat, pada masa lalu, lokasi yang menghijau itu adalah hamparan danau. Namun belakangan airnya mengering kemudian dijadikan lahan pertanian. Dilihat dari hijaunya tanaman yang ada, memang memungkinkan lahan ini menyimpan kandungan air yang lebih ketimbang daerah sekitarnya. Begitu pula dengan pohon besar yang berada di tengahnya, meskipun di musim kemarau, daunnya tetap lebat dan hijau. Namun demikian, kepastiannya tetap akan menunggu dari tim yang memang ahli di bidangnya.

Dari tiga titik lokasi luweng yang ditemukan, yang manakah yang akan lebih dulu dilakukan penelitian? Kita tunggu saja. Semoga berhasil. (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top