Kabar

Demi Dapatkan Air; Dosen di Wonogiri Rela Menembus Gua

Padasuka.id- Wonogiri. Kemarau panjang tahun ini telah menyebabkan kelangkaan air bersih di berbagai daerah. Terlebih lagi sejumlah daerah yang berada pada karst perbukitan kapur Gunung Sewu yang membentang dari belahan selatan Yogyakarta, Wonogiri (Jawa Tengah) hingga sebagian wilayah Jawa Timur.

Suasana masyarakat Paranggupito saat antre air bersih yang disuplai Tim TDP

Untuk wilayah Kabupaten Wonogiri, terdapat satu kecamatan yang sejak beberapa bulan lalu mengalami krisis air bersih, yakni wilayah Kecamatan Paranggupito. Dari hasil penelusuran di lapangan, delapan desa di wilayah ini semuanya terdampak kekeringan dengan dua desa yang tercatat paling parah, yakni Desa Pelem dan Desa Gendayakan. Demi membantu meringankan beban masyarakat di wilayah ini, sejak 26 Agustus 2019, Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) membentuk Tim Tanggap Darurat PADASUKA. Selain menyalurkan bantuan air bersih dan sembako, juga sedang diupayakan untuk dapat memanfaatkan potensi air yang berada di dasar Gua Jomblang-Ngejring, Desa Gendayakan. Dalam upaya ini, proses penelusuran dan hal-hal lainnya yang bersifat teknis, dikerjakan oleh tim dari GAPADRI Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY).

Sebagian tim susur gua dari GAPADRI Mapala ITNY bersama tim ahli (dosen)

Sabtu – Minggu (14-15 September 2019), tim dari ITNY, untuk kali kedua, melakukan survei di Gua Jomblang-Ngejring. Survei ke-2 ini adalah untuk mengambil contoh air yang akan diuji secara laboratoris, pemetaan gua lebih rinci lagi, serta rencana teknis konstruksi pemipaan dan lain sebagainya.

Kalau pada survei yang pertama hanya diakukan oleh tim dari GAPADRI Mapala ITNY untuk memastikan keberadaan air di dasar Gua Jomblang-Ngejring, kali ini melibatkan dua orang ahli di bidangnya masing-masing. Yakni, Sulaiman Tampubolon, ST, M.Eng (Dosen Teknik Mesin ITNY) dan Chandra Gunawan, ST, MM, dari Dinas Lingkungan Hidup. Kehadiran dua orang tim ahli ini bukan hanya sekedar meneliti dari atas permukaan gua, atau sekedar meminta contoh airnya saja, melainkan turun langsung ke dasar gua pada kedalaman sekitar 180 meter.

Tim Mapala dan Tim Ahli dari ITNY foto bersama dengan Ketua dan Korlap Tim TDP (Gus Yayan dan Gus Rori/tengah berkaos hitam)

“Pada kesempatan ini, saya mewakili Teknik Mesin Institut Teknologi Nasional Yogyakarta. Kita akan melakukan eksplorasi, di mana dalam perencanaan ini nanti kita akan mengambil data; data teknis, kemudian posisi-posisi; termasuk juga ketika kita dalam eksplorasi gua, itu ada namanya pem-balance-an air ketika kita menaikkan pompa. Harapan saya, ketika kita masuk hari ini kita mendapatkan data detail. Dan nanti ke depannya, setelah ini, kita akan merancang spesifikasi teknis; kita akan melakukan pengujian-pengujian, perhitungan-perhitungan posisi pompa, sehingga kita nanti akan dapat menentukan detail desain enggenering dari konstruksi pompa pengangkat air,” ungkap Sulaiman sesaat akan memasuki Gua Jomblang-Ngejring, Minggu (15/9).

Semua anggota tim dan sejumlah masyarakat setempat foto bersama

Sulaiman juga mohon doa dari semuanya, agar apa yang dilakukan oleh tim ini berhasil dengan baik sehingga nantinya air bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang setiap tahunnya selalu terdampak musibah kekeringan. Senada dengan Sulaiman, Chandra pun berharap agar semua yang dilakukan berhasil dengan baik, termasuk uji kelayakan air secara laboratoris.

Posisi Chandra Gunawan di balik silangan batu gua

Singkatnya, dilihat dari video mereka saat berada di dalam gua, terekam betapa kerja keras yang dilakukan. Satu misal, saat Chandra berupaya menelusuri kedalaman air dan posisi dinding gua, ia pun harus menyelam.

Dalam video tersebut, seorang anggota Mapala menanyakan pada Chandra saat ia mengangkat kepala di atas permukaan air, “Gimana kondisinya, Bang?”

Chandra Gunawan saat memberikan penjelasan di genangan air dasar gua

“Dalem… Ke kiri, lebar sekitar satu setengah meter.. Lorongnya masih dalem.. Jadi kemungkinan air masih banyak di sebelah dalam, bukan cuma di sini, dan ini alirannya di bawah. Jadi tidak terlihat aliran di permukaan,” jawab Chandra yang berada di balik bebatuan dinding gua.

Sementara itu, di sudut yang berbeda dengan posisi yang sama-sama berada di genangan air, Sulaiman Tampubolon menjelaskan perkiraan debit air, serta penempatan posisi mesin pompa yang direncanakan.

“Ini kita berada di titik kemungkinan pompa akan dipasang di sini. Dan, air ini kemungkinan, dari perhitungan kasar, ada sekitar 20.000 liter. Dan, lokasi pompa nanti kita taroh di bawah-bawah sini,” jelas Sulaiman sambil menunjuk ke bawah cekungan dinding gua di sisi kiri ia berdiri.

Sulaiman Tampubolon saat memberikan keterangan di genangan air dasar gua

Sulaiman pun berharap, agar upaya ini bisa membuahkan hasil yang baik.

“Semoga sesuai rencana. Dan, ini merupakan sebuah rejeki; ini sangat fisible untuk diambil airnya,” pungkas Dosen Teknik Mesin di ITNY tersebut.

Memperhatikan dari apa yang mereka lakukan, adalah sebuah kerja keras yang sangat luar biasa dalam upaya membantu masyarakat desa yang menjadi langganan musibah kekeringan. Seorang dosen teknik dan seorang ahli dari Dinas Lingkungan Hidup, rela berpayah-payah menuruni dinding gua vertikal untuk kemudian berbasah-basah di genangan air.

Seperti yang menjadi harapan dari semua pihak, semoga upaya eksplorasi air bersih di Gua Jomblang-Ngejring ini berjalan lancar, aman, dan membuahkan hasil yang maksimal. (SM)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top