Kabar

Menegangkan..!! Inilah Pengalaman Semalam di Perut Bumi

Padasuka.id – Wonogiri. Minggu petang hingga Senin pagi (6–7 Oktober 2019) adalah rangkaian hari yang bersejarah bagi Asrori Idris atau yang akrab disapa Gus Rori, seorang relawan yang selama ini banyak menghabiskan waktunya untuk membantu masyarakat di Wilayah Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah yang terdampak musibah kekeringan. Sejak Agustus 2019 yang lalu, ketika Pedepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) membentuk Tim Tanggap Darurat PADASUKA (TDP) untuk kekeringan di Paranggupito, Gus Rori ditunjuk sebagai Koordinator Lapangan (Korlap) Tim TDP yang bertugas mendistribusikan bantuan air bersih dan sembako terhadap warga yang membutuhkan. Dari tugas ini kemudian berkembang pada penelusuran akan keberadaan potensi air bersih di dasar luweng (gua vertikal) –atas permintaan kelompok masyarakat (pokmas) setempat. Singkatnya, seperti telah diberitakan di media ini, ditemukanlah luweng di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Paranggupito yang dimungkinkan menyimpan kandungan air bersih di perut buminya. Segera setelah Pokmas Suka Tirta Desa Gendayakan meminta untuk dilakukan penelusuran, Ketua Tim TDP, Kiai Mohammad Wiyanto, ST, S.Pd (Gus Yayan), atas persetujuan Ketua Umum PADASUKA, KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, menggandeng tim dari Gapadri Institut Teknologi Nasional Yogyakarta (ITNY) guna mengerjakan hal-hal teknis terkait dengan pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus itu.

Posisi mulut luweng (gua vertikal) di Dusun Ngejring

Kemudian, setelah dua kali tahapan dilakukan survei oleh tim dari Gapadri Mapala ITNY, Jumat (4/10/2019) memasuki tahapan yang ketiga, yaitu proses pengangkatan air dari kedalaman 180-an meter dengan memasang mesin pompa, tandon, pipa, dan sebagainya di beberapa titik di dalam luweng. Nah, pada tahapan ini, ketika memasuki hari ke-3, Minggu (6/10), Gus Rori juga turut memasuki lorong perut bumi itu. Namun sebelumnya, terlebih dulu ia dilatih oleh tim Mapala ITNY mengenai teknik turun ke lubang gua menggunakan tali khusus, berikut juga mengenalkan nama-nama peralatan yang dipakai serta beberapa kata sebagai istilah komando di saat proses turun-naik. Singkat cerita, Gus Rori yang kebagian jadwal turun setelah waktu Maghrib di hari itu, berhasil sampai di pit 1 lorong gua (luweng) pada kedalaman 150-an meter. Setelah semalaman berada di dalam gua, keesokan paginya, sekitar pukul 07.00 WIB ia berhasil kembali naik ke atas permukaan gua dengan selamat.

Dari kiri: Gus Yayan, Sulaiman T, dan Gus Rori

Selain Gus Rori dan tim teknis Mapala, saat itu, Dosen Mesin ITNY, Sulaiman Tampubolon dan Ketua Tim TDP, Gus Yayan, juga turun ke dalam gua. Namun keduanya adalah orang yang pernah menjadi aktivis Mapala, sehingga tidak ada kekhawatiran secara teknis.

Atas pengalaman pertamanya semalaman berada di perut bumi dengan proses turun naik yang tidak mudah, serta hal-hal lain terkait pekerjaan tim teknis eksplorasi, kepada Padasuka.id, Gus Rori menuturkan kisahnya.

Gus Rori saat dilatih menggunakan alat oleh tim Mapala

Seumur hidup baru kali ini saya masuk di dalam tanah kedalaman seratus lima puluh meter. Sewaktu saya mau turun dalam hati berkecamuk, jelas karena saya tidak punya ilmunya. Takut, jelas. Karena saya manusia. Tapi terdorong adanya hal-hal yang dipandang perlu saya untuk turun, sesuai dari hasil laporan-laporan suatu masalah di dalam. Bukan dalam arti saya bisa menyelesaikan masalah, karena semua kembali pada ridho dari Allah SWT,” ungkap Gus Rori lalu melanjutkan.

Gus Rori saat menuruni lorong gua

Namun setelah saya masuk di angka antara 30 meter, subhanallah… Beginilah kondisi di dalam gua. Allah.. Sedemikian agungnya memberi kegelapan. Di kegelapan itu ada sebuah rahasia besar dan ada sebuah mutiara, yang menurut orang Gendayakan air lebih bermakna dari mutiara. Dari itulah saya ikhlas segalannya untuk masuk ke dalam luweng, walau jujur sebenarnya yang paling mengerikan itu bisa terjadi pada diri pribadi saya.

Gus Rori saat tiba di pit 1 pada kedalaman 150 meter

Berikutnya, Gus Rori menyampaikan pada saat mana ia merasa tegang yang teramat sangat. Tuturnya, “Yang paling menegangkan adalah dari jam 9 malam sampai jam 7 pagi, itu di detik 6.58. Karena, lubang atas mulai kelihatan nampak, sudah pagi remang, susah bisa melihat dari kedalaman 150 meter. Subhanallah, begitu tingginya perasaanku berkata, ‘Ya Rob, bagaimana aku bisa lulus sampai atas dengan kemampuanku dalam menguasai alat sangat minim, dan aku harus naik, kalau tidak naik ya tidak mungkin karena alatnya ya hanya tali tidak mungkin dengan alat yang lain.’ Naik mati tidak naik ya mati. Akhirnya yang naik pertama Kiai Wiyanto. Dengan melihat remang-remang… Subhanallah.. Allah.. Jujur aku takut. Tapi Pak Dosen tahu-tahu nyeletuk, ‘Gus, tenang aja Gus, aman.’ Jujur aku seperti tersayat. Tapi aku lihat ke atas, Kiai Wiyanto masih bergelayutan. Takut sekali aku ketika tali sudah terkirim ke bawah. Dalam hati berkata, semuanya Allah. Kepada Allah saya serahkan semuanya. Dari diikat dengan tali dan diajarkan caranya saya tidak berhenti-hentinya membaca shalawat kepada Nabi dan sambil melihat ke atas tanpa sedikitpun berani melihat ke bawah. Sampai di atas aku sujud syukur telah diselamatkan. Seperti aku masuk di dunia yang baru lagi. ‘Allah lindungilah aku dan semua teman-temanku di bawah sana,’ kata hatiku sesampainya aku di atas.” (SM)

1 Comment

1 Comment

  1. Avatar

    sardi mustafa

    11 Oktober 2019 at 8:03 am

    Subhanallah sebuah pembelajaran yang luar biasa. Allah selalu sediakan kemudahan dibalik kesulitan, tinggal tekad kita untk mencari solusinya yang Allah telah sandingkan pada setiap kesulitan itu.

    Selamat untk Padasuka dan team Mapala
    Semoga menjadi amal jariyah yang akan mengantarkan mereka kepada sorganya Allah Ta’ala.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top