Kabar

Taburi Bumi Gendayakan dengan Sinar Munajat

Padasuka.id – Wonogiri. Seperti telah diberitakan sebelumnya, bahwa di Dusun Ngejring, Desa Gendayakan, Kecamatan Paranggupito, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah, sedang dilangsungkan upaya pengangkatan air dari dasar luweng (gua vertikal) yang kemudian disebut “Gua Jomblang-Ngejring.” Terhitung sejak Senin pagi, 7 Oktober 2019, upaya eksplorasi air untuk keperluan masyarakat yang dikerjakan oleh tim dari Gapadri Mapala ITN Yogyakarta bersama Padepokan Dakwah Sunan Kalijaga (PADASUKA) atas permohonan dari Pokmas Suka Tirta Desa Gendayakan tersebut, hasilnya telah dirasakan oleh masyarakat. Sebab, sejak kandungan air perut bumi itu berhasil dinaikkan ke permukaan, langsung dimanfaatkan oleh warga sekitar yang memang sangat membutuhkan air bersih akibat dampak kekeringan yang melanda. Walaupun fasilitas penunjang yang direncanakan belum rampung dikerjakan, namun masyarakat sudah bisa menikmati air perut bumi yang mereka tempati dengan disediakannya dua tandon besar, masing-masing berukuran 2000 liter.

Masyarakat mengambil air di tandon air hasil eksplorasi Gua Jomblang Ngejring

Selain upaya secara lahiriah dengan melibatkan tim ahli, upaya batiniah pun tidak ditinggalkan. Satu di antaranya dengan mengadakan pembacaan “Kitab Munajat Kumpulan Wirid dan Doa-doa Al-Qur’an,” secara berjamaah. Upaya ini tentu tidak kalah pentingnya, sebab semua bisa terjadi atas kehendak Allah SWT. Maka, kepada-Nya jualah semua dimuarakan. Dan, dengan kalam-kalam suci-Nya pula rasa syukur dihaturkan.

Pembacaan Kitab Munajat di sisi Gua Jomblang Ngejring, malam Jumat (10/10/2019)

Kamis malam (10/10/2019) untuk kesekian kalinya pembacaan Kitab Munajat berjamaah dilangsungkan di areal sekitar Gua Jomblang Ngejring. Kali ini, pembacaan kitab warid dan doa-doa Al-Qur’an susunan KHR Syarif Rahmat RA, SQ, MA, itu dipimpin oleh Cak Slamet, koordinator Posko Peduli Paranggupito yang juga sebagai Pengurus Barisan Ansor Serbaguna (Banser) setempat. Sejumlah masyarakat juga terlibat dalam upaya spiritual tersebut.

Pembacaan Kitab Munajat di SDN 1 Gendayakan

Pembacaan Kitab Munajat ini, pertama bertujuan sebagai ungkapan syukur kepada Allah SWT atas berhasilnya pengangkatan air dari kedalaman sekitar 180 meter di bawah luweng yang kini sudah bisa dinikmati oleh masyarakat. Kedua, dengan wasilah mutiara Al-Qur’an yang disusun AbI Syarif Rahmat ini, proses pengerjaan lanjutannya nanti bisa berjalan lancar, tidak ada hambatan apapun, terhindar dari musibah, aman, dan semuanya tetap satu hati. Terpenting juga, semoga kekeringan yang kerap melanda, ke depannya segera berakhir,” ungkap Slamet seusai memimpin pembacaan Kitab Munajat.

Slamet (kanan) sesaat akan memimpin pembacaan Kitab Munajat di SDN 1 Gendayakan

Di malam yang sama, sebelum di Gua Jomblang Ngejring, pembacaan Kitab Munajat berjamaah juga dilaksanakan di halaman Sekolah Dasar Negeri (SDN) 1 Gendayakan, Kecamatan Paranggupito.

Terkait pembacaan Kitab Munajat di SDN tersebut, menurut Muhammad Ali Rahman, penggiat PADASUKA dari Jakarta, dengan harapan yang sama. Yakni, berharap keberkahan dari Allah SWT agar semuanya terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Kecuali itu, lanjut Rahman, sebagaimana dalam Kitab Munajat terdapat doa untuk para pencari ilmu dan anak shaleh, dengan wasilah kalam-kalam suci-Nya itu diharapkan murid-murid SDN 1 Gendayakan kelak bisa tumbuh menjadi generasi yang jenius dan religius.

Bukan hanya di dua tempat tersebut di atas, Rabu malam (9/10/2019) pembacaan Kitab Munajat juga dilangsungkan di Dusun Gendayakan, yakni di makam seseorang yang diyakini sebagai tokoh yang pertama kali masuk dan babat alas Desa Gendayakan. Pembacaan Kitab Munajat di makam tua tanpa nisan itu, didampingi oleh tokoh agama setempat, Ustadz Slamet.

Pembacaan Kitab Munajat di makam sesepuh Gendayakan

Saat ini masyarakat Gendayakan kan sedang punya hajat besar, yaitu mengangkat dan memanfaatkan air perut bumi di Gua Jomblang Ngejring, maka sepatutnya kita ziarah, sowan kepada pendahulu desa ini, semoga almarhum bahagia, senang dengan apa yang kita lakukan ini. Dengan wasilah ini pula, semoga Allah SWT ridho serta mengabulkan semua hal yang menjadi harapan masyarakat di sini,” tutur Rahman seusai memimpin pembacaan Kitab Munajat di lokasi makam yang tidak terlalu jauh dari areal eksplorasi air perut bumi tersebut.

Ditanya apakah pembacaan Kitab Munajat yang menjadi amaliah khas jamaah PADASUKA itu nantinya akan dilaksanakan secara rutin di Desa Gendayakan? Rahman menjawab, “Untuk selanjutnya, kami serahkan kepada PADASUKA Solo Raya, karena wilayah ini masuk dalam daerah administrasi Kabupaten Wonogiri yang merupakan eks Karesidenan Surakarta yang kini disebut Solo Raya.

Masjid Baitirrahman tempat Majelis Munajat selapanan di Desa Kranding

 

Jadi untuk ke depannya, pembentukan Majelis Munajat di daerah ini, secara organisasi adalah kewenangan dari PADASUKA Solo Raya atau Jawa Tengah. Insya Allah nanti, Gus Yayan, sebagai Ketua PADASUKA DPW Jawa Tengah yang akan merancangnya, seperti apa dan bagaimana. Untuk di wilayah Kecamatan Paranggupito ini, bulan lalu Gus Yayan dan teman-teman telah membuka Majelis Munajat di Desa Kranding yang dipusatkan di Masjid Baiturrahman yang telah disepakati akan dilaksanakan selapanan sekali. Sedangkan pembacaan Kitab Munajat yang kami lakukan ini, sifatnya hanya insidentil saja. Ya, sekadar tabarrukan atas upaya eksplorasi air di Gua Jomblang Ngejring dengan harapan semuanya berjalan lancar, aman, dan berhasil secara maksimal,” pungkas Rahman. (SM)

Editor : M.A.R & Anuro

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

To Top