Kabar

Seribuan Pesilat Muda Mengebrak Pringsewu

Padasuka.id – Lampung. Di bawah terik matahari di tengah lapangan rumput, seribuan pemuda berseragam hitam-hitam menggelar aksi. Sejumlah pandangan mata para orang tua tertuju pada mereka, termasuk aparat kepolisian, tentara, ulama, bahkan wakil bupati. Gerak demi gerak dimainkan, mulai dari jurus hingga tendangan. Semakin lama semakin seru hingga kemudian membentuk konfigurasi yang indah. Itulah gambaran dari salah satu atraksi para pesilat muda Nahdlatul Ulama (NU) dalam perhelatan akbar, “Gebyar Peguron Sapujagad Kumpul Sedulur Sijiwadah PSNU Pagar Nusa 1986 dan Ijazah Kubro,” yang digelar di lapangan wilayah Kecamatan Banyumas, Pringsewu, Lampung, Minggu (29/9/2019). Ya, mereka adalah para pesilat yang menempa ilmu bela diri di Peguron Sapujagad wilayah Lampung. Perguruan silat ini berada di bawah naungan PSNU Pagar Nusa, yakni Badan Otonom (Banom) NU yang membidangi ilmu dan seni beladiri.

Acara yang dihelat dari pukul 09.30 WIB tersebut, selain dihadiri oleh Pimpinan Pusat (PP), Pimpinan Wilayah (PW), dan Pimpinan Cabang (PC) Peguron Sapujagad, juga dihadiri oleh pengurus Pimpinan Pusat Pagar Nusa dari Jakarta, serta PC Pagar Nusa Lampung Selatan, Lampung Utara, dan lain-lain. Hadir pula unsur Muspika Banyumas, Pengurus MWC NU, LP Ma’arif NU, dan Wakil Bupati Pringsewu, Dr H Fauzi, SE, M.Kom.

Mewakili PW Sapujagad Provinsi Lampung, Drs R Yenson, dalam kata sambutannya, mengajak semua pesilat NU untuk bersatu di bawah naungan PSNU Pagar Nusa. Melalui wadah ini pula ia pun mengajak agar semuanya konsisten dalam menjaga NU dan bangsa, serta turut andil dalam upaya menciptakan suasana lingkungan yang aman dan damai. Berkoordinasi dengan pihak yang berwenang jika ada hal-hal yang perlu ditindaklanjuti adalah juga bagian yang ia sarankan terhadap semua anggota Sapujadad, khususnya, dan kepada semua elemen masyarakat pada umumnya.

Sementara itu, mewakili PP Sapujagad, Muhammad Ali Rahman, antara lain menjelaskan tentang legalitas Peguron Sapujagad di bawah PSNU Pagar Nusa. Bahwa,  peguron ini bukan hanya sekedar pengakuan berada di bawah Pagar Nusa, melainkan sudah ter-SK secara resmi sejak sembilan tahun lalu. Rahman juga menyampaikan, sebagai Banom NU, Pagar Nusa tidak akan keluar dari kaidah NU tentang, “Almuhafadhatu ‘alal qadimis shalih wal akhdu biljadidil ashlah” : Menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil sesuatu yang baru yang lebih baik. Terkait dengan kaidah ini, ungkapnya, Nusantara memiliki beragam jenis aliran pencak yang harus tetap dilestarikan. Maka melalui Pagar Nusa, diharapkan semua perguruan dan aliran silat, khususnya yang dipimpin oleh orang-orang NU agar dapat bergabung dengan Pagar Nusa. Kendati demikian, lanjutnya, secara khusus, Pagar Nusa juga memiliki jurus baku yang diramu dan dicipta oleh para pendekar dan Kiai NU yang menjadi mata pelajaran silat khasnya, mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi. Silat baku Pagar Nusa, tandasnya, sudah berstandar kurikulum olaharaga beladiri nasional, bahkan internasional.

Kemudian, Wakil Bupati Pringsewu, H Fauzi, dalam kata sambutannya sangat mengapresiasi perhelatan tersebut. Menurutnya, hal ini akan menjadi catatan sejarah bagi Kabupaten Pringsewu yang ketempatan acara yang menurutnya sangat positif itu. Sebagai wakil kepala daerah, Fauzi berharap, ke depannya, Sapujagad dapat bersama-sama memajukan olahraga beladiri, khususnya di wilayah Lampung.

Penyematan baju Dewan Kehormatan Sapujagad oleh Gus Yusuf Cokro (kanan) kepada Wakil Bupati Pringsewu, H Fauzi (kiri)

Dalam kesempatan ini, PP Sapujagad menganugerahkan Fauzi sebagai Dewan Kehormatan Peguron Sapujagad dengan menyerahkan sertifikat dan seragam kehormatan. Penganugerahan ini diserahkan langsung oleh Guru Besar Peguron Sapujagadi, Gus Yusuf Cokro. Lantunan shalawat An-Nahdliyah pun berkumandang mengiringi proses ini.

Penyerahan piagam penganugerahan Dewan Kehormatan Sapujagad kepada Wakil Bupati Pringsewu, H Fauzi (kiri)

Berikutnya, acara diisi dengan ijazah massal oleh Gus Cokro terhadap seribuan pesilat Sapujagad yang terlibat dalam acara ini. Acara berlangsung begitu hikmat dan sakral. Dengan cara dan bacaan tertentu, mereka mengikuti arahan dari guru besarnya. Di ujung pengijazahan, Gus Cokro menyampaikan, bahwa apa yang telah diijazahkan tersebut harus pula disertai puasa yang harus dijalankan dengan bilangan hari yang telah ditentukan.

Di ujung acara Gus Cokro menegaskan bahwa pengijazahan tersebut bukan untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai upaya untuk melestarikan ilmu para ulama terdahulu. Kecuali itu, juga sebagai upaya lahir batin dari perguruan yang dipimpinnya agar senantiasa siap dalam segala keadaan dalam menjalankan misi Pagar Nusa, yakni sebagai Pagarnya NU dan Bangsa.

Apabila NU memanggil, kita harus siap. Apabila NKRI memanggil, kita harus siap. Maka, pengijazahan ini, tujuan utamanya adalah untuk pengabdian terhadap NU dan NKRI sesuai dengan bidang yang kita geluti. Dan, apapun yang terjadi, semua harus melalui koordinasi dan perintah dari para masyayikh NU. Yang tentunya, para Kiai NU tidak akan lepas dari koordinasi dan komunikasi dengan pihak yang berwenang, baik TNI ataupun Polri. Sekali lagi saya tegaskan, pengijazahan ini bukan untuk kesombongan melainkan sebagai wasilah khidmat kita terhadap NU, bangsa, dan negara. Dan, ingat..!! Bagi Sapujagad, bagi Pagar Nusa, dan bagi generasi NU, akhlak adalah di atas segalanya,” seru Gus Cokro yang juga menjabat sebagai Pengurus Harian di PP Pagar Nusa tersebut di hadapan para pesilat binaannya.

Sebagai pamungkas acara, diisi dengan doa penutup oleh Kiai Ahmad Sajuri yang sebelumnya telah menyampaikan ceramah agama. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top