Kabar

Susuri Jejak di Wilayah Karst Hingga Luweng Jomblang

Padasuka.id – Wonogiri. Salah satu daerah yang masuk bagian dari karst perbukitan kapur gugusan Gunung Sewu adalah wilayah Kecamatan Paranggupito yang berada di belahan paling selatan Kabupaten Wonigiri, Jawa Tengah. Wilayah yang membawahi delapan desa tersebut sejak beberapa bulan lalu terdampak musibah kekeringan. Dua di antaranya, tercatat paling parah, yaitu Desa Palem dan Desa Gendayakan. Menurut penuturan warga setempat, kekeringan di wilayah ini menjadi langganan dalam setiap tahunnya. Namun, di balik kekeringan yang akrab dengan penduduknya, wilayah ini memiliki tipologi alam yang unik dan indah. Di mana, bentangan bukit-bukit batu bak candi berdiri menjulang hampir di setiap sudut seakan memagari areal perkampungan yang berada di dataran rendahya. Kecuali itu, jalanan berliku turun-naik berdinding bebatuan, menjadi pemandangan yang khas di wilayah ini.

Kamis, 26 September 2019 yang lalu, Padasuka.id berkesempatan mengunjungi beberapa dusun di tiga Desa di wilayah tersebut. Mulai dari Desa Ketos, Paranggupito, Sambiharjo, dan Gendayakan. Dalam perjalanan itu, Padasuka.id ditemani oleh Tjm Tanggap Darurat PADASUKA (TDP), di antaranya: Gus Rori (Korlap Tim TDP), Slamet Al-Maduri (Kord. Posko TDP), Ust. Slamet (guru ngaji), dan lain-lain.

Setelah dari beberapa titik, perjalanan terakhir menuju ke areal Luweng Jomblang, yakni gua vertikal yang berada di lembah Dusun Ngejring, Desa Gendayakan. Seperti telah diberitakan sebelumnya, luweng yang kemudian disebut Gua Jomblang-Ngejring itu telah dilakukan survei oleh tim dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta, dalam upaya pemanfaatan air yang terkandung di dalamnya yang menjadi salah satu program jangka panjang Tim TDP.

Survei pertama dilakukan pada Sabtu — Minggu (7-8 September 2019) untuk memastikan potensi air di dasar gua atau luweng. Yang setelah dua hari bekerja keras, tim berhasil menembus relung gua vertikal itu dan menemukan potensi air di kedalaman 180 meter. Kemudian, dilanjutkan dengan survei kedua, pada Sabtu – Minggu (14-15 September 2019) untuk mengambil contoh air yang akan diuji di laboratorium, serta untuk keperluan yang bersifat teknis terkait dengan konstruksi pemipaan dan enggenering.

 

Kembali pada perjalanan Padasuka.id, setelah menaiki areal perbukitan lalu menuruni lembah, sampailah kami di lokasi yang dituju. Agar lebih optimal dalam penelusuran, Ustadz Slamet mengajak turun ke areal bibir luweng yang berada di bawah balongan (semacam parit alami) di sisi tebing lembah. Walau medannya sangat membahayakan jika tanpa alat pengaman, dengan jalan merayapi tebing secara perlahan, akhirnya sampai juga di areal bibir luweng.

Nah, ketika tiba di areal yang dituju, pemandangannya sungguh menakjubkan. Selain ukiran alam yang dipahat curahan air pada batu beranika bentuk, udaranya pun terasa begitu sejuk. Satu dari sekian keunikan yang ada, terdapat bilahan batu yang seperti digergaji berbentuk vertikal berhadapan searah, pada bagian atasnya terdapat batu terjepit di antara kedua bilahnya. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top