Kabar

Perjuangan Menembus Bumi Paranggupito (4)

 

Padasuka.id- Wonogiri. Pada edisi yang lalu telah diberitkan, bahwa pada hari ke-2 (Minggu, 8/9/2019) penelusuran luweng (Gua Jomblang) di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, berhasil dilakukan oleh tim penelusur. Yakni, oleh para aktivis susur gua (caver) dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta. Setelah sebelumnya, sempat terputus kontak selama berjam-jam antara tim penelusur yang berada di dalam gua dengan tim rescue yang berjaga di atas gua. Lebih rinci lagi mengenai peristiwa itu, dituturkan oleh Ketua Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk bencana kekeringan Paranggugpito, Gus Yayan, yang juga sebagai penanggung jawab penelusuran luweng Gua Jomblang-Ngejring.

Melalui rilisnya, Gus Yayan menuturkan, “Setelah sekitar 6 jam dalam penantian penuh kekhawatiran, lebih kurang jam 22.30-an ada panggilan masuk ke HT yang dipegang saudara Kurnia Adi (Malolo). Informasi yang disampaikan bahwa koordinator tim penelusuran yaitu saudara M Abdul Aziz menginstruksikan salah satu anggotanya untuk naik ke ‘pit’ 3 guna mengabarkan kedaan semua personel tim dalam keadaan baik dan proses penelusuran lancar serta aman terkendali,” urainya lalu melanjutkan.

“Kabar baiknya, di sekitar kedalaman 180-an meter, tim telah menemukan aliran air dengan karakter berundak (waterfall) serta chamber. Informasi yang begitu membahagiakan, karena kekeringan yang selama ini dirasakan oleh masyarakat Gendayakan dengan adanya potensi air dalam Goa Jomblang Ngejring akan menjadi solusinya,” ungkap Gus Yayan.

Beginilah kondisi tim penelusur saat merayapi dinding gua

Kembali pada tim penelusur yang masih berjibaku pada kedalaman 180 meter di dalam perut bumi Gendayakan, Gus Yayan menjelaskan, “Setelah dirasa misi berhasil dilaksanakan, maka satu persatu personel ditarik keluar gua. Rasa capek yang tak terkira setelah penelusran membuat proses ‘askending’ berjalan lambat. Tujuh jam proses meniti tali untuk keluar dari gua, dan sekitar jam 06.00 WIB pagi, baru semua personel berhasil keluar gua sekaligus melakukan cleaning alat. Wajah wajah bahagia masyarakat menyambut mereka di flaying camp, menyalami dan memeluk tim penelusur penuh haru karena begitu bahagia.”

Posisi seorang anggota tim di genangan air di dasar gua yang berhasil ditelusuri

 

“Tim istirahat sejenak sembari sarapan dan packing alat. Sebelum turun ke posko, untuk mengobati rasa penasaran masyarakat sejenak dilakukan pertemuan dengan masyarakat yang hadir untuk memberikan sekelumit gambaran penelusursn, kondisi dalam gua, dan keadaan air di dalamnya. Masyarakat begitu antusias mengikuti pemaparan tim. Di akhir pertemuan suasana haru kembali terasa karena harapan-harapan dan rasa terima kasih yang disampaikan oleh masyarakat kepada seluruh tim dari GAPADRI Mapala ITN Yogyakarta. Salah satunya, adalah meminta kerelaan dari tim untuk melanjutkan proses ini hingga air dapat dimanfaatkan. Setelah berpamitan hari itu (Senin, 9 September 2019) tim bergerak menuju Yogyakarta, untuk kemudian menata pergerakan lanjutan di Gendayakan, Paranggupito,” pungkas Gus Yayan.

Salah seorang tim sempat diambil gambarnya ketika berada di dasar gua

Kemudian, pada malam harinya (Senin, 9/9) Korlap Tim TDP, Gus Rori, mengabarkan bahwa Ketua Umum PADASUKA, KHR Syarif Rahmat RA, secara tiba-tiba menyambangi Posko Paranggupito lalu mendatangi lokasi Gua Jomblang-Ngejring.

“Abi (Kiai Syarif) tiba di posko, saat saya mau baca Munajat, sekitar jam 18.15 WIB. Beliau di posko istirahat sekitar 15 menit, kemudian beliau mengajak kami mengunjungi lokasi Luweng. Sampai di Luweng Jomblang di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, jam 19.30 WIB,” tutur Gus Rori.

Salah seorang anggota tim saat nai ke permukaan, keluar dari gua

Singkatnya, di sisi luweng, antara lain kiai yang akrab disapa Kanjeng Sunan ini menyampaikan, “Saya ingin mengatakan beberapa pelajaran yang bisa kita ambil di sini. Pertama, bahwa musibah kadang-kadang membawa anugerah yang tidak kita sadari. Kalau tidak ada kekeringan yang berkepanjangan, mungkin teman-teman tidak kemari dan mungkin tidak menemukan ada informasi sumber air yang sangat luar biasa ini. Yang kedua, juga mungkin ini adalah pelajaran buat kita, bahwa anak-anak muda yang selama ini kelihatannya cuma jalan-jalan; naik bukit, turun bukit; naik gunung, turun gunung, ternyata manfaatnya jauh lebih besar dari kita semua. Mereka lima orang turun ke bawah; (dan ada yang) berjaga di atas beberapa orang, bisa menemukan sesuatu yang sangat berharga di sini. Ini sejarah yang sangat besar bagi warga di sini; baik juga bagi warga di sini. Jadi, jangan pernah kita menganggap bahwa pekerjaan orang lain itu ada yang hina. Anak-anak muda, mungkin dia berjalan-jalan dan lain sebagainya. Ternyata di belakang itu, hari ini terjawab, mereka bermanfaat sekali buat kita semua; yang kita semua tidak bisa melakukannya. Mudah-mudahan dengan kebersamaan kita semua, kita bisa berbuat kebaikan buat warga masyarakat di sekitar sini. Dengan kebersamaan kita mudah-mudahan banyak manfaat yang bisa kita taburkan.”

Kanjeng Sunan juga menyampaikan rasa bangganya terhadap tim dari Mapala ITN Yogyakarta serta ucapan selamat dan terima kasih terhadap semua yang terlibat. (SM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top