Kabar

Latar Belakang Heroik Hari Santri dalam Jum’at Kliwonan

Padasuka.id – Banjarnegara. Santri bukan hanya dikenal sebagai kaum sarungan, melainkan juga sebagai generasi penerus sistem pendidikan khas Nusantara. Dalam kata lain, sistem pembelajaran santri merupakan tonggak sejarah dunia pendidikan di negeri ini, namun selama bertahun-tahun keberadaannya dipandang sebelah mata oleh sistem kekuasaan yang menganut sistem pendidikan Barat. Padahal, para santri dan pondok pesantren memiliki andil besar dalam perjuangan merebut dan mempertahankan kemerdekaan republik ini. Bahkan, tidak sedikit pondok pesantren yang menjadi basis perjuangan kemerdekaan. Dari pesantren pula, lahir tokoh-tokoh nasional dan kaum intelektual. Demikian, ungkap Muhammad Ali Rahman saat mengisi acara Pengajian dan Doa Munajat Jum’at Kliwon di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Hidayah, Purwasaba, Mandiraja, Banjarnegara, Jawa Tengah, Jum’at (27/9/2019) yang lalu.

Suasana dalam acara Munajatan Jumat Kliwon di MTs Al-Hidayah

Acara yang dimulai dari pukul 14.00 WIB tersebut diawali dengan pembacaan “Kitab Munajat” secara berjamaah oleh semua siswa-siswi, para guru, dan wali siswa. Menurut pengajar di MTs ini, Gus Lukman, pembacaan kitab yang berisi kumpulan Wirid dan Doa-doa Al-Qur’an itu menjadi amaliah rutinan mereka. Selain setiap Jum’at Kliwon, atau selapanan, Kitab Munajat juga dibaca secara berjamaah setiap satu minggu sekali oleh para guru dan staf. Terkadang, dibaca secara berjamaah di rumah-rumah wali siswa jika di antara mereka ada acara.

Kembali pada bahasan Rahman, sebelum mengurai tentang Hari Santri Nasional, ia mengupas seputar pengertian Jum’at Kliwon, serta keutamaan berdzikir dan membaca Al-Qur’an. Setelah itu, penggiat Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) ini, menjelaskan latar belakang digagasnya Hari Santri Nasional (HSN) serta kisah heroik di balik tanggal dan bulan yang dipilihnya, yakni 22 Oktober.

Diungkapkan oleh Rahman, adanya HSN berawal dari gagasan Presiden ke-7 RI, Ir H Joko Widodo (Jokowi). Namun saat digagas, Jokowi mengusulkan 1 Muharram sebagai HSN. Selanjutnya, usulan tersebut direspon oleh berbagai pihak, intinya ada yang menerima dan ada pula yang menolak. Tidak terkecuali, respon juga datang dari organisasi keagamaan Islam terbesar, Nahdlatul Ulama (NU). Berkenaan dengan hal ini, NU merespon positif gagasan HSN tersebut yang kemudian menjadi salah satu bahasan dalam Musyawarah Nasional (Munas) Alim Ulama dan Konferensi Besar (Konbes) NU di Gedung PBNU, Sabtu-Minggu (1–2 November 2014). Hanya saja, PBNU mengusulkan agar HSN ditetapkan bukan pada 1 Muharram karena itu adalah hari kebanggaan bagi umat Islam di seluruh dunia. Sebaiknya, NU mengusulkan, agar HSN ditetapkan pada tanggal dan bulan yang memiliki sejarah penting bagi dunia santri yang berhubungan dengan perjuangan kemerdekaan negeri ini.

Rahman melanjutkan, setelah dua hari Munas dan Konbes NU berlangsung, di hari ke-2 (2/11/2014), salah satu poin yang direkomendasikan terhadap pemerintah, yakni pada poin ke-7, berbunyi: “PBNU menghimbau ide Presiden Jokowi mengenai Hari Santai, agar tidak ditetapkan pada 1 Muharram. Sebab 1 Muharram merupakan kebanggaan kaum muslimin seluruh dunia, sebaiknya ditetapkan pada 22 Oktober, sesuai dengan perjuangan para santri dalam mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia.

Nampaknya, atas usulan dari PBNU itu, Jokowi lalu merespon positif yang kemudian terbitlah Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 22 Tahun 2015 tentang penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri Nasional. Yang mana, Kepres tersebut ditandatangani Presiden Jokowi pada Kamis (15/10/2015).

Pada bagian berikutnya Rahman mengungkapkan, bahwa pada saat itu, tentara sekutu (NICA) yang diboncengi Belanda mendarat di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur. Walau sekutu berdalih untuk membantu pemulihan kondisi keamanaan, namun niat busuk mereka sudah tercium. Atas semua itu, Presiden Soekarno kemudian mengirim utusan menemui Rais Akbar PBNU, KH Muhammad Hasyim Asy’ari untuk bertanya apa hukumnya secara Islam membela negara medeka sekalipun itu bukan negara Islam. Dari sini, Kiai Hasyim lalu mengumpulkan konsul NU se-Jawa-Madura untuk melakukan musyawarah di HB NU (PBNU) di Jl Bubutan, Surabaya yang dilaksanakan dari 21–22 Oktober 1945. Kemudian, pada 22 Oktober lahirlah sebuah keputusan bahwa membela Negara Indonesia yang sudah merdeka adalah fardhu ‘ain –wajib bagi setiap warga negara yang sudah baligh dan sehat, lelaki ataupun perempuan. Dalam kata lain, jika sudah memenuhi unsur itu, jika tdak ikut berjuang maka haram hukumnya. Keputusan ini kemudian dikenal dengan istilah, “Resolusi Jihad” yang segera menyebar melalui jaringan santri dan pondok-pondok pesantren ke berbagai daerah di Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan sekitarnya.

Semangat Resolusi Jihad NU inilah yang selanjutnya menjadi pemantik pertempuran 10 November 1945 di Surabaya yang melibatkan semua elemen masyarakat, termasuk para kiai dan santri.

Bayangkan, Indonesia baru merdeka dua bulan sudah harus menghadapi pasukan sekutu yang terlatih secara khusus dengan persenjataan lengkap dan modern selama dua tahun di Australia. Sedangkan Indonesia, senjatanya hanya hasil rampasan dari tentara Jepang yang tidak seberapa. Selebihnya adalah senjata tradisional dan bambu runcing. Tapi berkat kegigihan dan keiklasannya dalam berjuang, Allah memberikan kita kemenangan. Selain itu, ada faktor lain yang tak kalah hebatnya, yaitu adalah kekuatan doa. Di medan laga para santri dan kiai bertaruh nyawa untuk mempertahankan kemerdekaan, di pondok-pondok pesantren, langgar-langgar, dan sebagainya, para santri yang tidak turut berperang, mereka mengamalkan doa bersama, beristighatsah, dan bermunajat untuk kemenangan pasukan Indonesia,” papar Rahman.

Maka itu, Rahman menyimpulkan sudah sangat tepat tanggal 22 Oktober dijadikan dasar penetapan HSN. Karena, hal itu menyimpan banyak pelajaran yang berisi tentang nilai-nilai nasionalisme, patriotisme, dan kearifan lokal dunia pendidikan ala Nusantara yakni santri dan pesantrennya.

Di bagian akhir Rahman menambahkan, dari petistiwa yang melatarbelakngi HSN ada yang disebut kekuatan do’a bersama. Terkait dengan doa, Rahman lalu mengelaborasi pada kegiatan Munajatan. Bahwa, dalam Kitab Munajat, banyak doa yang menjadi penyelesai persoalan pelik di masa para Nabi, termasuk di antaranya dalam melawan kezaliman hingga berakhir pada kemenangan para pembaca doanya. Oleh sebab itu, ia menghimbau agar semuanya tetap isikomah mengamalkan Munajat. (AF)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top