Kabar

Wejangan Ketum PADASUKA di Sisi Luweng Jomblang – Ngejring

 

Padasuka.id- Wonogiri. Senin (9/9/2019) di sela-sela lawatannya dari beberapa daerah di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Ketua Umum Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) KHR Syarif Rahmat RA, secara tiba-tiba berkunjung ke Paranggupito, Wonogiri, Jawa Tengah. Kedatangan kiai yang akrab disapa Kanjeng Sunan ini, karuan saja mengagetkan Korlap Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP), Gus Rori, yang saat itu berada di Posko Paranggupito.

Menggunakan lampu senter memperhatikan posisi luweng Guwa Jomblang-Ngejring di Desa Gendayakan

“Kawulo pas bade maus Munajat (ketika saya akan membaca Kitab Munajat); pas kawulo kirim Fatihah ke Abi (Syarif), Abi sudah di depan pintu,” papar Gus Rori yang disampaikan melalui sambungan WA ke Redaksi Padasuka.id dari Posko Bantuan Air Bersih dan Sembako untuk Warga Paranggupito di Dusun Parang, Desa dan Kecamatan Parangguputo, Senin malam (9/9).

“Abi tiba di posko, saat saya mau baca Munajat, sekitar jam 18.15 WIB. Beliau di posko istirahat sekitar 15 menit, kemudian beliau mengajak kami mengunjungi lokasi Luweng. Sampai di Luweng Jomblang di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, jam 19.30 WIB,” lanjut Gus Rori.

Perjalanan di Paranggupito

Menggunakan penerangan lampu senter, Kanjeng Sunan dengan ditemani Gus Rori, tokoh masyarakat setempat, anggota Banser, dan sejumlah jamaah, menyusuri pematang dalam kondisi gelap malam. Beberapa saat kemudian, tibalah rombongan di sisi luweng yang berada di sebuah lembah. Masih dengan lampu senter, Kanjeng Sunan lalu memperhatikan posisi luweng yang telah ditelusuri oleh tim dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta tersebut.

Sebelum kembali dari lokasi luweng, Kanjeng Sunan menyampaikan beberapa hal terkait dengan kekeringan yang menimpa serta upaya penelusuran luweng tersebut. Antara lain diungkapkan, tersimpan banyak hikmah di balik bencana kekeringan yang menimpa warga Paranggupito sehingga akhirnya tercipta rasa kebersamaan dari sejumlah elemen masyarakat, baik dari masyarakat setempat, PADASUKA, termasuk pula dari Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) ITN Yogyakarta.

Didampingi Gus Rori (kiri) dan Ust.Slamet (kanan) Kanjeng Sunan menyampaikan beberapa hal di sekitar luweng Gua Jomblang-Ngejring

“Ternyata, Alhamdulillah, setelah dilakukan penelusuran oleh anak-anak muda kita dari Mapala; mahasisiswa dari (ITN) Jogja, yang turun di kedalaman lebih kurang 180 meter, ditemukan ada air mengalir di bawahnya yang sangat jernih,” tuturnya lalu melanjutkan.

“Saya ingin mengatakan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil di sini. Pertama, bahwa musibah kadang-kadang membawa anugerah yang tidak kita sadari. Kalau tidak ada kekeringan yang berkepanjangan, mungkin teman-teman tidak kemari dan mungkin tidak menemukan ada informasi sumber air yang sangat luar biasa ini. Yang kedua, juga mungkin ini adalah pelajaran buat kita, bahwa anak-anak muda yang selama ini kelihatannya cuma jalan-jalan, naik bukit, turun bukit; naik gunung, turun gunung, ternyata manfaatnya jauh lebih besar dari kita semua. Mereka lima orang turun ke bawah; (dan ada yang) berjaga di atas beberapa orang, bisa menemukan sesuatu yang sangat berharga di sini. Ini sejarah yang sangat besar bagi warga di sini; baik juga bagi warga di sini. Jadi, jangan pernah kita menganggap bahwa pekerjaan orang lain itu ada yang hina. Anak-anak muda, mungkin dia berjalan-jalan dan lain sebagainya. Ternyata di belakang itu, hari ini terjawab, mereka bermanfaat sekali buat kita semua; yang kita semua tidak bisa melakukannya. Mudah-mudahan dengan kebersamaan kita semua, kita bisa berbuat kebaikan buat warga masyarakat di sekitar sini. Dengan kebersamaan kita mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa kita taburkan.”

Foto bersama di Posko Paranggupito

Berikutnya, Kanjeng Sunan kembali mengapresiasi kerja keras dari tim Gapadri Mapala ITN Yogyakarta.

“Tidak mewakili siapa-siapa, tapi kami ada rasa bangga. Bangga punya anak-anak Mapala. Masih banyak, Nak yang bisa kalian perbuat. Dan, jangan khawatir, kamu mungkin kurang shalatnya; kamu mungkin kurang dzikirnya; kamu mungkin kurang ibadahnya; tapi tahukah kamu? Ibadahmu menemukan seperti ini, nilainya tiada bandingannya. Allah yang akan membalas kalian semuanya. Masyarakat di sekitar sini; bahwa kalian adalah pahlawan yang akan panjang dikenang. Dan, insya Allah nama-nama kamu, ndak usah dituliskan, tapi nama-namamu ada di hati mereka,” tegas Kanjeng Sunan dengan nada sangat serius.

Atas keberhasilan menemukan potensi air di perut bumi tersebut, Kanjeng Sunan pun mengucapkan kata selamat kepada semuanya.

“Selamat, anugerah Allah telah menjemput kita. Syukuri dengan sebaik-baiknya, manfaatkan sebaik-baiknya. Semoga desa ini yang setiap tahun dilanda kekeringan dan kesulitan, kesulitan itu segera diakhiri,” tutur Kanjeng Sunan yang disambut dengan kata “amin” oleh semuanya.

Pada bagian akhir, tidak lupa Kanjeng Sunan menyampaikan ungkapan terima kasihnya terhadap Gus Yayan, Ketua PADASUKA Jawa Tengah sekaligus juga sebagai Ketua Tim TDP yang telah mendatangkan tim dari Mapala.

“Terima kasih yang teramat besar juga untuk Gus Yayan atau Ustadz Muhammad Wiyanto, pimpinan Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga Jawa Tengah, melalui beliaulah kemudian anak-anak kita bisa sampai di tempat ini dan kebersamaan bisa terjalin sehingga memperoleh kebaikan. Sekali lagi, terima kasih Gus Yayan, moga-moga Pesantren Daarul Muthola’ah yang panjengan pimpin membawa keberkahan, juga anak-anak panjengan menjadi anak-anak yang shaleh dan salehah,” pungkas Kanjeng Sunan yang disambut dengan ucapan “amin” dari semuanya.

Pada sekitar pukul 21.00 WIB, Kanjeng Sunan dan rombongan kembali lagi ke posko di Dusun Parang, Desa Paranggupito. Setelah sekitar 30 menit kemudian tiba di posko untuk istirahat dan lain sebagainya. Setelah membahas berbagai hal dan foto bersama, selanjutnya pada sekitar pukul 22.30 WIB, Kanjeng Sunan dan rombongan bertolak dari Paranggupito menuju Yogyakarta. (SM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top