Kabar

Inilah Sebabnya, Kenapa Mengaji Kitab Fiqih Menjadi Penting

 

Padasuka.id- Tangsel. Sudah diketahui secara umum bahwa dalam ajaran Islam, mempelajari ilmu diwajibkan bagi sekalian muslimin dan muslimat, terkhusus ketika ia sudah aqil baligh. Sedangkan anjuran untuk mempelajari ilmu terhitung sejak seseorang masih dalam buaian sampai ketika kelak akan memasuki liang lahat –minal mahdi ilal lahdi. Namun, ilmu apa yang dimaksud sehingga diwajibkan? Secara umum dapat diistilahkan dengan ilmu yang akan membawa seseorang pada jalan kebenaran dan kebaikan. Atau, ada yang menyebutkan, ilmu agama. Tentu yang dimaksud adalah agama Islam. Mengingat, tujuan dari manusia diciptakan adalah untuk mengabdi kepada Sang Pencipta, Allah SWT. Bagaimana seseorang bisa mengabdi secara benar dan baik, jika tidak mengetahui ilmunya. Bagaimana seseorang dapat mengetahui ilmunya, jika tidak mempelajarinya. Bertolak dari sini, maka perintah wajibnya mencari ilmu, yang dimaksud adalah ilmu agama. Demikian, salah satu uraian Ust. Ahmad Faujih, S.Pd.I, saat memulai pengajian rutin Kitab Fiqih di Kantor Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA), Jl
Pisangan, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (Tangsel), Banten, Sabtu malam (14/9/2019).

Secara umum, ilmu-ilmu agama Islam tentu banyak cabangnya, dan salah satu dari cabang itu adalah flmu fiqih. Secara spesifik, sesuai dengan kitab fiqih yang sedang dibaca, Ustadz Fauzi, sapaan akrabnya, lalu mengulas pentingnya mempelajari ilmu fiqih. Ia memaparkan, ada banyak hal hingga penting bagi seorang muslim atau muslimat mempelajari ilmu tersebut. Di antaranya, karena ilmu fiqih dapat mencegah bisikan syaithaniyah. Yakni segala sesuatu bisikan yang bersifat syetan, atau bersifat merusak. Kemudian, dengan mempelajari ilmu fiqih, seseorang akan megetahui sahnya suatu ibadah dan amaliah.

Berkenaan dengan yang disebut kedua, Ustadz Fauzi lalu mengutip syi’ir dari
Ibnu Ruslan dalam Kitab Zubad, yakni:

وكل من بغير علم يعمل * اعماله مردودة لا تقبل

Artinya:
“Setiap orang yang beramal tanpa ilmu, tertolak tidak diterima amalannya itu.”

“Perhatikan kalimatnya, ‘Marduudatun Laa Tuqbalu,’ tertolak; tidak diterima amalnya. Nah, kalau begitu, bagaimana ibadah kita akan diterima kalau tidak tahu ilmunya. Maka mengaji, itu penting dan tentunya wajib agar kita tahu ilmunya. Mengetahui ilmunya, menurut Ibnu Ruslan, menjadi syarat diterimanya ibadah atau amal kita,” papar Ustadz Fauzi menegaskan.

Pada bagian berikutnya diterangkan, bahwa dalam ilmu fiqih terdapat empat pelajaran utama. Pertama, ilmu tentang ‘Ibadah,’ baik yang wajib seperti tertera dalam Rukun Islam, atau pun yang sunnat, dan lain sebagainya. Kedua, ilmu tentang ‘Mu’amalah,’ yaitu pelajaran yang berkaitan dengan kehidupan sosial, semisal jual beli, hubungan dengan lain pihak, dan sebagainya. Ketiga, tentang ‘Ahwalus Syakhshiyah’ atau dalam dunia kampus biasanya disebut Prodi Hukum Keluarga. Keempat, adalah ‘Jinayat.’ Yaitu pelajaran hukum Islam tentang kriminalitas, atau dalam istilah yang lebih populer disebut dengan Hukum Pidana Islam.

Secara terpisah, seusai acara, Koordinator Kegiatan Kantor DPP PADASUKA, Ust. Awang Bachtiar, mengungkapkan, acara pengajian kitab fiqih ini dilangsungkan secara rutin setiap malam Minggu ke-3 dalam setiap bulannya, dimulai setelah shalat Isya’. Ia juga mengungkapkan bahwa acara ini berlaku untuk umum.

“Siapapun boleh ikut mengaji di sini, terutama ya kepada seluruh jamaah PADASUKA, khususnya di Jabodetabek. Dengan harapan agar kita semua dapat menambah ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu fiqih. Kedua, ini juga bagian dari pelestarian tradisi mengaji kitab kuning ala pesantren. Bagi yang nggak pernah nyantren, bolehlah nyantren bulanan di sini. Tapi intinya sih, adalah untuk mengkaji pelajaran-pelajaran ilmu fiqih yang tentunya wajib kita ketahui agar tidak salah dalam beribadah dan lain sebagainya,” pungkas Ustadz Awang. (AF)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top