Kabar

Tangis Haru Warnai Naiknya Air Gua Jomblang Ngejring

Padasuka.id – Wonigiri. Di saat hari masih gelap pada Senin pagi, 7 Oktober 2019, di sebuah lembah di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Wononogiri, Jawa Tengah, sejumlah orang sedang menunggu penuh harap bercampur cemas akan naiknya air dari dasar gua vertikal atau masyarakat setempat menyebutnya ‘luweng.’ Seirama adzan Shubuh berkumandang keresahan pun semakin menerjang. “Kapankah air akan segera naik ke permukaan, sedang hari sudah mulai terang.”

Warga memasukkan air dari luweng yang baru diangkat

Tak lama kemudian, ujung pipa yang ditadahkan pada ember, bergetar lalu keluar air. Serentak semua yang ada di sisi lokasi itu melafalkan, “Alhamdulillah… Terima kasih Ya Allah…” Kalimat shalawat pun lalu terlantun. Segera mereka berwudhu’ secara bergantian dengan air yang baru naik dari perut bumi itu kemudian menunaikan shalat Shubuh berjamaah di atas pematang di alam terbuka. Ya, itulah gambaran detik-detik naiknya air di Gua Jomblang-Ngejring yang dikerjakan oleh tim dari Gapadri Mapala Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) hasil kerja bareng dengan Pedepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) dan Kelompok Masyarakat Desa Gendayakan (Pokmas Suka Tirta).

Suasana warga yang baru datang di pagi itu

Selang berapa waktu kemudian, matahari pagi mengintip dari balik bukit batu yang berdiri gagah di sekitar lokasi luweng. Bersama dengan itu cakrawala dihiasi awan berarak membuat suasana semakin teduh, yang terkadang pula, selang seling menghalangi cahaya matahari. Suasana alam sepertinya turut bahagia dengan upaya pengangkatan air perut bumi agar dapat dimanfaatkan penduduk yang menempati punggungnya.

Gus Yayan saat menuruni lorong gua

Seiring waktu berlalu, penduduk mulai berdatangan ke lokasi pengangkatan air luweng. Barisan masyarakat bermata sembab dengan bibir gemetar melafalkan hamdalah menjadi pemandangan yang mengharukan, seharu rasa hati mereka akan terangkatnya air yang menjadi dambaan msejak bertahun lamanya. Bersama dengan kedatangan masyarakat, tim yang berada di dalam gua, satu persatu mulai naik ke permukaan setelah semalaman menjadi penduduk perut bumi. Yang pertama sampai ke permukaan adalah Gus Yayan (Ketua Tim Tanggap Darurat PADASUKA/TDP), lalu disusul Gus Rori (Korlap Tim TDP), kemudian Sulaiman Tampubolon, ST, M.Eng (Dosen Mesin ITNY). Sedangkan beberapa tim teknik Mapala ITNY, masih berada di dalam gua menyelesaikan tugas.

Suasana pengerjaan dalam gua

Semakin lama semakin banyak masyarakat yang datang. Dan, secara bergantian mereka merasakan sejuknya air perut bumi yang terangkat. Ada yang mencuci muka sambil berdoa, ada yang mengusapkan pada beberapa bagian tubuhnya, ada yang minum, bahkan ada yang mandi. Tidak sedikit pula yang kemudian mengambil airnya, mulai dengan dimasukkan ke dalam botol sampai membawa ember. Lebih dari itu, malah ada beberapa orang ibu yang sengaja mengambil air untuk dijadikan obat. Menurutnya, air itu adalah air keramat yang ribuan tahun tersimpan di perut bumi dan tidak terangkat ke permukan, dan baru kali ini bisa diangkat. Karenanya, mereka memiliki keyakinan bahwa dalam air itu mengandung barokah yang oleh mereka bahasakan dengan keramat.

Gus Rori saat naik dari gua

Sulaiman Tampubolon saat tiba di atas setelah semalaman berada di dalam perut bumi dan langsung diterima oleh tim rescue Mapala

Ketika masyarakat Dusun Ngejring dan sekitarnya sebagian besar sudah berkumpul, selanjutnya mereka diminta berkumpul oleh tim eksplorasi. Di atas tanah tanpa alas mereka duduk bersila menghadap ke arah tim. Pada saat itu, atas nama PADASUKA dan tim, Gus Yayan menyampaikan berbagai hal terkait dengan upaya eksplorasi luweng mulai dari saat awal ditemukan, saat survei pertama dan kedua serta pada proses pengangkatan air. Ia juga memyampaikan, tidak sedikit rintangan yang harus dilalui selama proses berlangsung. Namun berkat keikhlasan dari semua yang terlibat, akhirnya semua rintangan itu bisa dihadapi dengan lapang dada. Ia pun mengapresiasi kegigihan tim dari Mapala ITNY yang terlibat, di mana mereka adalah orang-orang yang luar biasa. Mengingat rintangannya yang sangat luar biasa, bukan hanya waktu, tenaga, pikiran, dan keahlian, bahkan mereka harus bertaruh nyawa dalam proses tersebut. Dari semua itu, akhirnya kemurahan Allah SWT dicurahkan, kandungan air yang berada di perut bumi berhasil diangkat dan hari itu juga mereka bisa merasakan langsung. Mendengar paparan Gus Yayan, hampir dari semua warga yang hadir tidak dapat menahan rasa haru. Mereka sesenggukan, bahkan salah seorang bapak, tiba-tiba berteriak histeris karena tidak dapat menahan rasa harunya.

Seorang warga masyarakat mandi air luweng setelah berhasil dinaikkan

Gus Yayan kemudian menjelaskan langkah-langkah yang telah dilakukan, mulai dari teknik pemipaan tahap awal, serta pembelian sebidang tanah yang akan dijadikan tempat penampungan serta langkah berikutnya yang akan dilakukan. Ia pun berpesan kepada masyarakat agar mengikuti arahan dari tim dalam memanfaatkan air serta hal-hal lainnya yang menjadi kesepakatan antara tim eksplorasi dan Pokmas Suka Tirta.

Gus Yayan saat menyampaikan pesan kepada warga

Setelah penyampaian kata sambutan dari Sulaiman Tampubolon dan Gus Rori, acara ditutup dengan doa yang dipandu oleh Gus Yayan. Sepanjang doa dibacakan, masyarakat mengamininya penuh khusyu’ dan diwarnai dengan isak tangis. Dan, ketika acara disudahi, spontan masyarakat merapat ke arah tim untuk bersalaman. Sambil mengucapkan terima kasih, sebagian besar dari mereka pun terus menangis sebagai ekspresi keharuan. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top