Kabar

Perjuangan Menembus Perut Bumi di Paranggupito (3)

 

Padasuka.id- Wonogiri. Pada edisi sebelumnya diberitakan; memasuki hari ke-2 (Minggu, 8/9/2019) tim dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta, kembali menelusuri ke dalam luweng (Goa Jomblang-Ngejring) yang terletak di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah; dimulai dari pagi hari, pukul 08.00 WIB. Di dalam upaya mencari sungai perut bumi tersebut, setiap ada perkembangan atau pergerakan dikomunikasikan secara intensif antara tim yang di dalam gua dengan tim rescue yang ada di atas dengan menggunakan Handy Talky (HT). Namun pada pukul 17.00 WIB, tim rescue kehilangan kontak dengan tim penelusur yang dimungkinkan karena kondisi medan yang tidak lagi tertembus sinyal HT. Keadaan ini membuat tim rescue mengambil keputusan jika hingga pukul 00.00 WIB belum juga ada kontak, maka tim rescue akan bergerak turun ke dalam gua untuk memastikan semuanya.

Beginilah kondisi tim penelusur saat merayapi dinding gua

Karuan saja, Korlap Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP), Gus Rori, sempat merasa cemas dan khawatir yang teramat sangat. Semua hanya bisa berdoa untuk keselamatan mereka sambil menunggu waktu tengah malam.

Tidak terkecuali dengan Ketua Tim TDP, Gus Yayan, dalam rilisnya ia menulis, “Penantian lama tanpa adanya kontak komunikasi menjadikan rasa kekhawatiran tentang keadaan teman- teman di dalam (gua). Kita semua berdoa agar semua dalam keadaan selamat, aman, dan lancar.”

Dalam kondisi gelap, masyarakat mengumpulkan ranting dan daun kering untuk api unggun

Kekhawatiran itu sangat beralasan, karena kehilangan kontak antara tim penelusur dengan tim rescue terjadi dalam waktu yang sangat lama, yakni dari pukul 17.00 sampai pada sekitar pukul 22.00 WIB. Dalam medan yang tidak mudah dan masih belum terjamah sebelumnya, segala kemungkinan tak bisa diabaikan. Entah karena kontur dinding gua yag rapuh, adanya rintangan lain semisal gas bumi, atau bisa saja karena faktor binatang buas, dan lain sebagainya. Walau semua tim yang masuk gua adalah mereka yang berpengalaman, namun segala kemungkinan buruk bisa saja terjadi.

Kekhawatiran itu akhirnya dapat terobati, setelah pada sekitar pukul 22.30-an WIB, tanda-tanda bahwa tim yang ada di dalam gua dalam kondisi aman.

Tim penelusur menghangatkan tubuh di sisi api unggun

“Sebersit kegembiraan pun muncul setelah sebelum tengah malam HT yang dipegang saudara Kurnia Adi (Malolo) terpanggil, mengisyaratkan semua dalam keadaan aman,” demikian papar Gus Yayan dalam rilisnya.

Rasa cemas yang sebelumnya menyelubungi, kini berangsur-angsur pudar berganti kebahagiaan. Karena saudara-saudara yang berada di dalam gua, setelah kehilangan kontak selama berjam-jam, ternyata dikabarkan semuanya dalam kondisi aman dan selamat.

Tidak hanya itu, kegembiraan pun bertambah, setelah dari dalam gua, tim penelusur mengabarkan penelusuran selesai dan ditemukan adanya potensi air di dalam gua.

“Allah… Rasa syukur tak tergambarkan dalam hati kami, rasa haru tak terbendung karena ada secercah harapan bagi masyarakat Gendayakan,” ungkap Gus Yayan lalu melanjutkan.

“Akan tetapi tugas belum selesai, tim penelusur harus kembali naik ke permukaan. Satelah istirahat sejenak, sembari menunggu anggota tim penelusur merapat semua, dalam keadaan badan yang sangat letih setelah berjibaku lebih kurang 14 jam di dalam gua, kemudian satu persatu personel tim penelusur naik ke permukaan dengan meniti instalasi tali yang telah mereka pasang. Mereka naik ke permukaan dengan metode askending dengan menggunakan alat-alat khusus,” ulas Gus Yayan menggambarkan kondisi saat itu.

Secara terpisah, Gus Rori juga berbagi kisah, setelah hati merasa lega karena semua tim dikabarkan selamat, ia mendapat kabar bahwa sebagian anggota tim penelusur ada yang kedinginan. Maklum, berada di dalam gua selama belasan jam yang kemudian mereka berada pada titik air, kedinginan adalah hal yang sangat memungkinkan. Mendapat informasi itu, sebagian masyarakat setempat yang masih setia menyaksikan upaya penelusuran itu, bergegas mencari daun-daun dan ranting kering untuk dijadikan api unggun sebagai penghangat tubuh anggota tim yang kedinginan.

Singkat cerita, setelah semua tim penelusur sudah berada kembali di atas gua, mereka yang kedinginan diarahkan merapat ke sisi api unggun yang telah disediakan. Setelah berjibaku selama belasan jam di perut bumi, kini mereka bisa menghirup udara alam raya di atas bumi sambil menikmati hangatnya api unggun di balik hangatnya rasa persaudaraan masyarakat setempat.

Malam itu, adalah malam bersejarah bagi mereka untuk Paranggupito, juga bagi semuanya, termasuk bagi PADSUKA. Saat itu adalah: Ahad Legi malam Senin Pahing, 9 Suro 1953 Jw yang bersamaan dengan 9 Muharram 1441 H –dan ketika memasuki pukul 00.00 WIB, berarti juga: 9 September 2019 M. Dalam kata lain, setelah memasuki waktu tengah malam, peristiwa itu berada pada tiga angka tanggalan yang sama (tanggal 9), di dua urutan bulan yang sama (bulan 1), pada tiga sistem kalender yang berbeda.

Setelah mereka berhasil menelusuri perut bumi di Gua Jomblang-Ngejring serta menemukan titik air, lantas apa kegiatan berikutnya? _Bersambung_

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top