Kabar

Menuju Pengangkatan Air Jomblang, Ketua Tim TDP Berburu Alat

Padasuka.id – Jakarta. Salah satu program jangka panjang Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk membantu ketersediaan air bersih di wilayah Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, yang menjadi langganan musibah kekeringan dalam setiap tahunnya, memasuki babak baru. Yakni, satu dari sekian luweng (gua vertikal) di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Paranggupito yang sebelumnya telah disurvei, diteliti, dan diujilaboratoriumkan oleh tim pelaksana teknis dari GAPADRI Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY), dalam waktu dekat ini, kandungan airnya akan diangkat ke permukaan demi kepentingan masyarakat. Dari hasil survei dan penelitian tim ITNY, kandungan air di bawah luweng yang kemudian disebut “Gua Jomblang Ngejring” itu, layak untuk dieksplorasi dan dikonsumsi.

Ketua Umum Padasuka KHR Syarif Rahmat, foto brsama di depan Posko Bantuan Air di Paranggupito

Mengingat posisi mulut gua yang berada di lembah serta kandungan airnya terdapat pada kedalaman 180 meter dari bibir gua, maka diperlukan peralatan yang memadai. Terkait hal ini, saat melakukan survei, Dosen Teknik ITNY, Sulaiman Tampubolon, ST, M.Eng, yang turun langsung ke dasar Gua Jomblang, telah melakukan studi lapangan serta telah merancang teknis pemompaan, pemipaan, dan hal-hal lain berkenaan dengan teknikal enggenring-nya.

Untuk memenuhi beberapa kebutuhan berkenaan dengan hal tersebut di atas, Ketua Tim TDP, Mohammad Wiyanto, ST, S.Pd, atau yang akrab disapa Gus Yayan, bersama sejumlah tim dari ITNY, berburu sebagian peralatannya ke Jakarta.

Gus Yayan (paling kiri) saat di toko mesin pompa air

Alhamdulillah, tiga buah pompa untuk menaikkan air dari kedalaman gua 180 meter bagi masyarakat Desa Gendayakan, Paranggupito, Wonogiri (Paling terdampak kekeringan) telah terbeli… Allah..” Demikian, ungkap Gus Yayan melalui sambungan WhatsApp ke Redaksi Padasuka.id, Kamis siang (3/9/2019).

Gus Yayan dan tim ITNY

Sebagai informasi tambahan, masyarakat desa di wilayah Kecamatan Paranggupito merupakan salah satu dari sejumlah warga negeri ini yang dalam setiap tahunnya selalu terdampak kekeringan. Sebagai wilayah karst yang berada di gugusan perbukitan kapur Gunung Sewu, tipologi daerahnya terdiri dari bebatuan yang susah untuk melakukan pengeboran tanah guna mendapatkan air, atau untuk menggali sumur sekalipun. Selama ini, sebagian besar dari mereka memanfaatkan air hujan yang ditampung di tandonan besar di rumah masing-masing atau di penampungan umum.

Sementara itu, upaya pemerintah menyalurkan air bersih melalui PDAM, sampai saat ini masih terbatas bagi masyarakat yang rumahnya dekat dengan jalan raya, dan saat kemarau panjang, debit airnya pun juga berkurang. Maka itu, untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat harus membeli air dari tangki penyedia jasa dengan kisaran harga antara 150.000 — 200.000/tangki berukuran 5000–6000 liter. Ini, bagi mereka yang memiliki uang atau ternak untuk dijual guna “ditukar” dengan air. Bagi yang tidak punya atau bagi mereka yang sudah renta? (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top