Kabar

Perjuangan Menembus Perut Bumi di Paranggupito (1)

 

Padasuka.id- Wonogiri. Kekeringan yang menimpa sejumlah desa di Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, membuat masyarakat setempat mengalami krisis air bersih termasuk pula krisis pangan. Menyikapi musibah ini, Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), atas anjuran dari Ketua Umumnya, KHR Syarif Rahmat RA, kemudian membentuk Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP). Melalui Ketua PADASUKA Jawa Tengah, Kiai Muhammad Wiyanto atau yang akrab disapa Gus Yayan, pada Senin 26 Agustus 2019, telah dibentuk Tim TDP di sana. Bertindak sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) adalah Kiai Asrori Idris (Gus Rori). Sejak dibentuknya sampai hari ini terus dilakukan pendistribusian bantuan air bersih ke masyarakat.

Dalam perjalananya, Tim TDP mendapat informasi dari masyarakat tentang adanya luweng atau gua vertikal yang diduga menyimpan kandungan air di bawahnya. Oleh karena itu, di sela-sela pendistribusian bantuan air bersih, bersama tokoh masyarakat setempat, Gus Rori, selaku Korlap Tim TDP melacak keberadaan luweng yang dimaksud. Upaya ini lalu direspon oleh Ketua Tim TDP, Gus Yayan, dengan melakukan koordinasi terhadap berbagai pihak, termasuk mendiskusikannya kepada tim caver (aktivis susur gua) dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Yogyakarta untuk menelusuri lubang luweng yang dimungkinkan menyimpan sungai perut bumi tersebut. Singkatnya, Sabtu (7/9/2019) Gus Yayan beserta tim dari Mapala mendatangi lokasi luweng yang sebelumnya telah disurvei oleh Korlap Tim TDP, yakni di Desa Gendayakan, Paranggupito.

“Sejak Sabtu, 7 September 2019 jam 10.30 WIB, saya sudah merapat bersama Gus Asrori dan tim dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta (almamater saya dan Abang H Joni “Menyek”) yang berencana melaksanakan penelusuran gua untuk memetakan kondisi gua dan memastikan keberadaan air serta mengetahui karakteristik air di dalamnya. Gua yang ditelusuri adalah Gua Jomblang Ngejring yang berada sekitar 500 bm di sisi utara Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito,” ungkap Gus Yayan dalam keterangan tertulisnya yang diterima Padasuka.id, Senin (9/9).

“Dalam koordinasi pagi itu, tim survey yang terdiri dari 11 orang, dibagi menjadi 3 tim, yaitu tim 1 bertugas melakukan penelusuran, tim 2 bertugas standby rescue serta penyediaan alat, dan tim 3 yang bertugas menyiapkan dan mensuplai logistik serta melaksanakan mobilitas. Pergerakan kami mulai dari Posko Tanggap Darurat Bencana Paranggupito di Dusun Parang, Desa Paranggupito, menuju Dusun Ngejring Desa Gendayakan yang merupakan lokasi luweng Jomblang Ngejring yang akan disurvei. Setibanya di lokasi, ternyata telah banyak masyarakat berkumpul yang berkeinginan untuk menyaksikan proses survei. Kondisi seperti ini sangat jarang terjadi ketika ada kegiatan penelusuran gua. Antusiasme masyarakat untuk menyaksikan proses survei ini dikarenakan besar harapan mereka agar tim survei menemukan air dalam goa tersebut,” lanjut Gus Yayan.

Gus Yayan menambahkan, penampakan mulut Gua Jomblang adalah merupakan gua vertikal yang berbentuk sumuran dengan mulut gua agak besar berdiameter lebih kurang 7 – 10 meter. Setelah penyiapan alat dan koordinasi teknis penelusuran, tim mulai bergerak dengan memasang pengaman serta instalasi jalur penelusuran. Kegiatan ini, terang Gus Yayan, dilaksanakan oleh 4 personel. Setelah pengaman dan instalasi terpasang mulailah tim turun ke dalam gua dengan teknik diskending atau turun dengan bantuan tali dan alat diskender.

“Perlu diketahui tali yang dipasang tim memiliki panjang 150 meter. Hingga jam 17.30 WIB saya mendapatkan informasi dari dalam gua bahwa panjang tali habis tapi belum mencapai dasar gua. Mempertimbangkan keselamatan tim, melalui koordinasi singkat, kami putuskan untuk menarik tim yang turun untuk keluar dan istirahat sembari mempersiapkan alat tambahan. Proses ini berjalan hingga jam 20.00 WIB. Selepas makan malam dilakukan koordinasi kembali untuk mempersiapkan penelusuran kedua di gua yang berbeda sebagai alternatif lainnya. Malam itu, (malam Ahad) tim istirahat. Sedangkan saya dan Gus Asrori melakukan musyawarah dengan Kepala Desa Gendayakan dan beberapa sesepuh serta masyarakat yang masih setia menunggu,” ungkap Gus Yayan.

Adapun nama dari 11 orang Tim Mapala Gapadri yang bekerja keras dalam upaya menelusuri luweng, antara lain:

1.Muhammad Abdul Azis (Dengen)
2.Dia Nuranisyah Dano T (Moci)
3.Karunia Adi (Malolo)
4.Trisandy Patra Edy (Gympe)
5.Muhammad Ambiah Siregar (Blarak)
6.Imam Amarijami Saputra (Botek)
7.Muhammad Bayu Ramadhan (Metu)
8. Mifta khudin (tolam)
9. Septyo Darmawan (Omes )
10.Muhammad Abhim (Trondol )
11.Adhi Setya Putra JK (kumai)

Secara terpisah, Gus Rori menyampaikan rasa salutnya terhadap tim Mapala yang cekatan dalam bekerja. Ia pun tidak lepas dari doa, agar mereka selamat, mengingat medannya yang tidak mudah.

Lantas, bagaimanakah hasil dari kerja keras mereka setelah memasuki lorong vertikal gua? _Bersambung_

3 Comments

3 Comments

  1. Avatar

    Bang Adit

    10 September 2019 at 11:27 am

    Subhanallah, bermanfaat sekali

  2. Avatar

    bebe

    10 September 2019 at 4:44 pm

    Masyaallah, Organisasi yang sangat bermanfaat bagi masyarakat, hidup Mapala💪

  3. Avatar

    Abdul Hakim

    11 September 2019 at 7:55 pm

    luar biasa padasuka

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top