Kabar

Perjuangan Menembus Perut Bumi di Paranggupito (2)

 

Padasuka.id- Wonogiri. Pada edisi sebelumnya telah diungkapkan, bahwa Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk musibah kekeringan di Kecamatan Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah, menggandeng aktivis dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta dalam upaya menelusuri keberadaan sungai perut bumi di sana. Sejak Sabtu (7/9/2019) tim telah bekerja keras mamsuki luweng (gua vertikal) yang disebut Gua Jomblang di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito. Namun, pada pukul 17.30 WIB didapat informasi dari dalam gua bahwa tali sepanjang 150 meter yang dipasang oleh tim tidak mencapai dasar gua, demi keselamatan, melalui koordinasi singkat, tim yang masuk ke dalam gua diputuskan untuk keluar dan istirahat sembari mempersiapkan alat tambahan. Proses ini berjalan hingga pukul 20.00 WIB. Selepas makan malam dilakukan koordinasi kembali untuk mempersiapkan penelusuran kedua di gua yang berbeda sebagai alternatif. Untuk kemudian mereka istirahat. Sedangkan Ketua Tim TDP, Gus Yayan dan Korlapnya, Gus Rori, melakukan musyawarah dengan Kepala Desa Gendayakan dan beberapa sesepuh serta masyarakat setempat.

Kemudian, masih dalam keterangan tertulisnya, Gus Yayan menyampaikan, “Pada hari ke-2 (Minggu, 8 September 2019) saat hari masih pagi, karena posisi ‘flying camp’ (camp lapangan) tim dari GAPADRI Mapala ITN Yogyakarta berada di lembah, maka keadaannya terasa lebih gelap dari lokasi lainnya. Malam sebelumnya, saudara Septyo Darmawan (Omes) dan Muhammad Abhim (Trondol} yang bertugas mensuplai alat tambahan dari Yogyakarta, yaitu tali carmantel statis 200 meter, sudah tiba kembali di lokasi pada sekitar jam 01.00 WIB dini hari. Selepas Subuh, personel tim telah melakukan pergerakan sesuai tugasnya masing-masing. Yang terlihat dominan adalah tim logistik yang menyiapkan sarapan serta mengecek dan menyiapkan alat untuk penelusuran lanjutan.”

Selanjutnya, pada sekitar pukul 08.00 WIB, tim penelusuran yang dikoordinatori oleh M. Abdul Azis (Dengen), setelah dirasa persiapannya cukup, mulai bergerak menuju mulut Gua Jomblang Ngejring kembali, sembari membawa tali tambahan. Dengan lintasan yang sama yang telah dipasang oleh tim pada penelusuran sebelumnya, serta dengan teknik yang sama juga. Lalu tim perlahan bergerak turun ke dasar gua. Sekitar tengah hari, orang pertama telah sampai di dasar Gua Jomblang Ngejring disusul tiga personel berikutnya. Saat itu, prediksi kedalaman gua lebih kurang 170 meter dari permukaan tanah. Berdasar komunikasi antara tim penelusur yang ada di dalam gua dan tim rescue yang dikoordinatori oleh Kurnia Adi (Malolo), diperoleh informasi, masih terdapat lorong horizontal yang harus ditelusuri lagi.

Setiap perkembangan pergerakan dikomunikasikan secara intensif dengan menggunakan Handy Talky (HT) hingga pada pukul 17.00 WIB, tim rescue hilang kontak komunikasi dengan tim penelusur karena sebab kondisi medan tidak lagi tertembus sinyal HT. Keadaan tersebut membuat tim rescue mengambil keputusan jika hingga tengah malam, yakni pada pukul 00.00 WIB belum juga ada kontak, maka tim rescue akan bergerak turun juga ke dalam gua untuk memastikan semuanya dalam keadaan aman atau mungkin sebaliknya.

“Penantian lama tanpa adanya kontak komunikasi menjadikan rasa kekhawatiran tentang keadaan teman-teman di dalam gua. Kita semua berdoa agar semua dalam keadaan aman, selamat, dan lancar,” ungkap Gus Yayan mengisahkan seputar kehilangan kontak dengan tim penelusur yang berada di perut bumi tersebut.

Rasa cemas dan khawatir yang mendalam atas hilangannya kontak itu, secara terpisah juga disampaikan oleh Gus Rori. Korlap Tim TDP ini, menuturukan bahwa dirinya nyaris tidak bisa berkata-kata; yang ada hanya mata berkaca-kaca dengan untaian doa yang dipanjatkan ke hadirat-Nya.

“Ya Allah, saya nggak bisa ngomong apa-apa, yang saya bisa hanya berdoa memohon keselamatan buat adik-adik kita yang ada di dalam gua. Saya malah sempat berfikir yang di luar dugaan. Ya, kalau umpamanya… Ya Allah.. Ya Allah… Susah saya menjelaskan kecamuk dalam hati saya. Ya, saya hanya terus berdoa, dan semua pun berdoa untuk keselamatan mereka,” ungkap Gus Rori penuh haru dan cemas.
_Bersambung_

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top